Tinggalkan Komentar

SMS DENGAN PETRA:31:03:2012/01:04:2012

SMS DENGAN PETRA:31:03:2012/01:04:2012

SMS DENGAN PETRA:31:03:2012/01:04:2012

 

(ada sms paling awal yang terpkasaku hapus karena sudah penuh kotak masuk/aku akan tunggu maraca di gangan samping burjo selatan jembatan layang )

 

P: bro, kalian malam ini main dimana? Kangen deh wahaha

Pe: oks.. q ksna,, nti klo dh masuk gang kmna ge?/22;15

P: aku tunggu di gang saja

Pe: iya…kan q gtw kos mu

P: udah sampai dimana choy. Kalau masih jauh aku mandi dulu, sumuk abis jalan dari kampus ke kos

Pe: ok nich gi otw/22:23

P: ajak juga bro Rico

Pe: ok gw ama rico nich!/22:26

Pe: nich ru d’jec/22:37

Pe: aku dah nyampe nich!

P: ok wait me there bro

P:kalian dimanadi Indomaret kan?

Pe:Ya d’indomaret/22:24

P: aku didepan indomaret

Pe: Posisi lo dmana?/22:46

P;aku di depan Indomaret, kalian ke Indomaret yang ada di tikungan jembatan layang kan?. Aku duduk di depan

Pe: Ok gw ksitu/22:48

Tinggalkan Komentar

Dia dan saya yang bertemu kembali di kala pasungan relasi runtuh

Dia dan saya yang bertemu kembali di kala pasungan relasi runtuh

 

Dia yang sudah lama aku benci tapi kangen karena kasihan terpasung oleh relasi yang di dominasi oleh tidak adanya kesepakatan bersama di antara dia dan pacarnya. Terakhir kali aku mengajaknya ke Meces, dia sangat takut dengan anjing tapi tadi saya sempat Tanya bahwa dia sudah tidak takut anjing lag.

       Setiap kali ke meces turun di depan warnet Teranet di km 14 setelah kampus UII, pengen sekali ke kosnya tetapi tetap tidak bisa karena dia sudah punya pacar, pacaranya adalah seorang aktivis kesehatan yang saya kenal sudah lama tapi baru tahu bahwa dialah kekasihnya: mungkin karena kekasihnya itu aktivis penangulangan HIV/AIDS, dia diharuskan untuk hanya berhubungan denganya tanpa keterlibatan orang lain karena takut akan penularan HIV/AIDS.

      Yang menjadi masalah adalah dia adalah seorang bisex yang mana membutuhkan kekasih perempuan juga bukan hanya kekasih laki-laki tetapi sang aktivis tidak menerima kalau dia pacaran dengan perempuan, aktivis ini sudah meyakini dan focus pada orientasi seksnya yang homoseksual dan punya keinginan untuk monogamy tanpa hasil tetapi si aktivis sudah adopsi anak karena dia meyakini bahwa dia tidak ada niat untuk membangun sebuah keluarga dengan seorang perempuan atau membangun keluarga poliamor, semunya di tolak, si Bara tidak menerima penolakan itu akhirnya maraca putus dan malam ini Bara bisa ketemu dengans aya lagi. Aku tergila-gila dengan dia karena permainan yang kami sepakati bersama hampir menyerupai kesepakatan permainan lidah yang pernah saya alami dengan seseorang yang hantinya telah membeku di daratan Eropa. Ah Eropa bkanya sudah sangat biasa untuk menemukan kebebasan di sana tapi pasti kenikmatannya akan beda sekali ketika surga tidak bergairah lagi untuk memulai petak umpet. Dunia sembunyi-sembunyi di dalam kandang LGBT kadang asyik juga tapi ketidak asyikkanya yang selalu mendominasi sehingga kenikmatan yang hanya terjadi dalam setengah jam saja sudah menjadi luar biasa karena tidak terbiasa untuk menikmati tubuh sesama secara berlebihan dan itu yang aku mau rasakan di tubuh hati yang sudah membeku jika saya bisa ke Eropa dalam waktu terdekat ini .arghhh….

       “bro, aku sangat kangen kamu,” “sama aku juga kangen kamu.” hampir kalimat tersebut di lantukan berulang-ulang dalam bisikan di saat pori-pori kehausan akan kehangatan kulit sesama yang sudah lama dirindukan. Kini waktu tengelam di dalam mulut, di mainkan oleh lidah, bibir, kadang-kadang kecupan di bagian-bagian tubuh yang sudah lama terbuka kesensitifanya kepada satu sama lain. Lagu-lagu dari Institut-A mengalun sepanjang kali-kali keringat yang menyusuri dahi-dahi yang tak berkerut lagi. Lagu di dalam dunia banjir keringat tampak sangat nikmat, ”bro, lagunya mati,” ”tidak, itu hanya berjeda”. Keudua lidah keluar dari kedua mulut tersebut, kini saatnya untuk mencari mangsa, buka pada penis, posisi 69 agak membosan’kan, telinga, puting, ketiak sama nikmatanya ketika di sentuh oleh sang lidah yang mencucurkan ludah, semunya kini bersatu ludah, keringat tetapi sperma belum saatnya untuk diundang untuk ikut membanjiri kedua tubuh yang sedang mencari kenikmatan yang terlarang oleh kaum yang hanya mau punya anak alias beternak diri. Apa yang terjadi ketika hubungan penis dan vagina tidak menjadi trend lagi, untuk punya anak sekarang tidak perlu tubuh yang bervagina atau yang punya penis, banyak anak terlantar yang bisa di pungut untuk menjadikan anak yang di luar kebiasaan karena orangtuanya adalah kumpulan homoseksualitas yang hanya suka kebahagiaan tetapi punya tanggung jawab yang besar untuk merawat-nya. Atau bisa mencari teman yang bisa menymbangkan sperma atau ovumnya, biarkan keduanya saling mebuahi tampa harus memaksakan diri untuk menjadi normal atau menjadi tidak normal hanya karena kenikmatan yang di monopoli oleh kaum yang berkuasa. Teman saya Bara, malam ini mengatakan dia mau menjadi polisi tahun depan, berarti di asrama kepolisian akan bertambah lagi satu bisex yang bisa menikmati tubuh para polisi yang sakit alias gays/lesbian in the closet. Mereka sakit karena ketakutan mereka sendiri.

   Dia datang dan membawa roti bakar, saya belum makan malam tapi saya tidak lapar, dia juga membawa sebungkus Djarum filter yang 16 batang, aku heran kenapa dia membawa rokok sebanyak itu untuk saya tapi dia mengatakan bahwa dia membua roko sebanyak itu sebagai tanda berteman kembali dan sekaligus minta maaf ketika dia keasyikan di dalam dunianya ang di dominasi oleh pacaranya dan cuek sms-sms saya yang ku kirim setahun yang lalu sebelum berhenti, dan kini dia mengaku apa yang terjadi, pacarnya itu aku kenal, tadinya kukira seorang aktivis tidak akan meperketatkan relasi tetapi ternyata dimana-mana aktivis hanya bisa monogami dan tidak bisa melampuai sistem tersebut untuk hidup bersama-sama tanpa meperhatikan jenis kelamin tetapi menikmatinya dengan santai bersama-sama membangun keluarga dalam satu keluarga yang rame-rame, asyik ketika melihat filem poliamor yang selalu nongol di otak ini.

      Ketika seorang apoteker belajar di kampusnya tetapi pihak kampus melarang untuk mengkampayekan isu HIV/AIDS adalah sesuatu sekali hanya kerana kampus yang menganut agama tertentu, ngapain belajar untuk mengetahui penyebab munculnya virus-virus sudah menjadi endemik yang siap sedia untuk memakan tubuh manusia, ahhh HIV/AIDS monster yang tidak kelihatan dan membuat banyak orang jadi ketakutan hingga melarang tubuh orang lain untuk mendapatkan kenikmatan dari sumber kenikmatan yang berbeda di dalam dari tubuh yang lain. Ketaktan selalu memunculkan dominasi dengan demikians aya tidak akan pernah takut lagi akan hidup yang sangat aku nikamtai ini; nikmat bukan berarti semunya baik-baik saja tetapi ketidakberdayaan juga harus dinikmati kala keberuntungan menghadang dengan penuh kemesuman yang tersirat di ujung penis yang sangat ingin di bebaskan ke dalam vagina, mulut atau anal taua dengan bantuan busa sabun di kamar mandi dengan lima jari yang selalu setia mengocok atau pelicin yang sudah tersedia di dalam toples seperti peneydiaan permen yang harus sekali-sekali di nikmati kelicikannya yang tidak berbisa.

Tinggalkan Komentar

MENGKRITIK THE LITTLE MERMAID DENGAN SUDUT PANDANG FEMINISME PSIKOANALISIS

MENGKRITIK THE LITTLE MERMAID DENGAN SUDUT PANDANG FEMINISME PSIKOANALISIS

 

Oleh:

 

Julius Yunarto C.N (091003862)

Odino Da Costa (061003157)

 

 

The Little Mermaid

 

Kisah Ariel,  seorang putri duyung berumur enam belas tahun, tidak puas dengan kehidupan bawah laut dan ingin tahu tentang dunia manusia. Dengan teman ikan terbaiknya, Flounder (ikan), Ariel mengumpulkan artefak manusia dan pergi ke permukaan laut untuk mengunjungi Scuttle burung camar, yang menawarkan hal lucu dan pengetahuan tentang kebudayaan manusia. Mengabaikan peringatan ayahnya (Raja Triton) dan  tokoh pengadilan (Sebastian kepiting) bahwa hubungan antara manusia duyung dan manusia dilarang, Ariel masih rindu untuk menjadi bagian dari dunia manusia; akhirnya ia mengumpulkan barang-barang manusia yang di simpan di gua. Sementara Sebastian, yang ditugaskan untuk menjaga Ariel dan pastikan dia tidak mengunjungi permukaan kembali mencoba meyakinkan dirinya bahwa lebih baik hidup di bawah laut daripada di dunia manusia.

Suatu malam, Ariel dan Flounder melakukan perjalanan ke permukaan laut untuk menyaksikan sebuah perayaan untuk ulang tahun Pangeran Erik, dengan siapa Ariel jatuh cinta. Badai tiba-tiba, di mana semua orang berhasil melarikan diri dalam sebuah sekoci, kecuali Eric yang pergi dan menyelamatkan anjingnya Max, yang masih terjebak di kapal. Dia menyelamatkan Max tetapi hampir tenggelam namun diselamatkan oleh Ariel, yang menyeret dia ke pantai. Dia menyanyikan kepadanya, tetapi ketika ia bergerak bangun ia melihat suatu penglihatan. Dia menyelam ke bawah air ketika Max datang kepada Eric. Eric memiliki kesan samar-samar bahwa ia diselamatkan oleh seorang gadis dengan suara yang indah, ia berjanji untuk mencarinya, dan Ariel bersumpah untuk mencari cara untuk bergabung dengan Eric.

