Tinggalkan komentar

“Yogyakarta dalam Pusaran Meces”

“Yogyakarta dalam Pusaran Meces”

Hari ini saya bertemu dengan seorang teman yang saya kenal dip role, dia sedang menunggu pacarnya, kebetulan saya tidak punya rokok, saya pergi ke justice untuk minta rokok dengan teman-teman yang jual es semacam pop ice tapi di racik sendiri bukan dari bubuk sachet-an yang di jual di warung burjo dll. Saya kenal mereka tapi saya tidak tahu nama merekaa, walaupun sudah kenalan tapi saya tetap tidak bisa hafal nama mereka.

Teman yang saya kenal di prole itu ternyata pacaranya masih berteman dengan salah satu teman sejurusanku (di program studi sosiologi). ah, sang pacar itu, kami barusan ketemuan di labkom, dia tiba di justice dan menyamparku ” si…. lagi menulis buku, kamu tau nggak?”, “o gitu yah, saya tidak tahu. eh kalian berdua saling kenal ya?” aku mengarahkan leherku sebagai tanda penunjuk arah ke kedapn, kearah teman tetangga prole yang sedang duduk di depanku. “yah. kalian saling kenal dimana?”, “dulu sering main di temapat temanku dekat tempatnya”. kami tertawa bareng kemudian mereka pamitan. “duluan ya” kata mereka sambil mengendarai motor mereka dan meluncur ke jalanan yang agak becek di depan kampus karena tadi siang ada sedikit hujan, (jemuranku basah lagi/padahal saya bangun jam empat untuk mencucinya/sia-sia sudah, harus menunggu matahari di hari berikutnya/maksud saya semoga besok tidak hujan).

mereka sudah pergi, kini temanku sang penjual es sedang sibuk asah-asah perkap; seperti pengilingan es dan bubuk racikan yang dijual (hehehe ribet banget bilang saja blender dan gelas-gelas kotor kenapa sih?). sang penjual cilok menuju gerobaknya karena ada pembeli, saya tidak perhatikan pembelinya, tiba-tiba otak saya yang sedang mabuk berat menjurus langsung ke arah utara di bawah kaki gunung Merapi gara-gara lagunya Iwan Fals “surat untuk wakil rakyat”. ah lagu itu merupakan salah satu lagu favoritku selain “denting piano”.

kenapa saya kangen Meces; ah saya lagi kere dan sedang sakit, saya butuh teman untuk curhat, saya membutuhkan kak Anna. kemudian otak saya berputar lagi tanpa arah menuju labirin perkenalan yang makin hari makin menyempitkan Yogyakarta: justice>>cilok>>teman dari prole>>temannya Willy>> = Kak Anna + Tatang = “surat buat wakil rakyata”. yah sama dnegan surat buat wakil rakyat karena kami memang suka lagu itu dan saya kira kamu juga suka dnegan lagu tersebut terkecuali kamu adalah seorang mahasiswa pemakai hasil jarahan yang di lakukan oleh orangtumu di pemerintahan.

yah, kami pernah mabuk dan menyanikan lagu tersebut di ulang tahun ku yang ke-22, kami hampir jatuh dari balkon tapi tidak kami hanya terlalu senang dan jatuh tidak akan pernah terjadi karena kami menjadi terlalu sadar ketika kami dalam keadaan mabuk berat.

hari yang menyenangkan: pagi bangun jam empat cuci kain pelapis kasur usang (bad cover kale yah?). dan beberapa ce;ana dalam, mandi dengan air panas, pergi kulaiah sedikit lebih awal tapi lupa dompet, ah, inya pun tinggal Rp20000. pada saat tiba di perpus, saya sdauh merasakan rasa lapar yang luar biasa, tapi apa boleh biat toh di kantong jumperku hanya ada Rp 500, ah susah banget kalo sudah kayak gini, saya putuskan untuk main-main di depan layar komputer di labkom. jam 09: 30 ada mata kuliah Media dan Demokrasi yang di bawa oleh pak rambut gondrong berkostum balck block. kuliah berlangsung santai dalam demokratis semu; semua orang hanya diam ketika ditanya “apakah ada keluhan, bantahan, sangahan, kritik dll…?”. termasuk saya, kami semua diam saja meskipun ini adalah kuliah media demokrasi yang mengharuskan semua orang untuk bersuara dalam hal apa pun yang berkaitan dengan masa depanya (mau lulus nggak?.inggat bertanya di kelas saja sudah dihitung sebagai keaktifan yang berbobot 15%).

11.30 keluar dari kelas, saya sama salah satu temanku, kami ke toilet bareng karena dia bawa sesutu yang bisa membuat jiwa manusia berhamburan di udara. kami merayakan ritual tersebut di emperan lantai 3, ah terlalu nimat aku terbang duluan karena aku belum makan sebelum riatul mendadak tersebut. setelah ritual siang bolong tersebut aku langsung turun menju justice, aku melakukan kas bon karena aku tidak punya duit sementara mulutku makin kering, aku merasakan kehausan di padang gurun di tengah mendung yang semakin menjadi-jadi. “bro, kami aku nggak bawa duit, aku mau minum es. aku bayar besok saja, ok bro?”, “aku duduk di dipan bambu kecoklatan plus kehitaman, aku mengelurakan Insulin; aku membacanya, ah tulisan-tulisan dari teman-teman teater lilin, tadi sebelum kuliah aku sudah membacanya, kini hany tinggal satu halaman yang belum ku baca yaitu halaman satu yang mereka beri nama Ngocok/ngobrol coal kampus/”judul tulisanya make over campus yuk!!”. dalam tulisan tersebut mereka mengkritik sampah yang berceceran dimana-mana sementara di setiap pojok kampus sudah disediakan tempat sampah dan yang paling baru adalah tempat sampah di halaman kampus: merah, kuning dan hijau, ah ini mah warna kusut seperti rambuit yang di gimbal yang ngetern sepanjang masa. apakah buang sampah semabrangan juga termasuk sebuah ritual?. tidak ini hanyalah kebiasaan tolol yang telah mengakar, entah kenapa orang susah sekali untuk melangkah ke kotak sampah dan para cleaner service yang di sewa (outsourcing/sa;ah tulis kali yah) selalu sibuk membersihkan lantai bersampah puntung rokok. beginilah cara kerja kapitalisme, mereka ada buruh di pabrik untuk melinting, mereka membayar petani dengan sewaan tanah/lahan untuk menanam tembakau, para perokok adalah mesin yang sangat efektif membuat mereka menjadi kaya raya, dan saya adalah salah satunya, semua perokok sekarang di jadikan elemen mesin yang ikut memutar modal mereka, ada investasi dimana-mana. perokok mati kayak tikus yang tidak akan kenal oleh siapa pun kecuali bagi mereka yang tergolong dalam perokok dan penulis hebat yang berkaliber nasional atau internasional; mereka inilah perokok paling hebat karena merokok untuk berkarya, yah tapi toh mereka juga tetap mati hanya nama mereka yang tidak akan hilang dari ingatan masa. ah tapi tidak semua orang yang merokok adalah penulis atau pencipta maha karya dalam bentuk seni; lagu, patung, lukisan dll. para pekerja cs yang hanya bekerja untuk menyapu lantai, ah bekerja di ladang lebih berat dari pada hanya menyapu lantai licin, yang mengotori lantai adalah orang-orang yang punya kuasa, mereka mahasiswa atau dosen, mahasiswa yang berhak mengotori lantai karena mereka ingat, mereka sudah membayar mahal atau antri di depan teller bank seperti beli mie di samping emperan atau got di jalanan. mungkin itu yang membuat mereka seolah-olah punya hak untuk mengotori lantai, ah tapi mereka juga akan mati karena telah banyak merokok untuk balas dendam atau jangan-jangan banyak orang yang mau mati muda. aku pusing tapi asyik karena ada dialog antara diriku sendiri, aku sudah membaca habis tulisan menari tersebut. tiba-tiba ada pengemis nenek tua yang minta-minta di kantin, “bro, aku tidak mau mati tua”. kedua temanku yang jual es justice dan penjual cilok hanya tertawa, sepertinya mereka tahu bahwa aku lagi mabuk, otakku terasa membatu karena dinginya es yang mengalir berlawanan arah, otak kecilku membeku tapi asyik karena tubuhku sedang panas selain kepalaku, dingin atas panas bawah, suhu tubuhku terbagi menjadi dua seperti es di kedua kutub dan padang grun di sepanjang Timur tengah yang belum pernah aku kunjungi.

