MENGKRITIK THE LITTLE MERMAID DENGAN SUDUT PANDANG FEMINISME PSIKOANALISIS
Oleh:
Julius Yunarto C.N (091003862)
Odino Da Costa (061003157)
The Little Mermaid
Kisah Ariel, seorang putri duyung berumur enam belas tahun, tidak puas dengan kehidupan bawah laut dan ingin tahu tentang dunia manusia. Dengan teman ikan terbaiknya, Flounder (ikan), Ariel mengumpulkan artefak manusia dan pergi ke permukaan laut untuk mengunjungi Scuttle burung camar, yang menawarkan hal lucu dan pengetahuan tentang kebudayaan manusia. Mengabaikan peringatan ayahnya (Raja Triton) dan tokoh pengadilan (Sebastian kepiting) bahwa hubungan antara manusia duyung dan manusia dilarang, Ariel masih rindu untuk menjadi bagian dari dunia manusia; akhirnya ia mengumpulkan barang-barang manusia yang di simpan di gua. Sementara Sebastian, yang ditugaskan untuk menjaga Ariel dan pastikan dia tidak mengunjungi permukaan kembali mencoba meyakinkan dirinya bahwa lebih baik hidup di bawah laut daripada di dunia manusia.
Suatu malam, Ariel dan Flounder melakukan perjalanan ke permukaan laut untuk menyaksikan sebuah perayaan untuk ulang tahun Pangeran Erik, dengan siapa Ariel jatuh cinta. Badai tiba-tiba, di mana semua orang berhasil melarikan diri dalam sebuah sekoci, kecuali Eric yang pergi dan menyelamatkan anjingnya Max, yang masih terjebak di kapal. Dia menyelamatkan Max tetapi hampir tenggelam namun diselamatkan oleh Ariel, yang menyeret dia ke pantai. Dia menyanyikan kepadanya, tetapi ketika ia bergerak bangun ia melihat suatu penglihatan. Dia menyelam ke bawah air ketika Max datang kepada Eric. Eric memiliki kesan samar-samar bahwa ia diselamatkan oleh seorang gadis dengan suara yang indah, ia berjanji untuk mencarinya, dan Ariel bersumpah untuk mencari cara untuk bergabung dengan Eric.
Triton menemukan suatu perubahan pada Ariel, yang terang-terangan mabuk cinta. Triton bertanya kepada Sebastian tentang perilaku Ariel, selama itu Sebastian sengaja mengungkapkan insiden dengan Eric. Triton mati-matian menghadapi Ariel dalam gua, menggunakan trisula untuk menghancurkan koleksi harta manusia. Setelah Triton pergi, sepasang belut, Flotsam dan Jetsam, melihat Ariel menangis dan meyakinkan bahwa ia harus mengunjungi penyihir lautan, Ursula, yang konon bisa membuat semua impiannya menjadi kenyataan.
Ursula membuat kesepakatan dengan Ariel untuk mengubah dirinya menjadi manusia selama tiga hari. Ariel harus menerima “ciuman cinta sejati” dari Eric; jika tidak, dia akan mengubah Ariel kembali menjadi putri duyung pada hari ketiga. Sebagai pembayaran untuk kaki, Ariel harus menyerahkan suaranya kepadaUrsula dan di simpan kedalam kerang yang ia kenakan sebagai liontin. Ekor Ariel berubah menjadi kaki manusia ,tetapi suara indah Ariel hilang (bisu) dan Sebastian dan Flounder menyeretnya ke permukaan.
Eric dan Max(anjing) menemukan Ariel di pantai. Dia awalnya curiga bahwa dia adalah orang yang menyelamatkan hidupnya, tetapi ketika dia mengetahui bahwa dia tidak bisa berbicara, Erik beranggapan bahwa Ariel bukan wanita yang menyelamatkan dia waktu itu. Akhirnya Ariel menghabiskan waktu bersama Eric, dan pada akhir hari kedua, mereka hampir berciuman tetapi dihalangi oleh Flotsam dan Jetsam. Ursula mengambil penyamaran seorang wanita muda yang cantik bernama “Vanessa” dan muncul darat bernyanyi dengan suara Ariel. Eric mengakui lagu, dan dalam penyamaran, Vanessa / Ursula melemparkan mantra hipnotis dari pesona pada Eric untuk membuatnya melupakan Ariel.