Triton menemukan suatu perubahan pada Ariel, yang terang-terangan mabuk cinta. Triton bertanya kepada Sebastian tentang perilaku Ariel, selama itu Sebastian sengaja mengungkapkan insiden dengan Eric. Triton mati-matian menghadapi Ariel dalam gua, menggunakan trisula untuk menghancurkan koleksi harta manusia. Setelah Triton pergi, sepasang belut, Flotsam dan Jetsam, melihat Ariel menangis dan meyakinkan bahwa ia harus mengunjungi penyihir lautan, Ursula, yang konon bisa membuat semua impiannya menjadi kenyataan.

Ursula membuat kesepakatan dengan Ariel untuk mengubah dirinya menjadi manusia selama tiga hari. Ariel harus menerima “ciuman cinta sejati” dari Eric; jika tidak, dia akan mengubah Ariel kembali menjadi putri duyung pada hari ketiga. Sebagai pembayaran untuk kaki, Ariel harus menyerahkan suaranya kepadaUrsula dan di simpan kedalam kerang yang ia kenakan sebagai liontin. Ekor Ariel berubah menjadi kaki manusia ,tetapi suara indah Ariel hilang (bisu) dan Sebastian dan Flounder menyeretnya ke permukaan.

Eric dan Max(anjing) menemukan Ariel di pantai. Dia awalnya curiga bahwa dia adalah orang yang menyelamatkan hidupnya, tetapi ketika dia mengetahui bahwa dia tidak bisa berbicara, Erik beranggapan bahwa Ariel bukan wanita yang menyelamatkan dia waktu itu. Akhirnya Ariel menghabiskan waktu bersama Eric, dan pada akhir hari kedua, mereka hampir berciuman tetapi dihalangi oleh Flotsam dan Jetsam. Ursula mengambil penyamaran seorang wanita muda yang cantik bernama “Vanessa” dan muncul darat bernyanyi dengan suara Ariel. Eric mengakui lagu, dan dalam penyamaran, Vanessa / Ursula melemparkan mantra hipnotis dari pesona pada Eric untuk membuatnya melupakan Ariel.

Keesokan harinya, Ariel menemukan bahwa Eric akan menikah dengan Ursula yang menyamar di atas kapal. Dia menangis dan tertinggal ketika pernikahan. Scuttle menemukan bahwa Vanessa adalah Ursula yang  menyamar, dan menginformasikan kepada Ariel. Ariel dan Flounder mengejar pernikahan, Sebastian menginformasikan Scuttle Triton dan ditugaskan untuk “tunda pernikahan.” Dengan bantuan dari berbagai hewan, cangkang nautilus sekitar leher Ursula rusak, mengembalikan kembali suara Ariel. Menyadari bahwa Ariel adalah gadis yang menyelamatkan hidupnya, Eric bergegas untuk menciumnya, tapi matahari terbenam dan Ariel mengubah kembali menjadi putri duyung. Ursula beralih ke bentuk sejati dan dia menculik Ariel.

Triton muncul dan menghadapi Ursula, tetapi tidak dapat menghancurkan Ursula  karena Ia kontrak dengan Ariel. Triton memilih untuk mengorbankan dirinya sendiri untuk putrinya, dan berubah menjadi polip. Ursula mengambil mahkota dan trisula, yang rencananya dari awal. Kemudian, setelah melihat bahwa Ariel benar-benar mencintai Eric dan bahwa Eric juga menyelamatkan dirinya dalam proses, Triton berubah pikiran dan rela dia dari putri duyung menjadi manusia dengan menggunakan trisula. Ia berlari ke pelukan Eric, dan dua akhirnya ciuman. Ariel menikah Eric di sebuah pernikahan di mana para manusia dan duyung hadir.

 

Analisis  Ariel “The Little Mermaid” dalam sudut pandang Feminisme Psikoanalisis.

Landasan Teori :

Feminisme Psikoanalisis dan Gender

v  Percaya bahwa penjelasan fundamental atas cara bertindak perempuan berakar dari psike perempuan, terutama dalam cara pikir perempuan.Berdasarkan konsep Freud, seperti tahapan Oedipal dan Oedipus.

v  Feminis gender berpendapat bahwa mungkin ada perbedaan biologis dan juga perbedaan psikologis, atau penjelasan cultural atas maskulinitas laki-laki dan feminitas perempuan.

v  Feminis Gender menyimpulkan bahwa perempuan harus berpegang teguh pada feminitas dan laki-laki harus melepaskan bentuk ekstrim dari maskulinitas.Etika kepedulian(ethics of care) feminis harus menggantikan etika keadilan(ethics of justice) maskulin.

Akar Feminisme Psikoanalisis : Sigmund Freud

Menurutnya, anak-anak mengalami tahapan perkembangan psikoseksual yang jelas dan gender dari setiap orang dewasa adalah hasil dari bagaimana ia mengatasi tahapan ini. Maskulinitas dan feminitas, dengan perkataan lain, adalah produk pendewasaan seksual.Dalam buku Three Contributions to the Theory of Sexuality, Freud mendiskusikan tahapan seksual pada masa bayi.

Kritik Feminis terhadap Freud

Betty Friedan, gagasan Freud dibentuk oleh kebudayaan ‘Victorian’. Dia terganggu oleh gagasan Freud atas determinisme biologis bahwa “anatomi adalah takdir” berarti peran reproduksi, identitas gender, dan kecenderungan seksual perempuan ditentukan oleh ketidakadaan penis pada perempuan, dan setiap perempuan yang tidak mengikuti jalan yang ditentukan oleh alam adalah “tidak normal

v  ”Friedan menolak metodologi yang digunakan Freud dan “pengajegan” Freud atas seks/jenis kelamin, dengan mendorong perempuan untuk beranggapan bahwa ketidaknyamanan serta ketidakpuasan perempuan berasal dari ketidakadaan penis saja, dan bukannya status sosial ekonomi serta budaya yang diuntungkan yang diberikan pada laki-laki.

Shulamith Firestone mengklaim pasivitas seksual bukanlah suatu hal yang alamiah, melainkan semata-mata hasil sosial dari kebergantungan fisik,ekonomi,emosional perempuan pada laki-laki.

Psikoanalisis dalam arah Feminis : Menolak determinisme biologis freud.

Alfred Alder, Karen horney, dan Clara Thompson (psikoanalisis feminis awal)  telah merasa yakin bahwa identitas gender, prilaku gender, serta orientasi seksual perempuan dan laki-laki bukanlah hasil dari fakta biologis. Sebaliknya, kesemua itu merupakan hasil dari nilai-nilai sosial. Bahwa biologi perempuan bukanlah takdir, kekurangan akan penis menjadi penting hanya karena masyarakat lebih cenderung mengistimewakan laki-laki daripada perempuan. Ketiga teoris ini membantu memberdayakan perempuan.

Pembahasan Analisis :

Ariel merupakan gadis kecil (putri duyung) yang tumbuh di dalam kerajaan dasar laut, dengan segala proses sosialnya di kerajaan tersebut, ia merasa tidak puas akan apa yang dimilikinya dan kehidupannya. Lalu ia menginginkan tubuhnya (biologis) berubah menjadi seorang manusia, hidup sebagai manusia dan memiliki sepasang kaki, serta mendapatkan laki-laki pujaannya yaitu (Erik). Dalam sudut pandang feminisme psikoanalisis ini kami menganalisis, bahwa seorang anak kecil (Ariel) akan bertanya-tanya terhadap perkembangan tubuhnya secara biologis di sebuah lingkungannya. Anak-anak mengalami tahapan perkembangan psikoseksual yang jelas dan gender dari setiap orang dewasa adalah hasil dari bagaimana ia mengatasi tahapan ini. Jadi analisis kami dalam film dan tokoh Ariel ini, bukan membahas perbedaan biologis dan gender antara laki-laki dan perempuan (secara harafiah). Tetapi konteks dalam analisis tokoh yang kami angkat, dimana seorang Ariel yang menginginkan perubahan tubuh dan hidupnya, difaktori oleh sosial lingkungannya bukan psikis. Film The Little Mermaid secara langsung menampilkan tindakan kekuasaan regim kebenaran menentukan tubuh perempuan yang ideal yang sesuai dengan pandangan laki-laki atau budaya patriarki.

      Dalam kekuasaan regim kebenaran kita bisa melihat bagaimana Ariel yang disaingi oleh Ursula dengan cara menyamar ketika terjadi kesepakatan dalam perjuangan untuk menjadi normal sesuai dengan harapan manusia normal yang di wakili oleh seorang laki-laki (Eric). Dua perempuan yang bersaing tersebut ini dapat mewakili kritikan Jacques Derrida terhadap tatanan simbolik terutama mengenai: “falosentrisme, keutamaan falus, yang mengkonotasi suatu dorongan uniter terhadap satu tujuan  yang dianggap dapat di capai;”[1] namun pada kenyataanya setiap perempuan mempunyai imajinasi seksual yang berbeda-beda untuk di praktekkan dalam realitas, tidak semua perempuan memuja falus (laki-laki) namun dalam film ini perempuan di tampilkan seolah-olah mewakili keinginan manusia perempuan  secara kesuluruhan. film ini tetap berada pada posisi status quo dalam mendukung asumsi Freud mengenai kecemburuan perempuan terhadap penis  kemudian akibatanya adalah keharusan identitas seksual yang pokok jelas dan meyakinkan,[2] yang menyeret pandangan manusia terhadap seksulitas manusia kedalam “oposisi biner fundamental.”[3]

      Status quo atas tubuh perempuan yang baik Dan jelek juga sangat tampak dalam film ini yang mana tubuh perempuan antagonis adalah seorang yang berpostur tubuh gendut sementara tokoh antagonisnya adalah perempuan yang bertubuh langsing yang mana ikut membangun sebuah pandangan sosial  atas tubuh perempuan yang ideal dan yang tidak-ideal dalam masyarakat patriarki Dan budaya kapitalisme yang selalu mengobjektifikasikan perempuan atau mengutuk perempuan sebagai manusia kelas dua yang harus di ataur sesuai dengan pandangn laki-laki yang menimbulkan banyak kekacauan dan merugikan perempuan itu sendiri maupun ketidak sadaran  laki-laki yang mana tidak pernah menjadi manusia yang dewasa tetapi tetap menjadi seorang bayi yang selalu berniat untuk mengkuras segala sesuatu yang berkaitan dengan perempuan.