aku balik ke kampus untuk bermain di depan layar komputer; tapi aku di tahan oleh teman-teman BEM, mereka sedang sibuk membagi tugas untuk menguhubungi orang-orang di kampus lain untuk kerja sama dalam mensukseskan acara Fisfest tahun ini. aku hanya tertawa melihat mereka, aku lapar aku tidak mau berbicara. tiba-tiba kak Dempta bertanya “kamu sudah makan dek?”, aku hanya mengeleng-gelengkan kepaladan leherku “setelah rapat ini kita pergi makan di angkringan”, “wah, saya tidak bawa duit, ini baru selesai ngutang es di depan kantin, aku lupa dompetku”. wahahaha… aku tertawa sendiri sementara mereka sibuk lagi dengan membuat list nama-nama kampus yang akan di kunjung minggu depan.

kami pergi makan, ada beberapa teman sosiologi yang datang dan kami mulai membicarakan mata kuliah yang sudah drop sementara saya belum tau kasus itu. saya kira mata kuliah riset pasar hanya kuliah tambahan dan jadwalnya tidak berubah ternyata tidakkkkkk….. apakah saya akan membayar mata kuliah itu dengan cuma-cuma, kak Demta dan pak Andreas sudah mebicarakanya karena banyak mahasiswa yang tidak bisa ambil mata kuliah itu kalau jadwalnya berubah dari hari rabu menjadi hari kamis. ah kampus!.

sepertinya mereka akan dapat solusia atas masalah itu dan semunya akan baik-baik saja dan saya akan tetap ikut mata kuliah itu untuk semester ini, kalau tidak maka saya akan mebayar mata kuliah tersebut dengan cuma-cumana tanpa ikut kelas sekali pun, mata kuliat riset pasar bentrokan dengan media demokrasi dan saya tidak tahu kalau mata kuliah itu sidah ada perubahan jadwal dari pihak TU yang semana-mena mengatur segalanya.

sekarang sudah jam tuju malam dan saya harus pergi rapat lagi tetapi saya belum mempunya konsep apa pun di otakku untu disampaikan di rapat malam ini. apa yang saya harus harapkan dari teman-teman LGBT sementara saya sendiri belum kenal mereka begitu baik, saya hanya kenal beberapa orang itu pun hanya ketemu beberapa kali di asrama susteran SSps di balik hotel Quality. arghhhhhh aku masih mabuk, biarkan jiwa saya melayang-layang tanpa mengenal batas di dalam mimpi, sepertinya aku sudah mati!. ah belum aku masih dengar suara-suara yang memangil tuhan mereka yang tuli sehingga mereka harus berteraik-teriak kayak kodok di sawah setelah hujan, ah tapi kodok-kodok itu hanya bersuara nyaring di musim kawin dan pagi harinya banyak busa-busa putih cream yang termapung di air irigasi, kata temanku itu adalah hasil persengamaan katak pohon yang tergulir kedalam arus air kemudian di bawa kemana-mana tanpa di perdulikan oleh induk-induknya atau bapak-ibunya. menjadi kodok disaat mabuk kayaknya asyik juga, memang kodok tidak tahu malu ngutang sana-ngutang sini, kapan bayarnya?. Oh kapan saya bisa menjadi mandiri tanpa mengantungkan hidupku pada siapa pun atau kapan aku bisa membantu orang Dan tidak menjadi mahkluk yang tidak punya malu seperti saat ini?.

Tinggalkan komentar

PUSING >3

PUSING >3

ada pencurui di malam hari dan lyric itu berulang kali bunyi kencang di kamar depan dan sekali-sekali orang-orang itu membicarakan gay, punk dan bla bla bla. akhir-akhir ini saya pusing juga mendengar komentar mereka di dalam kamar yang selalu mengema di kata gay, kata gay selalu berbunyi keras seperti guntur di malam hari yang membangunkan aku dari tidur panjangku tapi hujan selalu nikmat untuk di rasakan dinginya dan mataku tertutup lagi.
wajah tanpan dari seorang teman baru yang masih melayang-layang di ujung langit-langit sebelah utara berkabut putih dan hujan mulai rintik-rintik membasahinya. aku teringat pada kisah tragisnya aku merasakan darah yang mengalir di pergelangan tangan kirinya. dia terlalu setia pada pacarnya dan kesetiaannya mencoba membunuhnya dengan cepat tetapi dia masih selamat, dia selamat dari maut yang dia ciptakan sendiri. darah mengalir deras di tanggan kirinya; mukanya mulai pucat dia mulai berdiri, perlahan-lahan dia ke halaman depan. dia naik motornya dan melaju ke arah utara dan tabrakan di bawah kaki gunung sumber wedus gembel. dia sudah berada di rumah sakit tiga hari kemudian baru keluarganya tahu keadaan dan keberadaanya, pacarnya datang dan minta maaf kepaddanya tetapi dia menjawab “tidak apa-apa, kita putus saja” dengan suara yang sangat pelan dan menyedihkan bagi yang mendengarnya atau mengalmi perpisahan itu sendiri.

air mata, luka, dan muka yang pucat menyeramkan kamar rumah sakit yang bercat putih tapi apa boleh buat mereka harus berpisah dan pacarnya baru sadar dan menangis dan teman baru saya itu hampir mati gara-gara ulahnya ah tetapi itu tetap keputusan temanku, kenapa dia harus sedih, kenapa harus merasa kehilangan, kenapa dia harus percaya orang dalam hidup ini?. pertanyaan-pertanyaan semacam itu hampir aku lontarkan tetapi saya tidak bisa karena di sampingnya ada pacar barunya dan aku baru kenal juga dan tahu bahwa mereka sedang pacaran. aku beruntung tidak mengatakan apapun kepada teman baruku itu.

aku menyukainya tetapi dia sudah punya pacar dan aku senang melihat temanku itu bahagia walaupun aku baru kenal mereka, aku merasakan kayak sudah lama sekali kenal dia, ah ini mungkin karena kebiasaanku, aku terlalu cepat akrab dengan siapa pun di dunia ini kecuali manusia-manusia yang sekos denganku, aku menjadi trauma dan aku tidak akan pernah berteman dengan orang yang sekos denganku, aku tidak mau ke kamar mereka dan mereka juga tidak boleh ke kamarku. aku pernah di seret ke kantor polisi karena di tuduh mencuri handphone; kamarku di periksa ketat oleh polisi dan bajingan-bajingan sekos. itu yang membutku jadi trauma untuk membangun relasi pertemanan yang strong ties dengan mereka, aku hanya bisa say hello kepada mereka dan itu sudah kuanggap cukup, kalau aku kenal mereka di tempat lain, aku akan berteman dekat dengan mereka seperti teman-teman lain di kampus atau dimana pun. tapi aku tidak beruntung karena mereka sudah sekos denganku.

mereka nonton sinetro dan kata gay meluncur lagi di mulut mereka, kenapa kata gay kos ini menjadi kata yang di gandrungi oleh mereka? apakah mereka merasa jijik kalau aku suka sesama manusia yang berjenis kelamin sama denganku? ah otak mereka yang jijik toh memek bagi teman-temanku yang rada heterophobia memek juga menjijikkan. mereka juga mau muntah ketika bicara mengenai memek. ini bukan permasalah jijik tapi konstruksi otak yang harus di rombak, anus dan memek sama-sama tidak jijik, mungkin perempuan akan beruntung dalam hal ini karena mereka memiliki kedua lubang suci tersebut, lubang-lubang yang selalu di jaga agar tetap dalam keadaan perawan, anus di jaga ketat agar tidak kena penyakit ambien memek yang selalu dibersihkan dengan daun sirih dan kontol yang tidak pernah dibersihkan karena sudah disunat atau kalu tidak disunat pun toh kalo di kocok tersu sudah tidak ada kulit di kepala penis, namun tetap menarik bagi yang berminat.