Keesokan harinya, Ariel menemukan bahwa Eric akan menikah dengan Ursula yang menyamar di atas kapal. Dia menangis dan tertinggal ketika pernikahan. Scuttle menemukan bahwa Vanessa adalah Ursula yang menyamar, dan menginformasikan kepada Ariel. Ariel dan Flounder mengejar pernikahan, Sebastian menginformasikan Scuttle Triton dan ditugaskan untuk “tunda pernikahan.” Dengan bantuan dari berbagai hewan, cangkang nautilus sekitar leher Ursula rusak, mengembalikan kembali suara Ariel. Menyadari bahwa Ariel adalah gadis yang menyelamatkan hidupnya, Eric bergegas untuk menciumnya, tapi matahari terbenam dan Ariel mengubah kembali menjadi putri duyung. Ursula beralih ke bentuk sejati dan dia menculik Ariel.
Triton muncul dan menghadapi Ursula, tetapi tidak dapat menghancurkan Ursula karena Ia kontrak dengan Ariel. Triton memilih untuk mengorbankan dirinya sendiri untuk putrinya, dan berubah menjadi polip. Ursula mengambil mahkota dan trisula, yang rencananya dari awal. Kemudian, setelah melihat bahwa Ariel benar-benar mencintai Eric dan bahwa Eric juga menyelamatkan dirinya dalam proses, Triton berubah pikiran dan rela dia dari putri duyung menjadi manusia dengan menggunakan trisula. Ia berlari ke pelukan Eric, dan dua akhirnya ciuman. Ariel menikah Eric di sebuah pernikahan di mana para manusia dan duyung hadir.
Analisis Ariel “The Little Mermaid” dalam sudut pandang Feminisme Psikoanalisis.
Landasan Teori :
Feminisme Psikoanalisis dan Gender
v Percaya bahwa penjelasan fundamental atas cara bertindak perempuan berakar dari psike perempuan, terutama dalam cara pikir perempuan.Berdasarkan konsep Freud, seperti tahapan Oedipal dan Oedipus.
v Feminis gender berpendapat bahwa mungkin ada perbedaan biologis dan juga perbedaan psikologis, atau penjelasan cultural atas maskulinitas laki-laki dan feminitas perempuan.
v Feminis Gender menyimpulkan bahwa perempuan harus berpegang teguh pada feminitas dan laki-laki harus melepaskan bentuk ekstrim dari maskulinitas.Etika kepedulian(ethics of care) feminis harus menggantikan etika keadilan(ethics of justice) maskulin.
Akar Feminisme Psikoanalisis : Sigmund Freud
Menurutnya, anak-anak mengalami tahapan perkembangan psikoseksual yang jelas dan gender dari setiap orang dewasa adalah hasil dari bagaimana ia mengatasi tahapan ini. Maskulinitas dan feminitas, dengan perkataan lain, adalah produk pendewasaan seksual.Dalam buku Three Contributions to the Theory of Sexuality, Freud mendiskusikan tahapan seksual pada masa bayi.
Kritik Feminis terhadap Freud
v Betty Friedan, gagasan Freud dibentuk oleh kebudayaan ‘Victorian’. Dia terganggu oleh gagasan Freud atas determinisme biologis bahwa “anatomi adalah takdir” berarti peran reproduksi, identitas gender, dan kecenderungan seksual perempuan ditentukan oleh ketidakadaan penis pada perempuan, dan setiap perempuan yang tidak mengikuti jalan yang ditentukan oleh alam adalah “tidak normal
v ”Friedan menolak metodologi yang digunakan Freud dan “pengajegan” Freud atas seks/jenis kelamin, dengan mendorong perempuan untuk beranggapan bahwa ketidaknyamanan serta ketidakpuasan perempuan berasal dari ketidakadaan penis saja, dan bukannya status sosial ekonomi serta budaya yang diuntungkan yang diberikan pada laki-laki.
v Shulamith Firestone mengklaim pasivitas seksual bukanlah suatu hal yang alamiah, melainkan semata-mata hasil sosial dari kebergantungan fisik,ekonomi,emosional perempuan pada laki-laki.
Psikoanalisis dalam arah Feminis : Menolak determinisme biologis freud.
Alfred Alder, Karen horney, dan Clara Thompson (psikoanalisis feminis awal) telah merasa yakin bahwa identitas gender, prilaku gender, serta orientasi seksual perempuan dan laki-laki bukanlah hasil dari fakta biologis. Sebaliknya, kesemua itu merupakan hasil dari nilai-nilai sosial. Bahwa biologi perempuan bukanlah takdir, kekurangan akan penis menjadi penting hanya karena masyarakat lebih cenderung mengistimewakan laki-laki daripada perempuan. Ketiga teoris ini membantu memberdayakan perempuan.