       Filem ini seolah-olah menampilkan sisi keberanian perempuan atas kesadaranya mengenai diri (perempuan) yang bukan hanya menjadi objek tetapi menjadi subyek yang sadar bahwa dirinya tidak dapat dimasuki sehingga harus muncul ke permukaan laut untuk menikahi laki-laki, tampaknya disini ada perjuangan perempuan tetapi perjuangan tersebut gagal karena tetap ada bantuan laki-laki dan dominasi laki-laki yang tidak bisa luput dari kehidupan perempuan dan laki-laki tetap menjadi bocah; “infantil, hasil dari nafsu tidak alamiah ibunya, adalah representasi laki-laki dari kekuatan yang tidak berpikiran…”[4]

 

      Tubuh perempuan yang dipatolgikan, yang tidak diinginkan oleh asumsi laki-laki yang telah terwakili oleh psikoanalisa-nya Freud memunculkan ketakutan bagi perempuan agar tetap berusaha untuk menjadi yang ideal. Ursula yang bertubuh gendut tidak berani untuk menunjukkan diri apa adanya kepada Eric, manusia yang jauh dari dunia di dasar laut. Dia harus mengorbankan sesama-perempuan untuk meraih keinginan atas tubuh laki-laki sementara Ariel menjadi korban karena kinginan yang sama pada tubuh laki-laki. Untuk meraihnya perempuan harus menyamar sesuai keinginan laki-laki, Eric merindukan suara merdu dari perempuan putri duyung sementara Ursula tidak memiliki suara tersebut namun dia adalah seorang nenek sihir di dasar laut yang mempunyai kekuatan untuk mengapai impiannya, selain itu Ariel yang mengantungkan nasibnya pada trisula-nya Triton untuk mengubahnya menjadi manusia murni agar bisa menikah dengan Eric.

      Perempuan digambarkan sebagai mahkluk yang tidak bisa akur dan laki-laki muncul untuk menyelsaikan masalah yang terjadi diantara perempuan, tetapi ketika kita melihat secara teliti, sumber masalahnya adalah bukan pada perempuan tetapi konstruksi sosial mengenai laki-laki yang di nomor satukan dalam hidup itulah yang menjadi sumber kekacauan Dan dalam realitas maupun film ini; perempuan tetap menjadi korban, menjadi korban atas relasi heterosexisme yang di yang diyakini masyarakat alat reproduksi (generasi manusia) dan  tubuh perempuan tetap saja menjadi mesin untuk melanjutkan ketergantungan pada laki-laki. Perempuan tetap di control seperti Ariel yang dilarang oleh Triton untuk ke permukaan laut, perempuan yang harus menjadi normal secara fisik; putri duyung yang harus memiliki kaki atau Ursula yang harus menyamar sebagai perempuan dengan tubuh ramping dan lain-lain yang semuanya hanyalah imaji laki-laki mengenai tubuh yang ideal.

       Dalam realitas keseharian, sebagian kaum perempuan  berusaha keras agar tubuh mereka sesuai dengan ikon-tokoh protagonist dan menimbulkan rasa benci terhadap tubuh yang dianggap tidak normal dan kaum kapitalis mengubah cara pandang ini menjadi sesuatu yang bisa di konsumsi Dan pada akhirnya merugikan kaum perempuan itu sendiri, yang telah bersedia untuk mengikuti semua cara pandang yang di tawarkan dalam masyarakat dengan demikian cara pandang laki-laki (patriarki) yang tidak di kritisi ini secara langsung “berfungsi untuk mengamakankan dominasi modal ekonomi, politis maupun ideologi yang berkelanjutan.”[5]

        Untuk menjelaskan pernyataan di atas alagkah baiknya kita litah contoh real dalam masyarakat dimana kapitalisme bersaing dengan ketat untuk merain tubuh perempuan sesuai dengan imajinasi laki-laki yang mendominasi, misalnya perempuan gendut yang harus ikut die agar tubuhnya berubah menjadi normal dalam arti tubuh yang ramping karena tubuh gendut itu tergolong dalam patologi yang tidak selalu berkaitan dengan masalah medis tetapi lebih pada masalah konstruksi sosial atas tubuh yang tergolong dalam dunia kecantikan yang dianggap nomor satu atau yang ideal. Namun para feminis aliran psikoanalisa tidak akan hanya diam tetapi melawan ketidak nyamanan bagi perempuan secara emosional tersebut. seperti kesimpulan pada hasil penelitian yang mengatakan; “psikopatologi atau gangguan mental ditemukan pada individu gemuk, maka itu bukanlah penyebab kegemukan. Psikopatologi itu lebih sebagai akibat dari prasangaka dan diskriminasi terhadap orang-orang gendut.”[6]

 

Kesimpulan

 

Normalisasi manusia dalam psikoanalisa Freud telah memporak porandakan kehidupan manusia yang mana seharusnya tidak ada dominasi antar manusia kini menjadi maslah yang sangat krusial dan sangat pelik untuk di selesaikan karena kebenaran palsu atau hal yang hanya sebatas asumsi yang mana telah mengakategorisasikan manusia ke dalam relasi dikotmi otoriter yang di produksi dan direproduksi yang bertujuan untuk mendominasi perempuan. Perempuan sampai saat ini secara garis besar masih berada di ranah subordinasi karena tatanan simbolik yang di produksi dan di reproduksi adalah sangat bias dimana aturan interpretasi dan normalisasi yang tersedia bersifat otoriter dan mendominasi dalam hal ini adalah filem the little mermaid yang tetap mempertahankan status kekuasaan laki-laki atas tubuh perempuan walapun dalam filem tersebut perempuan kelihatan sudah berusaha keras untukeluar dari dominasi laki-laki tapi tetap saja jatuh ke dalam persoalan yang sama yakni normalisasi; dimana seorang perempuan harus menikah dengan seorang laki-laki. Lalu perempuan yang tidak akan menikah dengan laki-laki dianggap tidak normal. Filem ini adalah sumber yang tersedia untuk tetap memuja kekuasaan laki-laki dan kekuasaan tersebut di legitimasikan sehingga manusia yang tidak hanya heterosex dianggap menyimpang atau tergolong dalam ranah patologi karena dominasi heteronormativitas dalam masyarakat patriarki. Di ranah ekonomi, asumsi Freud tersebut di reproduksi dan di jual kepada khalayak di seluruh dunia melalui film the little mermaid yang kemudian menjadi keyakinan untuk di konsumsi dan memperkaya kaum kapitalis dan merugikan kaum perempuan yang tidak bisa mengkritisi konten dalam media masa (filem the little mermaid) sehingga menerimanya secara gamblang dan tak henti-hentinya melakukan peniruan dengan mengikuti diet atau pola makan yang di rancang khusus untuk perempuan yang inggin bertubuh ramping. Dalam arti bahwa asumsi psikoanalisa telah mencuptakan sebuah larangan yang harus di takuti oleh perempuan dan di paksa untuk tunduk pada kekuasaan laki-laki yang kemudian di olah menjadi sebuah kekayaan bagi kaum laki-laki tertentu saja.[7]

 

Penutup

Karena filem adalah sebuah media yang menyampaikan pesan yang isisnya adalah (propaganda) ideologi yang berkuasa (dominan) pada saat ini yang cukup meresahkan, maka perlu adanya media literacy mengenai kesetaraan gender agar kaum perempuan maupun kaum laki-laki bisa sadar bahwa kecantikan atau kecemburuan yang sengaja di ciptakan adalah penjajahan manusia secara keseluruhan dalam arti telah memunculkan banyak kekacauan di dalam kehidupan sehari-hari kita, dimana pihak segilintir orang telah mengambil keuntungan dari kekacaun tersebut dalam hal ini korporasi perfileman pada umunya dan khususnya Walt Disney.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

  1. Dominic Strinati. (2009). POPULAR CULTURE: Pengantar Menuju Teori Budaya Populer. .Yogyakarta: AR-RUZZ MEDIA
  2. Moh Yasir Alimi. (2004). Dekonstruksi Seksualitas Poskolinoial: Dari wacana Bangsa Hingga Agama. Yogyakarta: LKiS
  3. Rosemarie Putnam Tong, FEMINIST THOUGHT. (2008). Yogyakarta: JALASUTRA
  4. Syarifah Rosita,Gendut Itu Cantik. (2008).Yogyakarta: Ayyana

[1] Rosemarie Putnam Tong, FEMINIST Thought (Yogyakarta: JALASUTRA, 2008), P.290

[2] Foucault dalam Moh Yasir Alimi, Dekonstruksi Seksualitas Poskolinoial: Dari wacana Bangsa Hingga Agama (Yogyakarta: LKiS, 2004), p. 46

[3] Tong, loc.cit

[4] Tong, loc.cit. p.204

[5] Dominic Strinati, POPULAR CULTURE: Pengantar Menuju Teori Budaya Populer (Yogyakarta:AR-RUZZ MEDIA, 2009), p.100

[6] Syarifah Rosita,Gendut Itu Cantik (Yogyakarta: Ayyana, 2008), p.  140

[7] Laki-laki tertentu saja karena sebagian besar dari laki-laki yang ada di masyarakat tidak mendapatkan keuntungan dari kelicikan system pasar yang telah mempermaikan tubuh perempuan.

Tinggalkan Komentar

malam jumat bersama teman-teman seHOMO

ImageImageImageImageImageImageImageImageImageImageImageImageImageImageImageImageImageImageImageImageImageImageImageImageImageImageImageImageImageImageImageImageImageImageImageImageImageImageImageImageImageImageImageImageImage

Tinggalkan Komentar

Menanti pagi yang meragukan

MenanImageImageImageImageImageImageImageImageImageImageImage

ImageImageImageImageImageImageImageImageImageImageImageImageImageImageImageImageImageImageImageImageImageImageImageImageImageImageImageImageImageImageImageImageImageImage

 

Berkumpul di Café Teratai setelah terpilihnya “sang kepala suku” (seharusnya bukan kepala karena semua orang punya kepala, jangan ketua apalagi presiden. Toh itu hanya nama yah karena tidak ada kosa kata yang lebih cucok/ arghh aku nggak pusing, aca untuk berkumpul ria ini tidak ada paksaan, karena aku memang benar-benar suka untuk tertawa, karena maraca bisa menghibur saya, yah begitulah teman-teman sehati-ku). Oh, ya. kami adalah FORUM KOMUNIKASI SEHATI. Lumayan bisa tertawa sesuka hati bersama teman-teman se-aliran, tapi sama juga seperti manusia-manusia yang tidak sealiran dengan kami dimana ada yang lagi cemburu-cemburuan gara-gara baru putus-an dengan pacar-pacar mereka dan ada juga yang sedang sibuk menembak tapi entah kemana atau sedang apa dewa amor untuk mengkabulkan anak panah yang telah diluncurkan tersebut. Itu semunya hal2 keseharian yang sangat biasa kalau didramatisir pun sudah basi’ atau bahakan sudah busuk Dan ada belatung-nya.biasa; aku yang kere tetapi tetap ikut ke café (kenapa?). yah, karena aku tidak mau melewatkan malam indah tersebut, aku hanya mau tertawa lepas dengan teman-teman saya, tetapi apa yang terjadi, ketika aku di potret, mukaku kelihatan sangat serius-hampir mengambarkan orang yang tidak bisa tertawa. Oh ternyata aku serius juga melihat kartu sebelum teman-teman lain memutuskan untuk main poker face yang di tempatku dinamakan tendes, aku tidak mau ikut main walaupun aku tahu cara mainnya, aku hanya mau menikmati gaya bicara maraca yang sangat jarang aku temukan di dunia yang dikuasai oleh aturan-aturan heterosex.