Gila, manusia hanya lahir dari memek yang menjijikkan itu beruntung bagi mereka yang lahir dari hasil kloning seperti dolly kemudia mati muda itu sangat asyik, toh dunia ini hanya tempat istirahat bagi yang percaya dengan ajaran-ajaran agama, dan bagi yang tidak percaya dengan agama juga tetap asyik untuk mati muda karena dunia sedang tidak baik-baik saja, seorang individu saja tidak bisa bertahan hidup sendirian di dunia ini, lebih baik hidup di bawah tanah, menjadi bagian dari tanah itu sendiri, tapi berada di dasar tanah sehingga tidak pernah mengalami atau tahu apa yang sedang terjadi di permukaan, karena di permukaan sangat riu, terlalu rame di bawah sana hanyalah tulang-tulang bisu yang keasyikan dalam kebisuan mereka masing-masing.

iyah dunia memang munafik tetapi apa boleh buat, hanya keinginan mati muda yang akan tetap bertahan melwan kemunafikan itu, mati muda adalah sebuah perjuangan, perjuangan yang tak takut mati, kejujuran terhadap diri sendiri yang sekaligus mematikan tapi bagaimana pun kejujuran lah yang bisa menyelamatkan semangat orang untuk tetap berjuang hingga akhirat di mati mudanya. berjuang untuk jujur dan berjuang untuk selalu tertawa itulah obat dari hidup ini, tidak ada obat yang bisa mengobati hanya tertawa bersama yang bisa mengobati segalanya, maka itu aku senang sekali bersama teman-temanku yang mempunyai orientasi seks yang sama denganku, aku senang mendengar pengalam mereka yang diceritakan kembali benar dan bohongnya itu urusan belakang yang penting cerita itu sudah membuatku tertawa lag Dan perutku mulai sakit aku harus ke toilet cepat-cepat dan dating secepat mungkin untuk mendengar apa yang maraca sedang ceritakan, cerita itu bohong atau benar aku memang tidak peduli tetapi aku hanya jujur bahwa aku menikmatinya. Tetapi untuk menceritakan pengalam persengamaan maraca di ranjang, saya kira itu hal yang tidak ada pentingnya untuk di distorsi berlebihan, toh semua orang bisa ml dengan meniru film-film bokep yang ada di media-media terutama yang ada di internet yang sangat mudah untuk di tonton dari pada beli vcd/dvd bajakan kemudian memenuhi kamar. Aku jujur, aku menyukai mulut maraca yang tak henti-hentinya Dan bebasa menceritakan apa pun tanpa mempedulikan masyarakat hetero kejam di luar wisma.

sekarang aku mendengar rencana mereka, mereka mau mukul seseorang tapi entah siapa, aku tidak tahu, mungkin mereka benar-benar homophobia tapi toh selama ini aku belum melihat seorang homosex mengangu mereka, ah siapa yang akan mereka pukul dengan cara kroyokan?. bagaimana pun setiap orang akan berusaha untuk melindungi diri masing-masing dan aku telah siap untuk itu semua. ah lagu sesuatu sedang mengema di kamar mereka.

anjrit mereka mau membunuh tapi tidak tahu siapa yang mereka mau bunuh,. mereka mau membunhnya lewat jendela dan satu perempuan sedang batuk-batuk di dalam kamar mereka sambil tertawa ngahak melihat acara-acara konyol di tv. mereka mau memaksa orang yang mereka bunuh itu untuk pergi menonton sepak bola dengan mereka, apakah mereka akan membunuhnya di toilet staion?. ah biarkan saja mereka membunhnya, toh aku tidak tahu siapa yang sedang mereka rencanakan untuk menjadi tumbal, ah kenapa otak mereka begitu rusak untuk merusak hidup orang lain yang masih mau hidup di dunia ini? dunia penuh dengan keberagaman seksual tapi kesadaran manusia yang telah diselangkangan para orang suci dan para jengot kambing.

kenapa mereka tidak bisa bicara dengan santai dan pelan supaya saya tidak mendengar rencana mereka yang sangt membingungkan aku. mereka sering ke gereja tapi otak mereka juga kriting kayak jengotnya para kambing yang selalu meneriakkan sesuatu yang tidak ada yang bernama Al. kasusu seperti ini menjadi alasan yang sangat kuat bagi saya untuk tidak meniduri agama apa pun apalagi tuhan yang ada di dalam otak mereka yang sangat jahat penuh dengan rasa kebencian atas kebahagiaan orang lain.

Tinggalkan komentar

GURUKU YANG GANTENG : Pedro Carvalho

GURUKU YANG GANTENG : Pedro Carvalho

 

      Tiga kali persetubuhan denganya dan terlau indah untuk diingat-ingat kembali JJJJJAda hal indah yang kunikmati hari ini mungkin juga esok harinya dan seterusnya, ia akan kunikmati dalam benakku dua kali dalam seminggu dalam satu setengah jam… mukanya , gerakan mulutnya dan matanya yang memancarkan energi yang belum pernah aku rasakan sebelumnya dari guru-guruku yang lain. semua tentangnya adalah keeolkan baru yang hanya aku saja yang menikmatinya. Tidak ada yang ingin menikmatinya dalam ruangan ini maka aku tak perlu takut akan kehilangan keindahan yang di pancarkan oleh bahsa tubuhnya, benar-benar tak mempedulikan! Akan kehilangan dia, aku benar-benra menikmatinya tanpa mendengarkan apa yang dia bicarakan di depan papan tulis, di depan murid yang lebih dari lima puluh orang. Aku tidak perduli dengan mata pelajaran dibawanya yang sangat asing bagi telingaku untuk dimengerti, dia akan menjadi yang kuamati, ia juga hanya menjadi yang sukai, bukan hanya aku yang berhak toh di kelas ini tidak ada mahkluk seperti saya yang menyukai sesama laki-laki, aku tidak punya hak tapi aku juga tidak menuntut, apalagi untuk memiliki, manusia tetap manusia, manusia bukan barang atau benda mati lainnya yang harus dinikmati walaupun aku tahu bahwa aku sedang membutuhkanya untuk memenuhi hasrat homoseksualitasku, setelah kebuttuhanku terpenuhi, mungki tidak akan ada lagi energi yang aku rasakan saat ini, mungkin akan menjadi hampa ketika aku sudah merasakan kenikmatan yang tersimpan dalam tubuhnya, hampa karena keinginan untuk menikmati telah usai, tapi apakah keyakinanku itu benar di masa depan, apakah aku tidak akan kangen lagi dengan guruku yang ganteng yang sedang mengajarkan bahasa jajahannya kepadaku, bahasa Portugis yang sangat angel untuk dipahami. Aku tidak perlu menyalahkan diriku sendiri, toh itu bahasa yang sudah dihilangkan secara paksa di negara yang baru merdeka dari Indonesia. Bahkan orang-orang elit politik yang melawan penjajahan orde baru juga sembunyi-sembunyi untuk memakai bahasa itu, sudah barang tentu bahasa Portugis hilang dari ingatan kolektif masyarakat, dan kini mereka memaksakan bahasa tersebut kedalam otak generasi yang lahir  di zaman orde baru, ah sunguh amat susah, makanya aku hanya memperhatikan guru gantengku dari Lisboa itu, aku tidak mau mendengar apa yang dia ajarkan, mataku terpana pada tubuhnya dan mulutnya yang tak henti-hentinya mengeja dan menguraikan setiap kata kerja. Konjugasi setiap kata kerja sangat susah buat saya untuk dimengerti, saya lebih suka belajar bahsa inggris saat itu dari pada bahasa Portugis. Guruku itu pernah tingal di London, dia bisa berhbasa Inggris daripada guru-guru bahasa Portugis yang lainnya, kadang heran saja, ”masa orang kulit putih dari Eropa tidak bisa berbahasa Inggris”. Tapi benar, sebagian besar dari guru-guru itu tidak bisa berbahasa Inggris dan saya beruntung bisa berbahsa Inggris dengan kosa kata pasaran yang juga saya tidak kuasai tapi semunya itu menjadi senjata ampuh untuk mencoba ngobrol dengan guruku itu. Tapi sesuai dengan aturan, tidak boleh mengunakan bahsa lain di dalam kelas bahasa Portugis, maka saya hanya diam dan menikmati tubuh guruku yang mondar-mandir untuk menjelaskan  di depan papan tulis hitam penuh debu kapur, dan teman-teman sekelasku sibuk menanyakan apa yang mereka tidak mengerti dan kadang mereka disuruh untuk maju kedepan dan menulis kosa kata yang mereka hafal atau melengkapi wacana tertulis baik berupa percakapan maupun hanya sebuah cerita liburan keluarga konyol di sebuah pantai yang tidak pernah saya tahu letakknya, atau dua orang yang melakukan perkenalan di bandara. Memang susah untuk dimengerti, untuk melihat tubuh pesawat terbang saja belum pernah, bagaimana imajinasi saya yang begitu kampungan itu bisa memasukkan cerita gaya hidup dari kalangan elit tersebut. Cerita-cerita dan percakapan-percakapan para elit tersebut di dirangkum dan menjadi bahan ujian di setiap semester bahkan ujian lulusan sekali pun, saya tetap lulus tapi dengan nilai yang pas-pasan saja, itu pun nilai yang kemungkinan di katrol atau nilai kasihan dari guru-guru yang tidak merelakan saya untuk tidak lulus; mata pelajaran yang paling saya benci ada tiga, bahasa Portugis, fisika dan juga matematika tentunya, otak saya mungkin dirancang untuk tidak bisa menghitung dari sononya atau pun pengaruh lingkungan, dimana semua orang (pelajar) di kampung saya tidak ada yang masuk ke dalam jurusan IPA, semunya suka dengan jurusan IPS, entah kenapa saya tidak tahu jawabanya, namun alasan yang paling konyol adalah sama seperti alasan saya, yakni mereka juga tidak bisa menghitung dengan baik seperti saya atau merasa pusing menghadapi masalah penghitungan dan rumus-rumusnya.