Pembahasan Analisis :
Ariel merupakan gadis kecil (putri duyung) yang tumbuh di dalam kerajaan dasar laut, dengan segala proses sosialnya di kerajaan tersebut, ia merasa tidak puas akan apa yang dimilikinya dan kehidupannya. Lalu ia menginginkan tubuhnya (biologis) berubah menjadi seorang manusia, hidup sebagai manusia dan memiliki sepasang kaki, serta mendapatkan laki-laki pujaannya yaitu (Erik). Dalam sudut pandang feminisme psikoanalisis ini kami menganalisis, bahwa seorang anak kecil (Ariel) akan bertanya-tanya terhadap perkembangan tubuhnya secara biologis di sebuah lingkungannya. Anak-anak mengalami tahapan perkembangan psikoseksual yang jelas dan gender dari setiap orang dewasa adalah hasil dari bagaimana ia mengatasi tahapan ini. Jadi analisis kami dalam film dan tokoh Ariel ini, bukan membahas perbedaan biologis dan gender antara laki-laki dan perempuan (secara harafiah). Tetapi konteks dalam analisis tokoh yang kami angkat, dimana seorang Ariel yang menginginkan perubahan tubuh dan hidupnya, difaktori oleh sosial lingkungannya bukan psikis. Film The Little Mermaid secara langsung menampilkan tindakan kekuasaan regim kebenaran menentukan tubuh perempuan yang ideal yang sesuai dengan pandangan laki-laki atau budaya patriarki.
Dalam kekuasaan regim kebenaran kita bisa melihat bagaimana Ariel yang disaingi oleh Ursula dengan cara menyamar ketika terjadi kesepakatan dalam perjuangan untuk menjadi normal sesuai dengan harapan manusia normal yang di wakili oleh seorang laki-laki (Eric). Dua perempuan yang bersaing tersebut ini dapat mewakili kritikan Jacques Derrida terhadap tatanan simbolik terutama mengenai: “falosentrisme, keutamaan falus, yang mengkonotasi suatu dorongan uniter terhadap satu tujuan yang dianggap dapat di capai;”[1] namun pada kenyataanya setiap perempuan mempunyai imajinasi seksual yang berbeda-beda untuk di praktekkan dalam realitas, tidak semua perempuan memuja falus (laki-laki) namun dalam film ini perempuan di tampilkan seolah-olah mewakili keinginan manusia perempuan secara kesuluruhan. film ini tetap berada pada posisi status quo dalam mendukung asumsi Freud mengenai kecemburuan perempuan terhadap penis kemudian akibatanya adalah keharusan identitas seksual yang pokok jelas dan meyakinkan,[2] yang menyeret pandangan manusia terhadap seksulitas manusia kedalam “oposisi biner fundamental.”[3]
Status quo atas tubuh perempuan yang baik Dan jelek juga sangat tampak dalam film ini yang mana tubuh perempuan antagonis adalah seorang yang berpostur tubuh gendut sementara tokoh antagonisnya adalah perempuan yang bertubuh langsing yang mana ikut membangun sebuah pandangan sosial atas tubuh perempuan yang ideal dan yang tidak-ideal dalam masyarakat patriarki Dan budaya kapitalisme yang selalu mengobjektifikasikan perempuan atau mengutuk perempuan sebagai manusia kelas dua yang harus di ataur sesuai dengan pandangn laki-laki yang menimbulkan banyak kekacauan dan merugikan perempuan itu sendiri maupun ketidak sadaran laki-laki yang mana tidak pernah menjadi manusia yang dewasa tetapi tetap menjadi seorang bayi yang selalu berniat untuk mengkuras segala sesuatu yang berkaitan dengan perempuan.