      Awalnya hanya mau copy filem dari laptopnya salah satu teman, filem tentang pertarungan dunia ke-macho-an yang penuh tanda Tanya alias queer abis berdarah dingin yang suka membunuh kemudian dibayar, ah tepatnya filem pembuh bayaran yang masih punya rasa cinta, tapi cintanya kayak salah satu judul lagunya the Virgin, dua penyanyi Indonesia yang sok Lesbian tampilanya. btw display-filem tersebut adalah kota HONG KONG, aku lupa judul filem tersebut walau pun sudah nonton, mungkin dua tahun yang lalu dan malam ini si Petra mau copy filem tersebut; berhubungan sudah malam, jam sembilan. kami tidak bisa datang ke kos teman yang punya filem tersebut, (masa’ datang tiba-tiba tengah malam, bisa-bisa ibu kosnya langsung shocking soda karena melihat botol-botol segar yang mengemaskan arghhhh/lagi suka baca iklan coke di setiap billboard di jalanan heheh…). akhirnya dia masuk ke kosnya dan membawa  laptopnya dalam tas hitam (kayak mau pergi kuliah aje cin… arghhh nggak apa-apa, supaya kita kelihatan kayak aktivis yang sok sibuk/ oops para aktivis sedang sibuk minum bensin/ ini hnya masalah ketidak beranian, coba kalau semua orang kompak tidak mengunkan apa pun yang berhubungan dengan bensin, “kamu tidak mau rugi kan?”. Kalau kamu benar-benar mau menghancurkan system nggak usah capek-capek demo di siang bolong yang mencekam, matikan saja segala barang elektronik yang ada di tanganmu, jangan pernah mengunakan alat transportasi yang memakai bensin, pastinya air akan lebih dibutuhkan dari pada bensin, demo sambil minum bensin, coba lihat air dalam kemsan botol yang kalian minum, bukankah itu semuanya berkat adanya bensin, sama saja loe demo tapi tetap memperkuat para kaum kapitalis, kamu pergi berdemo dengan membawa air tawar dari rumah?. Sumpah saya tidak percaya!/btw ini adalah malam untuk bersenang-senang karena saya sudah melawan secara individu /@tiap hari jalan kaki ke mana-mana/Dan kamu tertawa ketika tahu bahwa saya hanya jalan kaki, rasain loe, harga bensin naik, motormu di bakar saja kalau sudah tidak mampu lagi untuk beli bensin@/>>> kalau tidak mampu untuk beli bensin jangan beli kendaraan yang membutuhkan BMM, kalau tidak bisa men’fungsikan lagi organ tubuh yang di namakan kaki jangan ngeyel karena kamu  belum bebas dari tatanan social yang telah membuatmu cacat, menjadi Difabel dadakan /sudah malas pake kata OKB heheheh…/ >>>karena system social bukan kecelakaan atau ketidak normalan tubuh dari sudut pandang bilogis. Gila, jadi sadar nih, ternyata banyak orang miskin yang memakai topeng selama ini; pernah kah kamu merasakan kala hujan tiba, para pengemudi melaju sangat cepat bila di bandingkan dengan laju di hari tanpa hujan; Dan aku benci itu, banyak orang yang menjadi cacat karena memakai topeng sok kaya tetapi toh harga BBM baru direncanakan untuk naik saja udah pada pusing. saya tidak terlalu membutuhkan bensin seperti kamu yang sedang berkoar-koar di jalanan>>biarkan harga BBM melambung tinggi supaya kita bisa jalan kaki sambil bergandengan tangan di sepanjang jalan), cuss…. Tibalah kami di café teratai yang penuh dengan lampion, lampu natal walapun ini bukan bulan desember Dan lebih anehnya ada potongan-potongan gabus yang menyerupai bintang kejora, putih sendiri, kayak bintang yang muncul di ufuk timur dalam mitos natal yang menjadi penunjuk kearah tempat dimana yesus di lahirkan. Argghhh kuno banget, masa’ perhatikan tata ruang sampai segitunya’, dan jaring laba-laba beserta burung-burung bangau putihnya dan air terjun boongan yang selalu mengalir walaupun hanya kricik-kricik deru’nya bersama pot-pot gede yang di tanami tanaman yang suka hidup di dalam air. (Ah, namanya juga café teratai, ingat terataiiiiii…tahi loe, gimana sih cin?). bagaimanapun Cafe dan tempat-tempat ibada’ tidak ada bedanya karena semunya adalah tempat untuk mengadakan ritual, sementara kenaikan harga BBm adalah kemaksiatan yang di munculkan oleh pihak yang berkuasa untuk saat ini. Haram atau tidaknya itu bukan urusan saya yang tidak memerlukan BBM (coba lihat banyak yang aksi dorong motor karena kenaikan harga BBM.). bukanya mereka yang para pemimpin negara saat ini juga pernah menantang tiran sebelumnya? seperti yang di lakukan para demonstran di bulan maret yang hampir berakhir ini. Siapapun yang memimpin toh negara adalah alat untuk melakukan penindasan maka yang penting disini adalah bukan harga BBM tetapi ada hal yang paling mendasar yang perlu disadari oleh orang yang suka melakukan kericuhan (bukan anarchy) selama ada negara dan para tahi yang menamakan diri legistalif, yudikatif, eksekutif disertai kutu yang di juluki sebagai anjing penjaga atau watch dog yang siap di sensu kali yahh cin… arghhh,,,,,atau lebih tepatnya pembantu dari ke tiga kekuasaan negara yang di namakan trias politika atau bahasa sopanya mass media, kenapa menjadi kutu, pembantu, anjing (yang mungkin suatu saat perlu untuk di rica-ricakan)>>>untuk menjuluki mereka yang kerja di media masa, karena tidak bisa atau memang buta terhadap dunia filsafat untuk  menterjemahkan kata anarchism ke dalam bahasa sehari-hari atau terlalu menyepelekan istilah tersebut sekarang coba terjemahkan kata anarkhis yang sering di pakai oleh para pembantu trias politika tersebut;tampaknya mereka adalah lulusan Supermi (kalau boleh pinjam kata dari seorang leftist radikal di Timor Leste heheh), lulusan Supermi karena sok tahu dalam berbahasa akhirnya semuanya tidak jelas. Cup-cup-cup…sss ngatuk berat, pembangkangan tidak selalu di lakukan oleh anarkis dengan demikian mungkin bisa mengunakan kata lain daripada anarkhis untuk mengambarkan sikon di realitas, perlu di tekankan, mereka-mereka yang berdemo, merusak fasilitas publik bukan anarchy karena mereka tetap saja membutuhkan pemimpin baru dan tetap saja menjilat alat negara ketika sudah tidak bisa di jilat mereka akan berkoar-koar lagi di jalanan, wissssss edan tenan kabeh  iki; berontak untuk merdeka bukan untuk melahirkan tiran baru! Tetap cin...Ni amo, Ni patria!!!!!

 

Enaknya menjadi sok hedon malam ini

Mengamati jejaring laba-laba palsu berwarna hitam di jadikan pemisah antara ruang para hedon dan kasir terus melihat baju temanku yang ada gamabr kepala spiderman berwarna merah, di balik pungungnya ada bintang buatan dari gabus berwarna putih, ada lampion kayak lagi merayakan imlek atau moon cake di klenteng atau lagi natalan di gereja katolik, dan lebih parahnya  ada air terjun; air terjun yang di beli seperti yang ku baca di DUNIA SUKAB (humm.. dunia sukab blog yang luar biasa) tapi lagu-lagunya kebanyakan R&B, ah bahkan lagunya Michel Telo; ai se eu te pego yang selama dua bulan ini menjadi lagu ter hits/ ter pop di kos sekarang lagi dan lagi, aku harus mendengarkan lagu yang sama di tempat yang berbeda, begitulah dunia pop, sampai muntah-muntah pun tetap sama, semunya seragam, temanku yang seharusnya tidak membahas masalah BMM di tengah keasyikan, malah BBM menjadi isu, sudahlah ambil kartu dan kocok sepuasnya lalu bagi-bagi ke semua teman lalu saling mengalahkan dan yang kalah kocok lagi sampai mampus kalau kalah terus, makanya saya berhenti untuk tidak main kocok-kocokan, lebih enak menimati saja mulut teman-teman yang asyik nyerocos tapi bukan radio RRI yang tidak asyik lagi untuk di dengar toh semunya hanya membahas harga BMM; kalau di dunia sukab; air terjun dalam rumah, air terjun itu menjadikan simbol untuk melakukan ritual semacam meratapi nasib di tengah sumuknya ibu kota selain pusing karena banyak kerja kantoran, di cafe ini air terjeun kecil hampir tidak terdengar suaranya, tapi bisa melihat aliran-aliran kecilnya yang menelusuri tembok yang menjadi tebing kalau dilihat lebih dekat; jarang sekali ada orang yang ke cafe sendirian untuk meratapi hidup, yang ada cuman gerombolan-gerombolan manusia yang selalu berniat untuk mendominasi tempat-tempat yang bagi mereka sudah sangat cocok untuk duduk berjam-jam walaupun tidak memesan banyak makanan atau minum dari cafe tersebut; simbol-simbol dan perilaku yang kontras tetapi menyatu dalam pekatnya kopi hitam karena kopi selalu murah di antara menu minuman lain, hitam yang tertuangkan dalam cangkir lalu melayang bersama asap rokok lalu menghilang entah kemana tetapi cafe tetaplah tempat ibadah yang tidak melihat orientasi seks sebab cafe bukan tempat untuk bermesum. Mungkin ada cafe mesum tapi bukan di sini atau di toilet mungkin?. Hanya di toilet orang akan lebih jujur siapakah dirinya yang sebenarnya, makanya banyak kaum homosek yang keberadaanya hanya sebatas di wc atau kakus alias in the Closet sementara sudah ada banyak kasus kekerasan terhadapnya maupun terhadap orang-orang terdekatnya yang masih sama di lakukan oleh sesama manusia bukan alien dari plaet lain. makan tuh jamban kalau mampu heheheh….!. akan lebih asyik menjadi alien karena tidak akan kenal-memahami konsep-konsep atau simbol-simbol yang terbagun di atas permukaan bumi ini. Marilah cuek bebek untuk meninggalkan topeng yang sok macho, sok manly atau sok hetero, lepaskanlah dan mari bersenang-senang dengan teman-teman sehati. Anggap saja dirimu adalah seekor alien yang tidak tahu konstruksi sosial yang ada di bumi ini, semunya akan baik-baik saja!. Kapan tidurnya yahhh… arghhhhhh kerasukan semangat jarum paling besardan pendek bergerak pelan-pelan di sekitar angka 2,3,4 menuju pagi yang tidak tahu kabarnya, apakah cerah atau muram karena banyak yang membakar ban di jalanan; siapkan sapu tangan untuk menjadi masker di siang hari kala mendung dan hujan tak menyapa di dalam asap yang berbau amis, karet busk jankco! Masih mending bau kondom yang bisa menantang angka kelahiran dan kematian, tidak ada yang lahir tidak ada yang mati tetap cin Ni marido!.