         Apa pun masalahnya saya tidak tahu jawabanya, saya hanya menikmati tubuh guruku di depan papan tulis yang berdebu putih yang kadang membuatnya mengindap bisionisis secara tiba-tiba karena penghapus yang terbuat dari kapuk kayak bantal mini untuk meletakkan kepala seorang bayi, dia batuk, dan keluar sebentar, setelah itu mulai lagi mengajar. itu terjadi selama tahun 2003, aku sudah kelas tiga SMP saat itu kemudian lulus pada tahun itu juga. Aku menikmati lirikan matanya yang selalu membuatku gemetaran, terasa geli di tengah kedua temanku, kami selau bertiga duduk di bangku yang sama (aku lupa nama mereka karena aku memang pelupa, walaupun mereka duduk dengan saya di satu tempat duduk yang sama, mereka adalah bukan teman baikku sehingga saya tidak perlu ingat-ingat nama mereka, saya hanya punya dua teman baik sekampung denganku yang tidak mungkin saya lupakan nama mereka; Latuso dan Olalu tapi ada juga dua teman cewek dari Kom dan Moru[1]; mereka adalah Angelita dan Cornelia).  aku tidak malu akan tingkah laku guru saya itu, semua orang mungkin tahu bahwa guruku sedang suka denganku, menyukaiku bukan karena aku tahu bahasa Portugues tetapi menyukaiku dalam hal lain, tidak apa-apa, saya tidak bisa berbahasa Portugues tapi saya bisa  bahsa nggris sedikit ala kadarnya yang membuat saya percaya diri untuk ngobrol dengan guruku di jam istrihat; kami kadang membahas artis-artis favorit kami, (kayak infotaiment). Saya suka Britney dan black eyed pease dia suka dengan Michael jackson dan Madona, dulu aku hafal salah satu lagunya Britney yang berjudul Oops i did it again; pertama kali kami ngobrol mengenai penyani-penyani itu, aku merasa senang sekali, aku bahkan menyanikan lagu tersebut di depannya, dia tertawa terbahak-bahak di depan ruang kelas kami, kala itu jam istrihat tetapi dia tidak mau pergi ke ruangan guru untuk istrihat disana, dia kelihatan asyik ngobrol dengan saya, disana ada beberapa teman yang ikut mendengar apa yang akmi obrolkan tetapi mereka tidak tertawa, mungkin mereka tidak mengerti apa yang sedang kami bicarakan atau mereka tidak tertarik seperti saya yang tidak tertarik dengan mata pelajaran Bahasa Portugues. apalah, yang pastinya saya tidak peduli dengan teman-temanku itu. Saya merasa tahu banyak mengenai artis-artis itu karena setiap bulan saya pasti dapat majalah yang isisnya cuman kehidupan elit para aktor dan penyani dari teman-temanku orang Oz yang kerja di kedutaan negara kanguru tersebut. awalnya saya suka lagu dan film-film yang dimainkan oleh orang-orang yang adalam majalah-majalah tersebut tetapi lama-lama saya menjadi sadar bahwa dan mulai bertanya; saya hidup di kampung, kenapa saya suka dengan kehidupan para elit  hollywood yang di tawarkan di dalam kertas-kertas tersebut?. saya memang tidak peduli dengan kehidupan yang di kotak-kotakkan atau saya telah dimabukkan dengan keelokan mereka yang mungkin telah diedit berlebihan hingga kelihatan terlalu halus kulitnya, saya menikmati, kenapa tidak, gaya hidup para elit yang di ekspos media masa memang asyik untuk dinikmati, membuat saya berkhayal, mereka cantik-canti dan ganteng-ganteng tetapi saya lebih suka melihat cowok-cowok ganteng yang hanya memakai celana dalam dan berenang di pantai kemudian di jepret oleh para budak media masa yang di kenal dengan sebutan paparazi. Atau mungkin majalah-majalah yang diberikan oleh teman-temanku itu menjadi satu-satunya sumber bacaan dan hiburan tersendiri di rumah yang tidak ada listrik sehingga tidak pernah bosan untuk mengitak-atik dari halaman satu sampai akhir dan balik lagi ke halaman awal hingga tertidur lelap kayak anak babi yang ditinggalkan iduknya, kehausan akan susu induknya di dalam sangkarnya yang terbuat dari alang-alang oleh induknya sebelum melahirkannya. Di rumah hanya ada radio kecil yang dibeli oleh kakakku sebelum dia berangkat menjadi buruh kasar Di Inggris, tepatnya di Oxford saat ini. Radi dan majalah-majalah holywood itu menjadi hiburan satu-satunya di rumah dan sesekali ke rumah warga lainnya untuk nonton sinetron Indonesia, yang isinya memang tidak beda jauh, setiap hari minggu saya tidak pergi ke gereja seperti adik-adik saya dan orang tua saya, saya lebih senang mendengar VOA, salah satu acara yang paling saya suka di chanel VOA adalah Sepuluh Lagu Tangga Populer dan ketika malam hari, nonton acara break dance, lagu-lagu yang telah saya dengar di minggu pagi, itu semua akan lantunkan kembali, dan aku mulai merasa bangga, aku tahu lagu-lagu itu sebelum penonton setia yang lain tahu judul lagu tersebut dan penyaninya, waktu itu aliran musik yang paling digemari oleh kalangna muda adalah Hip-Hop, aku sangat menyukai style Hip-Hop, cara pakaian mereka yang serba longar membuatku tergila-gila, setiap hari sabtu saya meminta duit pada ibuku, saya mau belanja pakaiaan, tentunya tidak ada mall atau distro pakaian di kota kami, yang ada cuman penjual obralan yang murah meriah, saya akan berusaha untuk mendapatkan pakaian yang paling mirip dengan penari-penari dan penyani yang saya gemari, wakti itu saya suka dengan gayanya Usher, Eminem dan Nelly. Bahkan suatu hari saya menyuruh salah satu teman saya yang saya anggap sebagai sepupuku sendiri, ya. kami sepupu karena orang tua kami terlalu baik kepada satu sama lain, terutama ibu dia yang membantu ibuku untuk melahirkan aku di pagi yang terlalu dini di bulan April 1986, aku menyruh Sonya untuk  memangkas rambut saya seperti gaya rambutnya Nelly; saya menyurhnya untuk membuat semacam tattoo api di kepalaku dengan silet, dan dia menuruti perintahku, adik ku itu sangat penter mengunting atau mencukur rambut baik perempuan mau pun laki-laki, dia bisa semuanya; kemudian ibu saya sangat marah sehingga saya terpaksa membotakkan kepala saya seperti seekor banyi yang baru lahir, sangat jelek!. Ibuku menyuruh Kakekku untuk  memangkas rambutku dengan pisau tajamnya, dia membawa tempurung kelapa yang di isikan air di tangan kirinnya sementar tangan kanannya mengengam sabun colek. Hiburan-hiburan itu membut saya lupa darata, saya tinggal di kampong miskin jalan yang melintasi kampung itu pun belu di aspal sehingga akan Lumpur seperti di swah yang baru di garap oleh kerbau, tapi mau apa lag, saya sangat menikamti gaya hidup yang hanya terlihat dari cara berpakaian Dan hafal lagu-lagun yang sebenarnya saya tidak tahu artinya yang liriknya penih dengan caci maki. Hal ini membuat saya Dan pemuda sekampung jadi tidak peduli dengan kehidupan yang nyata, kehidupan kami di dalam Lumpur kala hujan tiba Dan membuat kami tidak tahu malu untuk nonton di rumah orang-orang kaya yang tidak bisa mengusir kami dari rumahnya untuk menonton TV bersama maraca, ini adalah tingkah laku yang sangat luar biasa kuarang ajarnya, kami telah mengangu maraca, tuan rumah mau makan tapi kami ada disana, sehingga mereka harus menahan rasa laparnya Dan menunggu kami sapai pulang baru maraca makan atau makan terlebih dahulu sebelum kami dating; listrik padam dari jam sebelas malam sampai jam enam sore baru nyala kembali Dan itu sudah menjadi jadwal ruitin kami agar tidak melewati satu sesi acara di televise; saya suka sinetron dan acara break dance, Radi VOA membuat saya untuk tetap bertahan menikmati lagu-lagu yang saya tidak tahu artinya; saya mulai membanggakan diri, saya tahu lagu-lagu sebelum orang lain tahu, saya semakin rajin mendegar radio tiap hari minggu Dan itu adalah jadwalku; tidak ada yang berhak untuk mengubahnya, bahkan dalam keadaan apes sekali pun saya menyuruh orang tuaku untuk beli baterai agar ssaya bisa mendengar lagu-lagu di radio kalau sampai tidak bisa membeli baterai baru, maka ssaya akan menjemur baterai yang sudah tidak ada energi pembangkit listriknya, kalo musim hujan saya akan menjemurnya dekat tungu di dapur, semunya saya lakukan untuk tidak melewati acara Sepuluh Tangga Lagu Populer di VOA. Sebelum ada acara break dance di salah satu Channel TV Indonesi (kalo tidak salah Global TV), adik-adik saya melihat saya sedikit gila untuk mendengar radio, sampai aku menyuruh semua orang diam; kalau maraca tidak pergi ke gereja Dan hanya bermain dirumah tapi setelah ada acara break dance, adik-adikku juga mulai ikut focus dengar lagu-lagu yang terkenal di Amerika Serikat atau di kota-kota metropolitan lainnya. Aku merupakan racun di dalam keluarga kami, aku telah mempengaruhi mereka untuk menyukai apa yang sebelumnya hanya saya sendiri yang suka, kini kalo tidak ada baterai, kami semua menuntut orang tua kami untuk membelinya; kami akan marah sekali kalau tidak ada baterai Dan disuruh mengerjakan pekerjaan rumah pun jade mals-malasan, itu adalah cara satu-satunya untuk membalas dendam agar maraca sadar Dan beli baterai baru agar kami bisa dengar lagu-lagu kesukaan kami. Media masa tersebut telah mengajak kami untuk bertingkah konyol semunya adalah di luar kewajaran memalukan Dan menjijikkan di dalam kampung miskin; semunya telah mengajak kami untuk berkhayal, mimpi-mimpi itu mustahil untuk digapai dengan hanya percaya pada nasib yang mebuat impian itu mendadak jadi berubah dan segera memiliki barang-barang elektronik yang menjual mimpi-mimpi yang sunguh tidak masuk akal tetapi sangat nikmat untuk di khayalakan.