Filem ini seolah-olah menampilkan sisi keberanian perempuan atas kesadaranya mengenai diri (perempuan) yang bukan hanya menjadi objek tetapi menjadi subyek yang sadar bahwa dirinya tidak dapat dimasuki sehingga harus muncul ke permukaan laut untuk menikahi laki-laki, tampaknya disini ada perjuangan perempuan tetapi perjuangan tersebut gagal karena tetap ada bantuan laki-laki dan dominasi laki-laki yang tidak bisa luput dari kehidupan perempuan dan laki-laki tetap menjadi bocah; “infantil, hasil dari nafsu tidak alamiah ibunya, adalah representasi laki-laki dari kekuatan yang tidak berpikiran…”[4]
Tubuh perempuan yang dipatolgikan, yang tidak diinginkan oleh asumsi laki-laki yang telah terwakili oleh psikoanalisa-nya Freud memunculkan ketakutan bagi perempuan agar tetap berusaha untuk menjadi yang ideal. Ursula yang bertubuh gendut tidak berani untuk menunjukkan diri apa adanya kepada Eric, manusia yang jauh dari dunia di dasar laut. Dia harus mengorbankan sesama-perempuan untuk meraih keinginan atas tubuh laki-laki sementara Ariel menjadi korban karena kinginan yang sama pada tubuh laki-laki. Untuk meraihnya perempuan harus menyamar sesuai keinginan laki-laki, Eric merindukan suara merdu dari perempuan putri duyung sementara Ursula tidak memiliki suara tersebut namun dia adalah seorang nenek sihir di dasar laut yang mempunyai kekuatan untuk mengapai impiannya, selain itu Ariel yang mengantungkan nasibnya pada trisula-nya Triton untuk mengubahnya menjadi manusia murni agar bisa menikah dengan Eric.
Perempuan digambarkan sebagai mahkluk yang tidak bisa akur dan laki-laki muncul untuk menyelsaikan masalah yang terjadi diantara perempuan, tetapi ketika kita melihat secara teliti, sumber masalahnya adalah bukan pada perempuan tetapi konstruksi sosial mengenai laki-laki yang di nomor satukan dalam hidup itulah yang menjadi sumber kekacauan Dan dalam realitas maupun film ini; perempuan tetap menjadi korban, menjadi korban atas relasi heterosexisme yang di yang diyakini masyarakat alat reproduksi (generasi manusia) dan tubuh perempuan tetap saja menjadi mesin untuk melanjutkan ketergantungan pada laki-laki. Perempuan tetap di control seperti Ariel yang dilarang oleh Triton untuk ke permukaan laut, perempuan yang harus menjadi normal secara fisik; putri duyung yang harus memiliki kaki atau Ursula yang harus menyamar sebagai perempuan dengan tubuh ramping dan lain-lain yang semuanya hanyalah imaji laki-laki mengenai tubuh yang ideal.
Dalam realitas keseharian, sebagian kaum perempuan berusaha keras agar tubuh mereka sesuai dengan ikon-tokoh protagonist dan menimbulkan rasa benci terhadap tubuh yang dianggap tidak normal dan kaum kapitalis mengubah cara pandang ini menjadi sesuatu yang bisa di konsumsi Dan pada akhirnya merugikan kaum perempuan itu sendiri, yang telah bersedia untuk mengikuti semua cara pandang yang di tawarkan dalam masyarakat dengan demikian cara pandang laki-laki (patriarki) yang tidak di kritisi ini secara langsung “berfungsi untuk mengamakankan dominasi modal ekonomi, politis maupun ideologi yang berkelanjutan.”[5]
Untuk menjelaskan pernyataan di atas alagkah baiknya kita litah contoh real dalam masyarakat dimana kapitalisme bersaing dengan ketat untuk merain tubuh perempuan sesuai dengan imajinasi laki-laki yang mendominasi, misalnya perempuan gendut yang harus ikut die agar tubuhnya berubah menjadi normal dalam arti tubuh yang ramping karena tubuh gendut itu tergolong dalam patologi yang tidak selalu berkaitan dengan masalah medis tetapi lebih pada masalah konstruksi sosial atas tubuh yang tergolong dalam dunia kecantikan yang dianggap nomor satu atau yang ideal. Namun para feminis aliran psikoanalisa tidak akan hanya diam tetapi melawan ketidak nyamanan bagi perempuan secara emosional tersebut. seperti kesimpulan pada hasil penelitian yang mengatakan; “psikopatologi atau gangguan mental ditemukan pada individu gemuk, maka itu bukanlah penyebab kegemukan. Psikopatologi itu lebih sebagai akibat dari prasangaka dan diskriminasi terhadap orang-orang gendut.”[6]