      Hussstt… sepertinya ada yang sedang….


[i]http://www.facebook.com/media/set/?set=a.10150656981888462.402750.700778461&type=1&l=e6694a511a

Tinggalkan Komentar

SMS dengan Amir/25:03:2012

SMS dengan Amir/25:03:2012

A: hi, lg ngapa?

P: maaf, siapa ya?

P: maaf kalau saya lupa, tau nohpku dr siapa atau pernah kenalan dimana?

A: Mgkin pernh ktmuan. Aku juga lupa. /21;13/

P : apakah kamu peminum minuman beralkohol?. Saya hanya sering mabuk, kenalan dg banyak orang, tukar2 nohp tp kemudian tidak save. Apakah kamu salah satu dr orang2 itu?

A: g. Kt kenal di gim./21;23/

p:  fuck yeah!, gay pastinya yah. Apakabar gim? Sudah lama tidak mengunakan fasilitas blind date tersebut, belum pernah kenal dengan orang bernama amir di  gim

Tinggalkan Komentar

teman gantengku yang akan meninggalkan saya: dia wisuda bulan depan

Teman-ku yang ganteng kini kau lulus,

Pagi ini kamu menemui dosen-dosen untuk menandatangani skripsimu

April kamu sudah wisuda

Aku sempat mendengar kamu menyanikan sebuah lagu lawas yang sangat menyentuh hatiku di pagi ini

“I don’t wanna talk about it how you broke my heart”

Oh. Lyric lagu yang sangat sedih, kenapa kamu menyanikan lagu itu di pagi ini

Kamu membalikkan buku yang kau pinjam dari-ku menjadikan referensi skripsimu

Kamu belum wisuda tapi saya sudah sangat kangen dengan dirimu

Lalu kau meminjamkan aku duit dua puluh ribu, seperti biasanya aku akan menjadi sangat miskin di akhir bulan

Lalu kau menghilang di ruang TU; aku menantikan kedatanganmu dari ruang tersebut tetapi kamu tidak muncul

Aku menuju halaman depan kampus; disana ada beberapa teman yang lagi nongkrong dengan salah satu dosen kita, dosen pembimbingmu; mereka sedang membahas sosiologi organisasi, lalu aku meminta sebatang rokok pada salah satu teman; Disty. Menamani kak Dempta untuk ambil duit yang sudah cair di dalam ruangnya  wadek III.

Lalu ngobrol lagi di lobby depan TU tapi aku tidak melihatmu lagi.

Arghhh ….aku akan menantimu sampai bulan depan, saya tidak tahu tanggal berapa dirimu akan wisuda J

 

Image

Tinggalkan Komentar

Beli beras 1 kg = Rp 8500.00/malam dan lapar

Beli beras 1 kg = Rp 8500.00/malam dan lapar

Image

 

Saya: bu, ada beras?

Penjual: iya, berapa kilo?

Saya: satu kilo saja

(Kemudian saya lihat bersanya, kaget karena berasnya tidak sesuai dengan keinginan saya)

Saya: ada yang lain nggak?

Penjual: adanya cuman ini mas, ini karena telat di panen, kenan hujan di ladang makanya warnanaya seprti ini.

Saya: oya!

Penjual: saya juga masknya ini mas

(Lalu Ibu itu masuk ke dalam dapurnya lalu membawa nasi dengan sendok nasi, tujuanya adalah untuk menyakinkan saya)

Penjual: mas ini hasilnya kalau di masak, tidak keras, tapi lembek

Saya: ok, bu

(Setelah di timbang, ibu itu menuangkan beras kusam itu kedalam kantong kresek hitam dan menyuruh anaknya untuk mengembalikan uang kembalian)

Penjual: ….. (menyebut nama anaknya) kembaliannya seribu lima ratus,

(Lalu dia mengambil satu kantong kresek lagi)

Penjual: mas, mau pake dua plastik?

Saya: tidak usah

(Lalu saya memasukkan beras dalam plastik hitam itu kedalam tas saya)

Penjual: mas tinggalnya dimana?

Saya: saya tinggal di samping sekolah

(Sambil mengancungkan telunjuk saya ke arah timur)

 

Cepat-cepat pulang ke kos, lewat warungnya ibu penjual sayur, beli ; brocoli, wortel , garam dkk.

Saya: bu, mau beli sayur

(penjual sayur masih di dalam kamar, sedang berdandan, dia masuk warung, tangan-tanganya sibuk memperbaiki jilbabnya, selama ini saya belum pernah melihat dia mengenakan jilbab pada kepalanya.)

Penjual: apa?

Saya: ini berapa bu?

(tangan kanan saya mengangkat plastik yang isinya sayur; terdiri dari Brocoli, wortel, daun bawang dll yangs saya tidak tahu namanya belum bisa untuk disebutkan J.)

Penjual: seribu lima ratus

(mengeluarkan dompet yang isinya tinggal Rp26, 500.00—saya mengambil lima ribu)

Saya: ini bu.

Penjual: apa lagi?

Saya; itu saja dulu, lagi kere tidak bisa belanja banyak

Ibu itu menaruh duit kembalian dua ribu di atas kotak kaca yang isinya berbagai macam rokok (berati bukan penjual sayur!). bertanya dalam hati “sepertinya saya tidak punya garam lagi?”.

Saya: bu, garamnya satu

(sekejap saya ibu itu menaruh garam di atas kotak kaca, lalu mengambil dua ribu yang belum saya sentuh, kemudian mengantinya selembar uang yang bertuliskan seribu rupiah. Saya mengambil duit kembalian itu dan memasukkan sayur-sayur itu ke dalam tas saya, tidak mengatakan terima kasih atau pamitan “mari bu” tidak ku ucapkan lagi.)

 

Tiba di kos langsung buru-buru  menanak bubur sayur untuk makan malam. Sayurnya sudah sedikit pake busuk lagi, su!, ”arghh lupakan saja”. Memasak sambil membaca makalahnya Elizabeth D Inandiak; ”Dari Erotika ke Sir Centhini”, segelas kopi hitam bersama  sebatang tegesan masih berasap di antara jari telunjuk dan jari tengah, ritual menanti ritual sambil membaca sebuah tulisan ritual dengan iringan lagu yang amat sangat sedih dalam bahasa Jepang yang ku download dari Youtube dengan judul  sad Japanese song. Lagu ini tidak hanya sedih tetapi sekaligus memberikan harapan bagi yang sedang menginginkan sesuatu, atau ingin mencapai puncak gunung atau menerjungkan tubuh kedalam lembah yang dalam dan sempit tanpa batas yang di bawahnya banyak mahkluk asing menatikan kejatuhanya tetapi tidak akan pernah jatuh; hanya melayang-layang.

       Atau bagi mereka yang sedang jatuh cinta dan merasakan sedang bersangama dengan pasanganya akan lebih asyik menyalakan sebatang dupa, maka orang itu akan merasakan kehadiran pasanganya melewati asap putih yang tersedot paru-parunya melewati kedua lubang hidung yang sedang mengeluarkan ingus encer jika lagi musim flu.

   ”huhhhss..huhhhsss. hussshhhhs… drok,drok,drok…tuingg..!” sudah mendidih bunyi tutupan ricecooker memberhentikan saya untuk melamun, ku lepaskan tutupan panci tersebut, ku tuangkan garam kedalam panci berisikan bubur tersebut, ”hijau, kuning, putih” sebentar lagi siap untuk di santap.

 

Tinggalkan Komentar

”HANGUS TIADA BERAPI, KARAM TIADA BERAIR”

”HANGUS TIADA BERAPI, KARAM TIADA BERAIR”

 Image

       Baru kali ini saya merasakan kesusahan untuk ketemu orang, ini adalah pengalaman pertama di dalam hidup saya, ketemu dengan orang yang baru sekali bertemu di tempat lain kemudian saling kangen-kangenan lewat pesan-pesan yang selalu melayang di layar telpon gengam. Saya mengenal Wildan di rumahnya Obay; kala itu pacaranya obay sedang bertugas di ibu kota untuk beberapa minggu. Sepertinya mereka saling tahu, ketika mereka saling jauh-jauhan, mereka bisa cari orang lain untuk ml kala hasrat pertemuan selangkangan melanda. Namun merka akur-akur saja selama ini, ah. Mereka sangat hebat, tidak membatasi satu sama lain seperti pasangan-pasangan sejenis kelamin lainnya.

      Aku sudah sering bilang kepada Wildan bahwa ketertarikan kami terhadap satu sama lain ini akan memunculkan masalah kecil, dia adalah orang yang sudah mapan dan aku orang yang masih berantakan hidupnya, dia kerja di salah satu bank di kota gudeg ini dan aku hanyalah seorang pelajar yang hampir bisa di cap sebagai mahasiswa abadi, oh no!. Aku tidak bisa mengenderai alat transportasi apa pun, selain jalan kaki, saya hanya bisa mengunakan transportasi publik seperti bus-bus busuk yang masih berkeliaran di kota, selain ojek, becak dan delman. tapi alat transportasi yang terakhir itu saya belum pernah mengenderainya walaupun sudah menua di kota pelajar ini.

           Sesampai di halte depan monumen; saya bingung, saya mencoba untuk tanya kepada pengawai halte, dia menyuruh saya untuk naik ojek saja, karena dari jetis menuju Blunyah gede jauh menurutnya, dia memberikan secarik kertas yang isinya adalah nomor seorang tukang ojek untuk mengantar saya ke Blunyah gede, aku ambil kertas itu dan mengirim pesan pendek ke nomor tersebut tetapi tidak ada balasan sms. Di depan halte kelihatan kerlap-kerlip malam tetapi saya tidak bisa lagi menikmati keindahan malam itu. Saya tidak tahu ada event apa di depan sana. Keputusan terakhir adalah naik transjogja ke arah terminal jombor, transit di sana kemudian naik lagi yang ke arah tugu.

     Saya tidak mau merugikan orang lain dan sebaliknya; tetapi kali ini saya sangat pusing di perjalanan menuju tempat yang saya tidak tahu letaknya, saya sudah berusaha untuk menanyakan letak Blunyah Gede kepada pegawai transjogja di halte Janti utara dan di terminal concat tetapi mereka tidak tahu letak tempat tersebut terakhir saya tanya pegawai di halte di monumen; dia menjelaskan kalau di Blunyah gede tidak ada halte kecuali di Jetis. Saya bingung tapi akhirnya wildan memutuskan untuk ketemuan di sekitar daerah tugu, saya tidak turun di halte Jetis yang sebenrnya agak dekat dengan Blunyah Gede.