Aku tidak mau ibuku menangis melihat gayaku yang makin kacau, aku duduk diatas batu asah yang sering dipakai oleh bapakku untuk mengasah parang dan tombak nya sebelum ke kebun kemudian pergi ke tengah hutan untuk berburu babi hutan, rusa dan banteng liar bahkan juga ular besar yang saya sendiri tidak tahu namanya, banyak jenis ular dan bapak saya sering membunuh mahkluk-mahkluk itu walau pun keluarga kami tidak di perbolehkan untuk makan daging ular, hasil buruan tersebut akan dinikmati oleh orang-orang kampung karena dagingnya terlalu banyak.

 

 

 

Cuman satu btahun dan tiga kali melakukan hubungan anal oral tetapi tidak mudah untuk terhapus dari benakku J . Satu tahun bersama guruku yang ganteng itu di sekolah SMP dua tetapi berubah menjadi Escola pre Secundaria numero un de Losapalos yang terletak di atas bukit Peik yang kemudian di kenal dengan sebutan Natura di zaman Orde baru Dan berubah lagi menjadi Kulu hun yang sama persis nama  salah satu tempat di Dili ibu kota Timor Leste.

Aku menghabiskan satu tahun di Dili, saya masuk sekolah muslim satu-satunya di Timor Leste, tepatnya di kampung Alor, nama sekolah itu adalah Timor Islamic School Allmufaridun, guru-guru kami adalah orang ndonesia semua. Saya memilih sekolah ini karena saya mau belajar bahasa Indonesia dengan baik selain itu saya juga tertari dengans atu mata pelajaran yaitu bahasa Arab; wah terlalu sulit di banding bahsa Portugis, tapi saya harus belajar, walau pun Alif ba ta tsa saja saya tidak hafal sampai meninggalkan sekolah tersebut Dan pindah lag ke salah satu sekolah baru yang dibangun di ats bekas sekolah menengah umum, SMA I Lospalos, sekolah ini baru Dan sangat nyaman untuk belajar lantai Dan dindingnya masih putih bersih pokoknya, sekolah ini dikenal dengan sebutan Escola Secundario Nino Konis Santana de Lospalos.

 

xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx

 

 