Kesimpulan
Normalisasi manusia dalam psikoanalisa Freud telah memporak porandakan kehidupan manusia yang mana seharusnya tidak ada dominasi antar manusia kini menjadi maslah yang sangat krusial dan sangat pelik untuk di selesaikan karena kebenaran palsu atau hal yang hanya sebatas asumsi yang mana telah mengakategorisasikan manusia ke dalam relasi dikotmi otoriter yang di produksi dan direproduksi yang bertujuan untuk mendominasi perempuan. Perempuan sampai saat ini secara garis besar masih berada di ranah subordinasi karena tatanan simbolik yang di produksi dan di reproduksi adalah sangat bias dimana aturan interpretasi dan normalisasi yang tersedia bersifat otoriter dan mendominasi dalam hal ini adalah filem the little mermaid yang tetap mempertahankan status kekuasaan laki-laki atas tubuh perempuan walapun dalam filem tersebut perempuan kelihatan sudah berusaha keras untukeluar dari dominasi laki-laki tapi tetap saja jatuh ke dalam persoalan yang sama yakni normalisasi; dimana seorang perempuan harus menikah dengan seorang laki-laki. Lalu perempuan yang tidak akan menikah dengan laki-laki dianggap tidak normal. Filem ini adalah sumber yang tersedia untuk tetap memuja kekuasaan laki-laki dan kekuasaan tersebut di legitimasikan sehingga manusia yang tidak hanya heterosex dianggap menyimpang atau tergolong dalam ranah patologi karena dominasi heteronormativitas dalam masyarakat patriarki. Di ranah ekonomi, asumsi Freud tersebut di reproduksi dan di jual kepada khalayak di seluruh dunia melalui film the little mermaid yang kemudian menjadi keyakinan untuk di konsumsi dan memperkaya kaum kapitalis dan merugikan kaum perempuan yang tidak bisa mengkritisi konten dalam media masa (filem the little mermaid) sehingga menerimanya secara gamblang dan tak henti-hentinya melakukan peniruan dengan mengikuti diet atau pola makan yang di rancang khusus untuk perempuan yang inggin bertubuh ramping. Dalam arti bahwa asumsi psikoanalisa telah mencuptakan sebuah larangan yang harus di takuti oleh perempuan dan di paksa untuk tunduk pada kekuasaan laki-laki yang kemudian di olah menjadi sebuah kekayaan bagi kaum laki-laki tertentu saja.[7]
Penutup
Karena filem adalah sebuah media yang menyampaikan pesan yang isisnya adalah (propaganda) ideologi yang berkuasa (dominan) pada saat ini yang cukup meresahkan, maka perlu adanya media literacy mengenai kesetaraan gender agar kaum perempuan maupun kaum laki-laki bisa sadar bahwa kecantikan atau kecemburuan yang sengaja di ciptakan adalah penjajahan manusia secara keseluruhan dalam arti telah memunculkan banyak kekacauan di dalam kehidupan sehari-hari kita, dimana pihak segilintir orang telah mengambil keuntungan dari kekacaun tersebut dalam hal ini korporasi perfileman pada umunya dan khususnya Walt Disney.
DAFTAR PUSTAKA
- Dominic Strinati. (2009). POPULAR CULTURE: Pengantar Menuju Teori Budaya Populer. .Yogyakarta: AR-RUZZ MEDIA
- Moh Yasir Alimi. (2004). Dekonstruksi Seksualitas Poskolinoial: Dari wacana Bangsa Hingga Agama. Yogyakarta: LKiS
- Rosemarie Putnam Tong, FEMINIST THOUGHT. (2008). Yogyakarta: JALASUTRA
- Syarifah Rosita,Gendut Itu Cantik. (2008).Yogyakarta: Ayyana
[1] Rosemarie Putnam Tong, FEMINIST Thought (Yogyakarta: JALASUTRA, 2008), P.290
[2] Foucault dalam Moh Yasir Alimi, Dekonstruksi Seksualitas Poskolinoial: Dari wacana Bangsa Hingga Agama (Yogyakarta: LKiS, 2004), p. 46
[5] Dominic Strinati, POPULAR CULTURE: Pengantar Menuju Teori Budaya Populer (Yogyakarta:AR-RUZZ MEDIA, 2009), p.100
[6] Syarifah Rosita,Gendut Itu Cantik (Yogyakarta: Ayyana, 2008), p. 140
[7] Laki-laki tertentu saja karena sebagian besar dari laki-laki yang ada di masyarakat tidak mendapatkan keuntungan dari kelicikan system pasar yang telah mempermaikan tubuh perempuan.