       Setiba di halte depan KR, saya langsung keluar menuju ke arah tugu, di sekitar tugu, pemandanganya seperti biasa; selalu ada orang-orang yang ngumpul di sana, cahaya-cahaya selalu menyambar malam seperti petir-petir kecil di malam hari baik di musim hujan maupun di musim kemarau asalakan tidak hujan saja, bahkan hujan sekalian, pasti ada yang memakai payung hanya untuk mengambil gambar berlatar tugu. Sebenarnya apa yang menarik dari susunan batu, pasir semen dan besi yang berujung seperti apai yang menganga keemasan itu?. Sepertinya orang-orang itu hanya mau menunjukkan siapa diri mereka, mereka hanya mau menunjukkan eksistensi status sosial mereka, bukan hanya sekedar kenanagan bahwa mereka pernah ke kota jogja. foto bersama simbol kota jogja menjadi alat komunikasi untuk memberi tahu siapa diri mereka dan apa yang telah mereka lakukan di dalam jadwal liburan mereka; yakni aktivitas pameran; memamerkan diri di pangun umum agar orang lain tahu bahwa mereka adalah orang kaya yang bisa jalan-jalan ke berbagai macam tempat. Kita sering lupa bertanya ketika melihat foto orang-orang di jepret di sekitar bangunan-bangunan megah atau berfoto dengan orang-orang terkenal, apa yang mereka mau katakan lewat foto-foto tersebut?. Saya ada teman dari Denmark. dia sudah mengelilingi dunia tetapi dia tidak pernah memotret apapun namun dia tidak terlalu phobia dengan foto, pernah sekali kami foto bareng tetapi kelihatanya dia tidak terlalu suka dengan demikian kami tidak pernah foto bersama lagi.

       Di sekitar tugu ada patung-patung lucu yang baru (patung sementara). Ada empat patung yang siap di potret dan satu patung yang menjadi juru potret. Sewaktu saya di dalam bus, ada segerombolan perempuan-perempuan muda yang memeluk patung-patung tersebut dan salah satu di antara mereka memotret teman-temanya yang sedang berpose dengan patung-patung yang telah mengolok-olok aktivitas petir-petir kecil di siang dan malam, yang tidak mengenal musim. Saya duduk di samping di kursi hijau samping kiri patung kamerawan, dua orang anak Punk melucu di samping patung-patung tersebut, aku ikut tertawa, karena mereka meniru pose-pose orang-orang yang tadi atau sedang memotret di tugu dan sekitarnya. Salah satu dari anak punk itu mengejek temanya yang tidak kehabisan ide untuk meniru para model dadakan tersebut. ”dia gila” aku hanya senyum mendengarnya. Kemudian mengatakan lagi ”he is stupid”. Makin geli saja akhirnya saya tertawa mendengar bahasa inggris, tertawa karena saya tidak bisa berbahasa inggris tetapi anak itu telah berusaha untuk menjelaskan tindakan temannya itu dalam bahasa tersebut. saya tidak sempat ngobrol dengan dua anak punk tersebut, saya sibuk membalas sms dari Wildan, amarahku telah tersedot habis oleh para pelawak dadakan yang hadir di depanku. ”tunggu di dpn pom bensin” aku meluncur ke arah zebra cross, berhenti di bawah tiang trafic light. Tampak semangat dengan muka yang cerah mengila, beranjak melintasi jalan sewaktu warna merah menyelimuti aspal hitam.

      Saya menunggu Wildan di depan POM BENSIN, di seberang jalan depan POM bensin ada pedagang kembang; wangi kembang-kembang itu telah ikut menghiburku, otakku tidak beramarah lagi, aku menyeberangi jalan menuju ankringan yang ada di samping jalan di depan penjual bunga-bunga. Aku beli sebatang rokok Djarum super terpaksa karena tidak ada rokok gudang garam. Aku menghisapnya sambil menunggu Wildan. Dia tiba dengan wajah yang berseri-seri ”terima kasih bro, kamu sudah datang”, ”sama-sama bro, maaf agak merepotkan”. Tanpa basa basi lagi, aku langsung menunggangin motor di belakangnya, dia memboncengkan saya dan kami melewati halte Jetis yang seharsunya aku turun disitu tapi tugu lebih tetap untuk menjadi patokan untuk bertemu, simbol kota satu-satunya yang setidaknya terkenal di kota ini. Kemudian aku melihat lagi salah satu tempat yang terkenal di Blunyah Gede, MIE CERIA. Kami masuk gang di depan mie ceria, dia menuntun saya. Akhirnya kami masuk ke dalam kamarnya, di depan pintu kamarnya terdapat banyak sepatu lalu aku bertanya ”bro, itu semuanya sepatu mu?”,  ”iya” jawabnya ”sangat banyak” kataku. Di samping tempat tidurnya terdapat sebuah gantungan yang penuh dengan berbagai macam dasi, sebelah selatan tempat tidurnya adalah meja tata rias, sudah barang tentu banyak peralatan untuk merias tubuh. ”perawatanya mahal choy”. Dia cuman senyum saja. dia membaringkan tubuhnya di atas kasur lalu menyalakan TV aku mencium pipinya, dia lagi sariawan. Dia menyuruhku untuk mandi ”bro, aku minta handuk”, ”pakai saja yang warna merah” sambil menunjuk handuk yang mengantung di tali yang di ikat pada depan jendela yang menatap ke arah timur. Aku mengambil handuk itu lalu mandi, aku bingung mau pake sabun yang mana, banyak sekali pencuci tubuh sampai di ujung tembok juga tertata rapi sejumlah botol pencuci tubuh. Saya mengambil sabun batangan yang tidak asing lagi buat tubuh saya dan memuncrtakan sampo di atas rambutku yang nge punk kritik tidak jelas. Dari kamar mandi saya meneriakkan ”bro, ntar saya pake celana pendekmu yang warna hijau ini yah?,”  “Iya”. Tiba-tiba dia buka pintu kamar mandi ”please, kelura dulu”, dia sudah menanggalkan semua pakaian selain cela dalam berwarna putih yang masih menutupi penisnya, aku mulai ngaceng tapi aku telah mengusirnya untuk menantikan saya di atas kasur empuknya.

”bro, apakah kita masih bisa ketemu setelah bulan agustus?”, “bisalah bro, emang kenapa bro?”, ”aku sudah bilang, aku menyukaimu waktu pertama kali kita ketemu di tempatnya mas Obay,”  ”owhh”.

 

Tubuhmu bagaikan samudera yang diatasnya terapung tubuhku

Lidahku bagaikan badai yang menguncangkan tubuhmu

Menjilat puting cepu-cepumu

Kau berlayar melampaui buana

Layarmu tak sangup menadah

Sesaat kau terdampar di kama loka

Matamu tertutup rapat

Pelukan kita makin erat

Lampu-lampu gedung bagaikan mata-mata setan

Mereka mengamati kita. Matikan!

Aku mau tengelam ke dasar malam bersamamu untuk menyentuh gelap

Esok akan mebangunkan kita bersama sinarnya yang menerobos jendela

Mata-mata itu hilang

Kita masih berada di atas kasurmu

Sedikit berantakan lalu Perpisahan pun menanti kita di ujung halte depan kodim, jalan Monjali

 

Setelah ml, dia mandi lagi kemudian aku juga mandi lagi tapi tidak mandi bareng karena saya tidak biasa. “menurutmu cowok itu perlu dandan atau tidak?”, “maaf bro, saya tidak bisa menilai orang, tapi menurutku terserah orang mau dandan atau tidak, saya sendiri tidak bisa karena saya orangnya malas. kadang ke kampus cuman cuci muka saja karena bangun kesiangan.”

       kami pergi makan di salah satu warung burjo yang letaknya cuman sekitar lima puluh meter dari kosnya. Nasi telor dengan tempe yang di masak dengan bumbu gudeg terasa enak banget. Tiba-tiba ada dua laki-laki turun dari mobil, mereka mentup pintu mobilnya dengan sangat keras, kami kaget lalu memandang mereka sepintas saja lalu makan lagi, Wildan makan burjo dan mie telor minuman kami sama, es jeruk. Orang-orang di warung tersebut mengamati kami; mungkin karena kami sangat berbeda, aku yang penampilanya acak-acakan sementara Wildan yang tampak rapi sekali dan wangi setelah mandi dia mengoleskan beberapa macam cream pada tubuhnya, dia memintaku untuk mengoleskan cream olive pada pungungnya. Kami makan tanpa bicara, aku menghabiskan nasiku terlebih dahulu, lalu aku melewati orang-orang mabuk itu dan mengambil rokok yang di letakkan di depan botol-botol minuman bersoda. Kedua orang yang mabuk itu minum soda gembira[1]. Mereka minum sambil merokok Marlboro merah. Aku mengankat sebatang rokok Djarum super (lagi-lagi tidak ada rokok kesukaanku). ”bro” lalu aku mengancungkan batang rokok tersebut lalu dia menyetujui. Saya lupa dompet saya di saku cela saya, karena saya sedang memakai celana pendek warna hijau yang diapit warna putih keemasan, Celana basket. (apakah dia adalah seorang pemain bola basket?). seperti biasanya, aku selalu jalan lebih duluan, karena aku selalu jalan cepat. Kami tiba di kosnya, dia memasukkanya motornya yang tadi terparkir di luar. Orang-orang sekosnya masih pada bangun, spertinya sibuk karena posisi duduk mereka mencondong ke depan layar komputer. Aku melihat mereka lewat jendela-jendela mereka, Mereka tidak menghiraukan orang yang berlalulalang di halaman depan jendela mereka dan bagiku tindakan semcam itu adalah keunikan yang tidak biasa aku alami di kos-kos lain di kota pelajar ini.

      Runtuhnya kama loka: saya masih mau memeluk dia sebelum pagi memisahkan kami tetapi tidak diperbolehkan olehnya, karena besok dia harus bangun lebih awal untuk pergi kerja sekaligus mengantar saya ke halte. Tiba-tiba sinar matahari sudah menerobos jendela-jendelan kaca, gedung-gedung semalam yang tampak indah sudah tak indah lagi, dari dalam kmarnya melihat gedung-gedung UGM di malam hari tampak jelas dan menarik tetapi tidak di pagi hari. Dia mandi kemudian, setelah itu aku. Dia sibuk merias wajahnya lagi dengan cream Natasha. Semalam sebelum tidur dia mengoleskan kapas yang telah dituangkan alkohol 75% dari botol warna hijau yang bermerek IKA lalu mengoleskan cream malam pada wajahnya. Dia tidur dan aku masih sempat nonton tv, acara bukan empat mata; kotak feat Nicky Astria; lagu-lagunya asyik tapi saya lupa judulnya. Pelan-pelan saja dll. Saya tidak sempat menonton acara tersebut sampai selesai, aku mematikan TV kemudian tidur tanpa pelukan karena dia tidak bisa tidur kalau di peluk dan dia harus bangun pagi untuk pergi kerja. Sudah selesai dia berdandan,dia mengambil pakai-pakaiannya kedalam koper, besok hari kamis adalah hari terakhir untuk kerja sementara jumat adalah hari libur nasional, dia mau berangkat ke Jawa Barat sore ini (kamis).