(menulis ulang karena aku sedang memujanya di dalam ingatanku sendir) saya bertemu dengan beliau di sebuah restaurant besar di Dili pada saat itu; saya bertemu dengan dia, saya menceritakan cerdas cermat yang saya ikuti dan saya bisa menjawab semua pertanyaan yang berhubungan dengan nama profesi dalam bahasa Portugues, guruku kelihatan senang, dia memberikan Lima dollar kepada saya, dia mengajakku untuk bertemu dengan dia di Lospalos lusa; saya tepati janjinya, saya kembali ke meja makan di depan, ada kakak saya Dan beberapa teman dari OZ, kami mau makan malam. Besok malam saya harus berangkat ke Lospalos untuk ketemu dengan guruku, saya tiba di kampung halamanku pada malam hari Dan sore harinya saya langsung ke kontrakan para guru-guru dari Lisboa yang terletak di sekitar taman kota yang berbuaya tanpa air, buka buaya darat tapi cuman patung saja. Saya ngobrol dengan guruku dalam bahasa Inggris, saya tidak bisa berbahssa Portugis sama sekali, Dan salah satu security di rumah tersebut mulai mengejekku, “kamu bicara dengan guru Portugis, tapi dalam bahsa inggris, kurang bagus” Dan saya menjawabnya “ah, saya memang tidak bisa berbahsa Portugis, saya mau apa lag kalau guru ku bisa berbahasa Inggris”. Saya bertemu dengan guruku kami ngobrol budaya patriarki yang mengharuskan cowok untuk menikah dengan perempuan Dan harus “membayar” atau menyerhkan belis kepada pihak keluarga perempaun dalam jumlah yang sangat mematikan kemudian guruku itu menceritakan bahwa dia tidak mau menikah karena dia tidak siap mengurus anak Dan dia lebih tertarik berhubungan dengan laki-laki dari pada perempaun walau pun dia adalah seorang biseksual yang bisa berhubungan dengan perempaun mau pun laki-laki. Akhirnya aku menyadir bahwa selama satu tahun dia telah menyukaiku Dan aku hanya tidak bisa menyetubuhinya karena aku adalah muridnya tapi kini tidak ada lagi tembok pemisah, tidak ada istilah murid Dan guru. Setelah jalan-jalan Dan tidak sadar kami sudah tiba di pasar baru yang letaknya kurang lebih dua kilo meter dari tempat tinggal maraca; kami masuk kedalam pasar Dan dia hanya membeli sebuah lemon, saya tahu tujuan dia bukan untuk belanja tetapi ada tujuan lainnya yang saya tidak tahu, kami jalan balik arah sesampai di rumah kontrakan maraca, malam sudah turun secara perlahan-lahan, dia menyuruhku untuk berkenbalan dengan teman-temanya tetapi saya tidak bisa, sampai hanya untuk mengatakan kata Adeus saja pun aku lupa, aku mengatakan good bye tetapi guruku menyuruhku untuk menyampaikan salam perpisahan dalam bahasa Portugis, ah susah, aku lupa, akhirnya aku ingat Adeus dan mereka menertawakan saya karena kata segampang itu pun aku lupa. Entah kenapa aku jade kelihatan orang bingung di depan teman-temanya, aku terlalu nafsu melihat guruku; kami keluar dari rumah kontrakan maraca itu kemudian kami ngobrol lagi di jalan, guruku mulai memeluk aku, waktu itu sudah malam sekitar jam tujuh, jalanan kelihatan sepi, tidak ada orang karena ini musim hujan, mungkin ini yang membuat orang malas untuk keluar rumah. Aku mulai ngaceng sejadi-jadinya, tangganku mulai memegang alat vitalnya ternyata sama, dia juga sedang ngaceng; kami tidak tahan lag, akhirnya kami masuk ke dalam sebuah rumah peninggalan yang setengah terbakar oleh ulah milisi pro integrasi di belakang kantor pos, aku senang merasakan mulutnya yang selam satu tahun membuat imajinasiku pelak dan bingung, akhirnya aku merasakan tubuh indah itu di bawah cuaca mendung hitam pekat yang mengintip kami melalui atap rumah yang sudah bolong, hari berikutnya kami menuju tempat yang jauh sekali dari kota, sekitar lima kilo meter dari kota, kami menuju lubang tanah putih yang di tumbuhi banyak alang-alang dan satu poho yang saya tidak kenal, kami bersetubuh di bawahnya. Dan besok harinya saya berangkat ke Dili, tetap dia yang menanggung ongkos. Satu minggu kemudian kami bertemu lagi di Dili, kali ini kami bersetubuh di sebuah hotel, saya tidak tahu bama hotel tersebut karena ditulis dalam bahasa China, berseblahan dengan sebuah tempat sewaan peralatan diving. Ternyata dia juga ikut sedih karena Portugal kalah melawan Yunani di ajang Euro cup. Ah saya tidak peduli, gara-gara nonton Euro cup di lapangan Municpal[2] , tante saya sudah mengusirku dari rumahnya dengan alasan dia takut; dua minggu lalu ada mayat yang temukan di dalam kamar mandi tersebut. Dia takut kalau aku sampai terbuh sperti itu. Aku sering smsan dengan guruku itu tetapi suatu hari aku sms dia dan nomoh hpnya tidak aktif lagi. Mungki dia sudah pergi ke negaranya dan tidak lama kemudian aku juga meninggalkan tempat tinggalku sendiri dan menggila di negara orang lain. Aku telah mencari guruku di berbagai jejaring sosial tetapi saya tidak menemukannya, apakah saya harus mencarinya sampai di rumahnya; ah tidak mungkin, saya sudah tidak punya angan-angan lagi untuk pergi ke negara-negera orang kulit putih, saya meyakini bahwa saya tidak punya kemampuan untuk sampai di sana; di belakang sana masih ada banyak harapan yang perlu di buktikan, saya mengharapkan sebuah dunia yang bebas dari dominasi heteronormatif, teman-temanku telah memberikan satu peta kehidupan manusia yang bebas dari moralitas dunia normal yang hanya membahagiakan orientasi seksualitas tertentu, aku sedang merencanakan untuk mempelajari peta itu dengan baik agar saya tidak menyasar ketika sudah memasukki area tersebut, saya mau menikmati kehidupan itu tanpa meragukan ajaran dunia modernitas yang hampir mengebiri hasratku. Aku tidak menyerah untuk berfantasi yang aneh-aneh tepai di belakang sana sepertinya ada yang sedang menantikan kedatanganku ah, semoga SESUASU, wahahah sensu asu enak JJJJJJ


[1] . dua tempat tersebut terletak di sekitar pantai utara Timor leste bagian Timur

[2]  Stadion Municipal; satu-satunya Stadion besar yang di miliki oleh kota Dili

Tinggalkan komentar

DIATAS PERMUKAAN DALAM KEDALAM SURAMNYA SUMUR: AIRNYA JERNIH TIDK KERUH

DIATAS PERMUKAAN DALAM  KEDALAM SURAMNYA SUMUR: AIRNYA JERNIH TIDK KERUHImage

 

1. Mantan ide kanibal

 

Angap saja saya tidak pernah mengenalnya ; yah… saya tidak mengenalmu toh namamu saja saya sering lupa walaupun sangat tidak sukar untuk tetap diam dalam pikiran oleh teman-teman yang lain baru mengenalmu beberapa bulan-hari yang lalu; namamu hanya terdiri dari empat atau lima huruf saja tapi itupun tidak bisa menetap di otakku apalagi dihatiku. wahahahah.. untuk tubuhmu; wah… ternyata mirip dengan seekor manusia yang sangat  menjijikkan (kau yang mengelurkan kata jijik itu). biasanya aku memandangmu berkali-kali tapi kini tidak, aku tidak akan pernah mengulanginya lagi. Awas kau melihatku lagi, aku akan mencongkel matamu Dan memakanya, hum..sepertinya enak karena matamu mirip dengan mata ikan tongkol yang sering aku makan di warungnya si mba Ndut.

 

2. Gie’s soundtrack

Aku mendengarmu

aku kangen kau sobat-sobatku

aku kangen kau hutan

aku kangen kau gunung

aku kangen kau laut;pasir, pantai, ombak dan angin laut yang selalu mendesir; giat melambai-lambaikan segala daun di bibirmu yang begitu elok

aku kangen kau mata air; air terjun dan sungai yang mengalir terus

aku kangen kau lmut-lumut hutan yang selalu basah

aku kangen kau hamparan rumput yang selalu terselimuti kabut

aku kangen kau burung-burung hitam yang selalu menghiasi kabut yang kadang-kadang menghambatmu untuk menampakan diri; kau selalu berusaha menampilkan sayap hitammu, aku melihatmu, kau kukuh, kau ganteng sekali sayap hitamku!; aku tidak akan merusak sehelai pun sayaphitamku, aku senang kau mengirapkan dirimu dalam asap hitam dimalam hari yang akhir-akhir ini selalu dingin meskipun musim bediding telah lewat; bunga-bunga manga telah berubah menjadi musim buah murahan di pasar; keluarlah asap hitamu sekaligus menghantarmu sayaphitamku; kau disana, aku tahu kau benar-benar dalam cegkraman mereka; aku mulai bohong untuk tidak mengenalmu sayap hitamku; kau menjadi tontonan, kini semua orang sudah mengenalmu sekalipun kamu bukan seekor burung hantu yang dicetak oleh kotak hantu siluman berbisa, tapi kini kau telah dimasukkan kedalamnya secara paksa; aku mengenalmu sayap hitamku, kau bukan kuntil anak atau genderuwo yang dibedaki oleh suster ngesot di balik layar sebelum tampil di hadapan male gaze

aku kangen kau bunga liar yang tak bertuan; aku tak akan memetikumu; agar kau mampu melahirkan kegilaan dan biarlah benih-benih keliaranmu tumbuh menjalar ke seluruh penjuru; untuk membinasakan ketakutan dan kesadaran semu

kau tidak bertuan dan aku bukan tuanmu maka

kau dan aku bebas mencengkram setan-setannan bisu itu

setan-setan bisu yang sadar dan sengaja

yang telah atau akan mencuri akar-akarmu dan akar-akarku

3.aku kangen balkon

aku mau cerita

aku mau menyediri diatasnya sambil memandang pemandangan yang penuh dengan tumbuh-tumbuhan dan sedikit bunga liar di tepi irigasi; mirip bunga matahari, dan seram di malam hari konon ada kuburan tak dikenal, tidak tahu kuburan siapa; yang pastinya kuburan perempuan tua