      Dia membawaku sampai di depan halte; aku merasakan sesuatu yang berbeda,  “terima kasih bro, sampai jumpa lagi”. Tiba-tiba aku merasakan sesuatu, lalu bertanya “kenapa aura tempat ini seperti kodim di kampung halamanku?”, masih teralalu pagi, belum ada keramaian manusia beserta kendaraan mereka. Masih terlalu pagi untuk kangen rumah, aku mengambil koran lokal yang selalu tersedia di dalam halte. Tibalah bus transjogja; di dalamnya aku melihat siswa-siswa yang membuka buku-buku mereka menutupi wajah mereka, ini adalah satu kejadian aneh di pagi hari ini, aku ingat, ini adalah musim ujian. Arghhh ingat masa sekolah dulu, selalu ketakutan, giat membaca hanya pada saat ujian. Mungkin anak-anak yang lagi giat membaca ini mempunyai kebiasaan yang sama dengan saya, sama halnya kebanyakan mahasiswa baru yang sering membaca di depan ruang kuliah saat sebelum menghadapi ujian tengah semester maupun uas. Hufff.. banyak orang yang terpaksa membaca. Terpaksa karena nilai berupa angka-angka. Kemudian aku ingat lagi mimpiku beberapa hari sebelumnya, aku kecewa dalam mimpiku itu karena saya lupa ikut ujian dan berusaha cari jalan untuk ikut ujian susulan tapi saya juga tidak berani menghadapai guru-guruku di sekolah. Saya membuka mataku dan ternyata hanya mimpi. Siapa yang telah menanam ketakutan itu pada otakku, kenapa saya hidup di dunia yang penuh dengan ketakutan?. Tiba di kampus lebih awal, kuliah akan mulai jam 09.30; bermain di dunia maya di LABKOM.

       Kali ini dosen akan berdiri diatas kursi dan meniru orang-orang yang sering berorasi di depan gedung-gedung pemerintahan. Ah mata kuliah media dan demokrasi. Bagaimanapun demokrasi adalah mitos bagi saya untuk saat ini. Yang nyata adalah penindasan dari tindakan otoriter yang  oleh institusi-organisasi sosial yang menyama ratakan semua manusia di muka bumi ini salah satunya adalah duani akademis yakni universitas. Semua orang diharuskan untuk bangun pagi, ikut kuliah tanpa absen, harus hadir 75%, terlambat di usir, tidak di perbolehkan untuk ikut kuliah, ujian tidak ada lagi toleransi terlambat 15 menit. Pemilik institusi mendapatkan keuntungan dari aturan tersebut, banyak orang yang tidak akan bisa lulus karena aturan tersebut dan menjadi mahasiswa abadi dan mebayar lagi dan lagi.

      Pengen sekali cepat menghamili perempuan yang menyukaiku kemudian punya anak yang nantinya tidak sekolah, cukup membaca saja di rumah dan bermain sesukanya atau berkunjung ke perpustakaan  kalau dia mau sekolah ya sekolah saja tapi kalau dia malas, biarkan dia malas karena sekolah memang bukan sebuah hobby ataupun  hobby yang pastinya hobby itu konstruksi sosial yang kemungkinan besar di paksakan pada otak individu mengatakan suka, anak yang tidak sekolah itu akan menghibur saya.

tapi untuk saat ini hanya secangkir kopi yang bisa menemaniku. :)

 

 

 


[1] Minuman yang terdiri dari soda, susu + syrup? Berwana merah

Tinggalkan Komentar

”HANGUS TIADA BERAPI, KARAM TIADA BERAIR”

”HANGUS TIADA BERAPI, KARAM TIADA BERAIR”

 

       Baru kali ini saya merasakan kesusahan untuk ketemu orang, ini adalah pengalaman pertama di dalam hidup saya, ketemu dengan orang yang baru sekali bertemu di tempat lain kemudian saling kangen-kangenan lewat pesan-pesan yang selalu melayang di layar telpon gengam. Saya mengenal Wildan di rumahnya Obay; kala itu pacaranya obay sedang bertugas di ibu kota untuk beberapa minggu. Sepertinya mereka saling tahu, ketika mereka saling jauh-jauhan, mereka bisa cari orang lain untuk ml kala hasrat pertemuan selangkangan melanda. Namun merka akur-akur saja selama ini, ah. Mereka sangat hebat, tidak membatasi satu sama lain seperti pasangan-pasangan sejenis kelamin lainnya.

      Aku sudah sering bilang kepada Wildan bahwa ketertarikan kami terhadap satu sama lain ini akan memunculkan masalah kecil, dia adalah orang yang sudah mapan dan aku orang yang masih berantakan hidupnya, dia kerja di salah satu bank di kota gudeg ini dan aku hanyalah seorang pelajar yang hampir bisa di cap sebagai mahasiswa abadi, oh no!. Aku tidak bisa mengenderai alat transportasi apa pun, selain jalan kaki, saya hanya bisa mengunakan transportasi publik seperti bus-bus busuk yang masih berkeliaran di kota, selain ojek, becak dan delman. tapi alat transportasi yang terakhir itu saya belum pernah mengenderainya walaupun sudah menua di kota pelajar ini.

           Sesampai di halte depan monumen; saya bingung, saya mencoba untuk tanya kepada pengawai halte, dia menyuruh saya untuk naik ojek saja, karena dari jetis menuju Blunyah gede jauh menurutnya, dia memberikan secarik kertas yang isinya adalah nomor seorang tukang ojek untuk mengantar saya ke Blunyah gede, aku ambil kertas itu dan mengirim pesan pendek ke nomor tersebut tetapi tidak ada balasan sms. Di depan halte kelihatan kerlap-kerlip malam tetapi saya tidak bisa lagi menikmati keindahan malam itu. Saya tidak tahu ada event apa di depan sana. Keputusan terakhir adalah naik transjogja ke arah terminal jombor, transit di sana kemudian naik lagi yang ke arah tugu.

     Saya tidak mau merugikan orang lain dan sebaliknya; tetapi kali ini saya sangat pusing di perjalanan menuju tempat yang saya tidak tahu letaknya, saya sudah berusaha untuk menanyakan letak Blunyah Gede kepada pegawai transjogja di halte Janti utara dan di terminal concat tetapi mereka tidak tahu letak tempat tersebut terakhir saya tanya pegawai di halte di monumen; dia menjelaskan kalau di Blunyah gede tidak ada halte kecuali di Jetis. Saya bingung tapi akhirnya wildan memutuskan untuk ketemuan di sekitar daerah tugu, saya tidak turun di halte Jetis yang sebenrnya agak dekat dengan Blunyah Gede.

       Setiba di halte depan KR, saya langsung keluar menuju ke arah tugu, di sekitar tugu, pemandanganya seperti biasa; selalu ada orang-orang yang ngumpul di sana, cahaya-cahaya selalu menyambar malam seperti petir-petir kecil di malam hari baik di musim hujan maupun di musim kemarau asalakan tidak hujan saja, bahkan hujan sekalian, pasti ada yang memakai payung hanya untuk mengambil gambar berlatar tugu. Sebenarnya apa yang menarik dari susunan batu, pasir semen dan besi yang berujung seperti apai yang menganga keemasan itu?. Sepertinya orang-orang itu hanya mau menunjukkan siapa diri mereka, mereka hanya mau menunjukkan eksistensi status sosial mereka, bukan hanya sekedar kenanagan bahwa mereka pernah ke kota jogja. foto bersama simbol kota jogja menjadi alat komunikasi untuk memberi tahu siapa diri mereka dan apa yang telah mereka lakukan di dalam jadwal liburan mereka; yakni aktivitas pameran; memamerkan diri di pangun umum agar orang lain tahu bahwa mereka adalah orang kaya yang bisa jalan-jalan ke berbagai macam tempat. Kita sering lupa bertanya ketika melihat foto orang-orang di jepret di sekitar bangunan-bangunan megah atau berfoto dengan orang-orang terkenal, apa yang mereka mau katakan lewat foto-foto tersebut?. Saya ada teman dari Denmark. dia sudah mengelilingi dunia tetapi dia tidak pernah memotret apapun namun dia tidak terlalu phobia dengan foto, pernah sekali kami foto bareng tetapi kelihatanya dia tidak terlalu suka dengan demikian kami tidak pernah foto bersama lagi.

       Di sekitar tugu ada patung-patung lucu yang baru (patung sementara). Ada empat patung yang siap di potret dan satu patung yang menjadi juru potret. Sewaktu saya di dalam bus, ada segerombolan perempuan-perempuan muda yang memeluk patung-patung tersebut dan salah satu di antara mereka memotret teman-temanya yang sedang berpose dengan patung-patung yang telah mengolok-olok aktivitas petir-petir kecil di siang dan malam, yang tidak mengenal musim. Saya duduk di samping di kursi hijau samping kiri patung kamerawan, dua orang anak Punk melucu di samping patung-patung tersebut, aku ikut tertawa, karena mereka meniru pose-pose orang-orang yang tadi atau sedang memotret di tugu dan sekitarnya. Salah satu dari anak punk itu mengejek temanya yang tidak kehabisan ide untuk meniru para model dadakan tersebut. ”dia gila” aku hanya senyum mendengarnya. Kemudian mengatakan lagi ”he is stupid”. Makin geli saja akhirnya saya tertawa mendengar bahasa inggris, tertawa karena saya tidak bisa berbahasa inggris tetapi anak itu telah berusaha untuk menjelaskan tindakan temannya itu dalam bahasa tersebut. saya tidak sempat ngobrol dengan dua anak punk tersebut, saya sibuk membalas sms dari Wildan, amarahku telah tersedot habis oleh para pelawak dadakan yang hadir di depanku. ”tunggu di dpn pom bensin” aku meluncur ke arah zebra cross, berhenti di bawah tiang trafic light. Tampak semangat dengan muka yang cerah mengila, beranjak melintasi jalan sewaktu warna merah menyelimuti aspal hitam.

      Saya menunggu Wildan di depan POM BENSIN, di seberang jalan depan POM bensin ada pedagang kembang; wangi kembang-kembang itu telah ikut menghiburku, otakku tidak beramarah lagi, aku menyeberangi jalan menuju ankringan yang ada di samping jalan di depan penjual bunga-bunga. Aku beli sebatang rokok Djarum super terpaksa karena tidak ada rokok gudang garam. Aku menghisapnya sambil menunggu Wildan. Dia tiba dengan wajah yang berseri-seri ”terima kasih bro, kamu sudah datang”, ”sama-sama bro, maaf agak merepotkan”. Tanpa basa basi lagi, aku langsung menunggangin motor di belakangnya, dia memboncengkan saya dan kami melewati halte Jetis yang seharsunya aku turun disitu tapi tugu lebih tetap untuk menjadi patokan untuk bertemu, simbol kota satu-satunya yang setidaknya terkenal di kota ini. Kemudian aku melihat lagi salah satu tempat yang terkenal di Blunyah Gede, MIE CERIA. Kami masuk gang di depan mie ceria, dia menuntun saya. Akhirnya kami masuk ke dalam kamarnya, di depan pintu kamarnya terdapat banyak sepatu lalu aku bertanya ”bro, itu semuanya sepatu mu?”,  ”iya” jawabnya ”sangat banyak” kataku. Di samping tempat tidurnya terdapat sebuah gantungan yang penuh dengan berbagai macam dasi, sebelah selatan tempat tidurnya adalah meja tata rias, sudah barang tentu banyak peralatan untuk merias tubuh. ”perawatanya mahal choy”. Dia cuman senyum saja. dia membaringkan tubuhnya di atas kasur lalu menyalakan TV aku mencium pipinya, dia lagi sariawan. Dia menyuruhku untuk mandi ”bro, aku minta handuk”, ”pakai saja yang warna merah” sambil menunjuk handuk yang mengantung di tali yang di ikat pada depan jendela yang menatap ke arah timur. Aku mengambil handuk itu lalu mandi, aku bingung mau pake sabun yang mana, banyak sekali pencuci tubuh sampai di ujung tembok juga tertata rapi sejumlah botol pencuci tubuh. Saya mengambil sabun batangan yang tidak asing lagi buat tubuh saya dan memuncrtakan sampo di atas rambutku yang nge punk kritik tidak jelas. Dari kamar mandi saya meneriakkan ”bro, ntar saya pake celana pendekmu yang warna hijau ini yah?,”  “Iya”. Tiba-tiba dia buka pintu kamar mandi ”please, kelura dulu”, dia sudah menanggalkan semua pakaian selain cela dalam berwarna putih yang masih menutupi penisnya, aku mulai ngaceng tapi aku telah mengusirnya untuk menantikan saya di atas kasur empuknya.

”bro, apakah kita masih bisa ketemu setelah bulan agustus?”, “bisalah bro, emang kenapa bro?”, ”aku sudah bilang, aku menyukaimu waktu pertama kali kita ketemu di tempatnya mas Obay,”  ”owhh”.

 

Tubuhmu bagaikan samudera yang diatasnya terapung tubuhku

Lidahku bagaikan badai yang menguncangkan tubuhmu

Menjilat puting cepu-cepumu

Kau berlayar melampaui buana

Layarmu tak sangup menadah

Sesaat kau terdampar di kama loka

Matamu tertutup rapat

Pelukan kita makin erat

Lampu-lampu gedung bagaikan mata-mata setan

Mereka mengamati kita. Matikan!

Aku mau tengelam ke dasar malam bersamamu untuk menyentuh gelap

Esok akan mebangunkan kita bersama sinarnya yang menerobos jendela

Mata-mata itu hilang

Kita masih berada di atas kasurmu

Sedikit berantakan lalu Perpisahan pun menanti kita di ujung halte depan kodim, jalan Monjali

 

Setelah ml, dia mandi lagi kemudian aku juga mandi lagi tapi tidak mandi bareng karena saya tidak biasa. “menurutmu cowok itu perlu dandan atau tidak?”, “maaf bro, saya tidak bisa menilai orang, tapi menurutku terserah orang mau dandan atau tidak, saya sendiri tidak bisa karena saya orangnya malas. kadang ke kampus cuman cuci muka saja karena bangun kesiangan.”

       kami pergi makan di salah satu warung burjo yang letaknya cuman sekitar lima puluh meter dari kosnya. Nasi telor dengan tempe yang di masak dengan bumbu gudeg terasa enak banget. Tiba-tiba ada dua laki-laki turun dari mobil, mereka mentup pintu mobilnya dengan sangat keras, kami kaget lalu memandang mereka sepintas saja lalu makan lagi, Wildan makan burjo dan mie telor minuman kami sama, es jeruk. Orang-orang di warung tersebut mengamati kami; mungkin karena kami sangat berbeda, aku yang penampilanya acak-acakan sementara Wildan yang tampak rapi sekali dan wangi setelah mandi dia mengoleskan beberapa macam cream pada tubuhnya, dia memintaku untuk mengoleskan cream olive pada pungungnya. Kami makan tanpa bicara, aku menghabiskan nasiku terlebih dahulu, lalu aku melewati orang-orang mabuk itu dan mengambil rokok yang di letakkan di depan botol-botol minuman bersoda. Kedua orang yang mabuk itu minum soda gembira[1]. Mereka minum sambil merokok Marlboro merah. Aku mengankat sebatang rokok Djarum super (lagi-lagi tidak ada rokok kesukaanku). ”bro” lalu aku mengancungkan batang rokok tersebut lalu dia menyetujui. Saya lupa dompet saya di saku cela saya, karena saya sedang memakai celana pendek warna hijau yang diapit warna putih keemasan, Celana basket. (apakah dia adalah seorang pemain bola basket?). seperti biasanya, aku selalu jalan lebih duluan, karena aku selalu jalan cepat. Kami tiba di kosnya, dia memasukkanya motornya yang tadi terparkir di luar. Orang-orang sekosnya masih pada bangun, spertinya sibuk karena posisi duduk mereka mencondong ke depan layar komputer. Aku melihat mereka lewat jendela-jendela mereka, Mereka tidak menghiraukan orang yang berlalulalang di halaman depan jendela mereka dan bagiku tindakan semcam itu adalah keunikan yang tidak biasa aku alami di kos-kos lain di kota pelajar ini.

      Runtuhnya kama loka: saya masih mau memeluk dia sebelum pagi memisahkan kami tetapi tidak diperbolehkan olehnya, karena besok dia harus bangun lebih awal untuk pergi kerja sekaligus mengantar saya ke halte. Tiba-tiba sinar matahari sudah menerobos jendela-jendelan kaca, gedung-gedung semalam yang tampak indah sudah tak indah lagi, dari dalam kmarnya melihat gedung-gedung UGM di malam hari tampak jelas dan menarik tetapi tidak di pagi hari. Dia mandi kemudian, setelah itu aku. Dia sibuk merias wajahnya lagi dengan cream Natasha. Semalam sebelum tidur dia mengoleskan kapas yang telah dituangkan alkohol 75% dari botol warna hijau yang bermerek IKA lalu mengoleskan cream malam pada wajahnya. Dia tidur dan aku masih sempat nonton tv, acara bukan empat mata; kotak feat Nicky Astria; lagu-lagunya asyik tapi saya lupa judulnya. Pelan-pelan saja dll. Saya tidak sempat menonton acara tersebut sampai selesai, aku mematikan TV kemudian tidur tanpa pelukan karena dia tidak bisa tidur kalau di peluk dan dia harus bangun pagi untuk pergi kerja. Sudah selesai dia berdandan,dia mengambil pakai-pakaiannya kedalam koper, besok hari kamis adalah hari terakhir untuk kerja sementara jumat adalah hari libur nasional, dia mau berangkat ke Jawa Barat sore ini (kamis).

      Dia membawaku sampai di depan halte; aku merasakan sesuatu yang berbeda,  “terima kasih bro, sampai jumpa lagi”. Tiba-tiba aku merasakan sesuatu, lalu bertanya “kenapa aura tempat ini seperti kodim di kampung halamanku?”, masih teralalu pagi, belum ada keramaian manusia beserta kendaraan mereka. Masih terlalu pagi untuk kangen rumah, aku mengambil koran lokal yang selalu tersedia di dalam halte. Tibalah bus transjogja; di dalamnya aku melihat siswa-siswa yang membuka buku-buku mereka menutupi wajah mereka, ini adalah satu kejadian aneh di pagi hari ini, aku ingat, ini adalah musim ujian. Arghhh ingat masa sekolah dulu, selalu ketakutan, giat membaca hanya pada saat ujian. Mungkin anak-anak yang lagi giat membaca ini mempunyai kebiasaan yang sama dengan saya, sama halnya kebanyakan mahasiswa baru yang sering membaca di depan ruang kuliah saat sebelum menghadapi ujian tengah semester maupun uas. Hufff.. banyak orang yang terpaksa membaca. Terpaksa karena nilai berupa angka-angka. Kemudian aku ingat lagi mimpiku beberapa hari sebelumnya, aku kecewa dalam mimpiku itu karena saya lupa ikut ujian dan berusaha cari jalan untuk ikut ujian susulan tapi saya juga tidak berani menghadapai guru-guruku di sekolah. Saya membuka mataku dan ternyata hanya mimpi. Siapa yang telah menanam ketakutan itu pada otakku, kenapa saya hidup di dunia yang penuh dengan ketakutan?. Tiba di kampus lebih awal, kuliah akan mulai jam 09.30; bermain di dunia maya di LABKOM.

       Kali ini dosen akan berdiri diatas kursi dan meniru orang-orang yang sering berorasi di depan gedung-gedung pemerintahan. Ah mata kuliah media dan demokrasi. Bagaimanapun demokrasi adalah mitos bagi saya untuk saat ini. Yang nyata adalah penindasan dari tindakan otoriter yang  oleh institusi-organisasi sosial yang menyama ratakan semua manusia di muka bumi ini salah satunya adalah duani akademis yakni universitas. Semua orang diharuskan untuk bangun pagi, ikut kuliah tanpa absen, harus hadir 75%, terlambat di usir, tidak di perbolehkan untuk ikut kuliah, ujian tidak ada lagi toleransi terlambat 15 menit. Pemilik institusi mendapatkan keuntungan dari aturan tersebut, banyak orang yang tidak akan bisa lulus karena aturan tersebut dan menjadi mahasiswa abadi dan mebayar lagi dan lagi.

      Pengen sekali cepat menghamili perempuan yang menyukaiku kemudian punya anak yang nantinya tidak sekolah, cukup membaca saja di rumah dan bermain sesukanya atau berkunjung ke perpustakaan  kalau dia mau sekolah ya sekolah saja tapi kalau dia malas, biarkan dia malas karena sekolah memang bukan sebuah hobby ataupun  hobby yang pastinya hobby itu konstruksi sosial yang kemungkinan besar di paksakan pada otak individu mengatakan suka, anak yang tidak sekolah itu akan menghibur saya.

 

 

 


[1] Minuman yang terdiri dari soda, susu + syrup? Berwana merah

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.