aku mau menyendiri dalam sleeping bag bersama dinginya malam sambil mendegar lagu-lagu kesukaanku dengan suara—volume yang sangat kecil–rendah sehingga aku juga masih bisa mendengar suara kodok, toke, cicak, jangkrik, bunyi sayap tawon yang semakin banyak sarangnya di atap balkon dan juga anjing-anjing yang tiba-tiba mengongo; wajahku terbuka menerima butiran-butiran hasil lapuknya bambu—seperti biasa; tidak usah pasang tirai biarkan aku menyatu dengan udara malam yang dingin tapi bersahaja tidak mematikan selama tidak ada wedus gembel; semuanya membuatku baik-baik saja—tiupanya selalu berhasil merayuku untuk meceritakan apa pun yang telah aku lakukan sebelum menghingapinya—aku menceritakan semua dan berujung di uap kopi-uap teh-asap dari beberapa lintingan tembakau dan menyisakan sedikit kotoran di gelas, piring dan sendok. Tidak apa-apa; saya akan membersihkan semuanya di pagi hari sebelum berangkat  ke dalam dunia kiamat; dunia hantu-setan bisu; dunia selalu kiamat hanya saja kita berusaha sekeras mungkin untuk  berpura-pura untuk tidak mengetahuinya.

 

3.Berusaha untuk membawa sepatu untuk bersenang-senang sendiri di dalam hutan buatan sambil mencari tahu apa yang terjadi di sana baik sekarang maupun sebelumnya; dengan harapan yang amat-sangat. Semoga mereka bisa menceritakannya lebih banyak lagi dan lagi… aku tidak perduli dengan kamu yang tidak perduli <sesuatu kah? J> dan hanya membawa developmentalism-normalisasi busukmu itu. Sudah cukup agama dan moral di ajarkan di sekolah mereka, sudah cukup mereka dinormalisasikan, aku hanya mau bermain dengan mereka, anak-anak itu menanyakan agamaku apa—aku tidak beragama dan mereka sambil tertawa dan membantah—berarti kamu anak liar—benar sekali aku anak liar—tapi ibuku-dan ibu kalian dan kalian semuanya toh biasa-normal saja—tidak luar biasa. Biarkan saya liar; keliaranku tidak akan pernah mengusik kepercayaanmu kepada hantutuhan.

 

  1. Mr. Ego; lyricnya apik/erangan onani idealisme
  2. Donna donna; kepengen meniduri pohon berlumut basah
  3. puisi cahaya bulan; tertusuk  benarannn…
  4. OST GIE/S07; sangat ingin bertemu dengan mereka namun sebelumnya kepantai dulu atau ke pantai dan tidak pernah ketemu dengan mereka lagi?
  5. summer breez: kayak lagi di pantai walaupun sedang duduk menyediri di kamar gelap sambil memuja laptop
  6. rainning man: maunya hujan deras di malam ini; musim kemarau sudah lama sekali menemaniku dan sudah membosankan; biarkan aku melumpur dengan tanah kapur—tanah putih di depan rumah itu.
  7. desert rain; sangat ingin untuk mengistrihatkan tubuh ini di atas pair basah
  8. wild world; masa sehh…dunia masih liar bagimu kah?

 

 

 

Tinggalkan komentar

02022012 SORE

02022012 SORE

Aku sedang online di facebook Dan di wordpress, aku chatting dengan teman lamaku. Agus, di memberi komentar di statusku yang barusan aku perbaharui, ‘ni dios, ni amor, ni patria’. Ini  komentarnya “ cul de sac”. Saya heran, kenapa temanku ini menjawab dengan kata-kata yang saya sendiri tidak tahu artinya, ini bahasa Prancis yang artinya ‘jalan buntu’. Temanku mungkin menganggap  anarchy adalah sebuah jalan buntu, ah tidak anarchy bukan jalan, sekali pun jalan pasti sangat lebar, bukan setapak lagi atau bukan gang-gang kecil yang ada di kota-kota besar yang membuat orang selalu nyasar. Kemudian aku membalasnya, “baik kalau begitu hancurkan semua penghalang jalan agar tidak buntu lagi, apakah kamu sedang ikut demo?”, dia menjawabku “ lagi demo masak cumi”. Ah apa lagi ini, ternyata dia tidak serius menanggapi statusku atau memang dia tidak tertarik, hanya karena akua teman lamanya, dia dengan begitu santainya membuat coretan-coretan di bawah statusku, tidak lama kemudia dia memberi komentar lagi; “nanti saya ke Yk, kita masak iwak asu[1] di Meces”,  aku kaget membacanya, sudah lama, hampir tiga tahun kami tidak pernah ketemu lagi, apakah kali ini dia benar-benar mau ke jogja, selain kangen dengan dia, aku kangen juga dengan tas gunung yang dia pinjam dan belum balikkan sampai sekarang. “tidak, kita tidak bisa masak daging anjing di Meces karena kak Anna punya banyak anjing  sekarang” aku membalasnya dan dia hanya memberi tanda \m/ untuk menjawab komentarku yang sangat jelas di atas, ah temanku ini benar kacau. Tidak lama kemudian hp saya berbunyi itu tandanya bahwa ada pesan baru, aku melihat layar ponselku, “din, lagi dimana?”. Pesan tersebut dari temanku yang namanya juga sama Agus, ini membuat saya bingung, apakah si Agus Medan yang sudah liburan di Jogja, dan mau ajak saya untuk makan daging anjing?, ternyata bukan dia, ini Agus yang beda, temanku yang sudah dua tahun tidak berjumpa secara tatap muka juga, tapi karena hanya sekilas melihat pesan yang ada di layar handphone, aku terburu-buru membalasnya; “aku lagi di kampus kita, tepatnya di Labkom, kamu dimana, apakah kamu lagi di Jogja?”. Karena handphone saya agak error, lama sekali aku tidak mendapatkan jawaban di mesin penguras dompet tersebut, aku baca lagi pesan tersebut. Astaga benarrrrrrr… ini bukan Agus Medan, tapi ini pesan dari Agus, temanku gay ganteng. Wah dalam hitungan detik saja aku udah horny gak karuan. Kebetulan aku baru isi pulsa, ah. Alangkah baiknya aku telpon saja, aku minta maaf atas pesan yang tidak nyambung yang telah aku kirim tadi; malu dan horny kini bersatu di wajahku yang berseri-seri. Aku berharap setelah minta maaf yang tidak perlu itu kami bisa bertemu hari ini, dia menjawab panggilan saya dengan tertawa dan bilang tidak apa-apa dan sekaligus menyuh saya untuk tunggu di depan kampus, dia mau menjemputku, “ah mimpi apa aku semalam?” kalimat itu mengema lagi di dalam fikirku. Aku chatting di facebook sambil download beberapa buku dari sang Anarchist terkenal, mbah Bakunin, hari ini koneksi internet lumayan bagus untuk download atau karena sudah sore dan dosen-dosen sudah pada balik ke rumahnya masing-masing sehingga pemakai internet berkurang dan loadingnya untuk download terasa cepat dibangingkan jam-jam sibuk, tapi aku tetap tidak sabar, menunggu buku-buku itu secaptnya terunduh, aku juga mengunduh beberapa lagu yang disharekan oleh salah satu temanku, kami agak lama hampir satu bulan tidak saling menyapa, mungkin karena aku terpaksa mengatakan bahwa aku sebenarnya suka sama dia juga tetapi dia bukan homosek, orientasi seksnya adalah hetero. Dia teman yang tetap asyik untuk diajak ngobrol hura-hura di facebook mau pun lewat sms, dia adalah Meta, salah satu teman Cowok yang turunan chienes yang aku kenal ketika aku berlibur di InstitutA setahun yang lalu, dia hetero tapi bukan Homophobia, itu yang membuat aku seneng dengan semua teman-teman aanarchy yang kukenal saat ini. Aku sharing salah satu cerpenku di blog kepada dia, aku menyuruhnya untuk membaca dan memperbaiki bahasa indonesiaku yang masih kacau. Spertinya dia sudah mengerti bahasa saya karena sangat gampang untuk dimengerti, tidak ilmiah dan kosa kata yang aku pakai dalam tulisan itu memang bahasa pasaran semua. Aku menyukai temanku itu secara nafsu birahi, mungkin aku bukan mahkluk-mahkluk yang ada di dalam lirik lagunya The Panas Dalam yang bunyinya seperti ini “ ujung-ujungnya minta kelamin”. Aku hanya terbuka dan mengatakan kepada setiap teman-temanku yang aku suka dengan ngaceng, “aku menyukaimu”, bagiku itu sudah cukup, aku sudah berani mengatakanya secara frontal, aku memang tidak perduli apakah temanku itu akan homophobia kemudian tidak mau berteman lagi denganku, toh. di luar sana masih banyak orang yang seperti aku, aku tidak sendirian di dunia ini dengan orientasi seks yang dianggap tidak normal oleh masyarakat yang menganut paham heteronormatif dan sering melakukan diskminasi. Ah aku memang frontal untuk menghadapi nafsuku sendiri tapi tidak mencelakakan orang dalam arti saya tidak mau mengangu orang dengan nafsu saya, semuanya akan baik-baik saja, saling mengerti, aku juga bukan seorang yang heterophobia yang memaksa orang untuk memenuhi kebutuhanku tersebut. Aku turun dari lantai dua menuju kantin, yang didepanya ada teman-teman dari Jawa Barat yang menjual minuman; sejenis pop ice, aku memesan kopi es, aku meminumnya dan meminta rokok mereka; terasa enak sekali sore ini, karena cuaca terasa dingin, sudah hampir satu bulan hujan terus, tapi sumuk tidak dingin. Aku minum sambil dengar lagu-lagu reggae Indonesia yang sedang mengaung di bawah meja kerja yang diatasnya terdapat mesin pengocok dan pengaduk, (husss…sebut saja blender jangan mikir yang saru-saru).

Tiba-tiba hpku berbunyi lagi, kali ini panggilan bukan pesan, aku menerima panggilan dari temanku Agus, Agus yang gay; “din, aku tidak bisa menjemputmu, ada rapat mendadak di kantor, gini saja, kamu datang ke Malioboro, tunggu aku di depan Benteng Verderburg”. Aku menjawabnya “baik, aku kesana sekarang”. Mau bagaimana lagi, ini teman yang udah cukup lama nggak pernah bersua dan baru kali ini dia ada waktu untuk mengajakku untuk bertamu ke rumahnya.

Aku segera menju halte dibawa jembatan layang, naik Trans jogja yang menuju arah Malioboro, tepat berhenti di halte depan benteng Vedeburg, setengah jam kemudian dia datang dan kami pun berangkat ke tempatnya, kami berhenti di jalan dan makan malam bareng di sebuah warung stelah makan kami melanjutkan perjalanan kami, dia berhenti lagi, dia membeli rokok, walaupun dia tidak merokok. Dia memebelinya untukku, aku memilih rokok marlboro light, dia ambil rokok itu dan memerikanya kepadaku, ini adalah sebuah hadiah, aku jarang sekali beli rokok mahal itu, rasanya tidak enk tapi banyak cerita tentang rokok itu bersama sepupu-sepupuku di OZ, mereka lebih suka rokok Winfield tapi ketika mereka tiba di Timor leste, rokok putih yang ada cuman Marlboro waktu itu, terpaksa mereka membelinya, mereka tidak suka rokok kretek. Aku akan selalu ingat wajah mereka ketika menghisap rokok Marlboro, seolah-olah tidak lama lagi aku akan bertemu dengan mereka; mungkin suatu saat tapi tidak untuk sekarang, aku hanya menyimpan wajah-wajah mereka di dalam ingatanku, aku dan mereka sering menghabiskan malam-malam di jantung kota yang sepi, merokok dan curhat, mereka menceritakan kehidupan mereka di Sidney dan aku menceritakan kehidupan aku di kampung, yah itu tidak pernah habis untuk diceritakan; aku membutuhkan rokok Marlboro untuk ngobrol dengan mereka di ingatanku sendiri, seolah-olah kami sedang duduk di taman kecil yang ada patung buaya, di mulutnya ada pancuran air tapi tidak berfungsi lagi untuk mengeluarkan air. Sepertinya aku membutuhkan teman curhat untuk ngobrol apa saja, aku bilang ke pada Agus, “bro, malam ini aku mau ngobrol lama dengan kamu, boleh ngggak?” dia menjawabku sambil senyum-senyum, mukanya berseri-seri, sama kayak aku “boleh, bro” katanya. Dia melajukan motornya tidak lama kemudian kami sampai di tempat tujuan kami, yaitu rumahnya mas Inel.

aku sudah hampir lima kali ke tempat situ tapi aku lupa namanya. Daerah-daerah yang bertetanggaan dengan salah satu universitas Islam terbesar di Yogyakarta. Ah, ternyata Agus dan mas Inel memang sudah kayak kakak beradik, mereka tinggal di rumah yang mirip Villa kecil itu, sangta indah menurutku karena bisa telanjangan di dalamnya tanpa ada mata-mata yang melihat, tapi aku tidak mau melakukannya. Walaupun teman-temanku itu sering bebas dari pakaian mereka, Agus membuka pintu kamar yang disominasi warna hijau gorden, dia menyuruhku untuk masuk, aku langsung memeluknya erat-erat. Aku menanyakan mas Inel; apakah dia masih bangun, mungkin aku harus bertemu dengannya sebelum kami ml tetapi kata Agus tidak usah karena dia sedang istrihat, dia akan masuk kerja tengah malam, jadi aku memberhentikan nitaku untuk ketemu dengan tuan rumah tersebut, dia tidur di kamar atas.

untuk melampiaskan rasa kangen yang sudah lama tersimpan dalam hati, aku memulai kenakalanku dengan mencium mulutnya; kami berciuman hampir satu jam sudah, dia mau mandi dulu sebelum kami ml tapi aku menyuruhnya tidak usah. Kami memulai ritual kami; saling menjilat dan itu kami lakukan dalam waktu yang lumayan lama sekitar dua jam, sepertinya kami tidak bosan untuk melakukannya, mungkin dengan alasan bahwa kami sudah lama tak berjumpa, kami saling kangen. Entah berapa jam kemudian, aku mulai tak tahan lagi, aku menyodok anusnya dengan jari tengahku, dia mulai mendesah, aku menyuruhnya untuk ambil pelicin, ternyata pelicinyanya sudah habis tinggal satu bungkus pelicin sutra, aku mengoleskan pelicin itu di kontolku dan di anusnya, sekarang aku menyodok anusnya dnegan kontolku, anusnya terassa masih perawan dengan ukuran kontolku yang agak besar, aku terlentang di atas kasurnya dan dia duduk diatas anusku dan memasukknya pelan-pelan kedalam tubuhnya kemudian dia menyuruhku untuk menyodoknya dengan agak cepat kemudian cepat sekali. Sudah empat jam kami bercumbu-cumbuan dengan kulit kami tapi tidak ada yang mengeluarkan sperma, kami istrihat dan mas imel mau pergi kerja sehingga Agus harus pergi tutup pintu gerbang dan setelah itu kami tidak ml lagi, kami berhenti dalam keadaan telanjang, dia menaruh kepalanya diatas pahaku, kami pun mulai bercerita mengenai pengalaman awal ekspresi seksulitas kami. Ini adalah cara yang menurutku paling tepat untuk melepaskan rasa rindu dengan ngobrol santai. Aku bertanya sejak kapan dia mulai menikmati hubungan sesama jenis dan dia bilang dia telah melakukanya semenjak ia masih berusia tiga tahun, dia disuruh kakaknya untuk mengocok penisnya, dari situ dia mulai beranggapana bahwa menjadi mahkluk yang diabaikan oleh masyarakat adalah sebuah kontruksi dan aku menyahutnya ‘benar, tidak ada yang lahir untuk menjadi homoseks, semunya adalah pilihan, pilihan untuk menikmati kenikmatan yang ada di dalam hidup ini”. Sekarang giliran untuk dia yang bertanya lagi kepadaku, aku menjawabnya, “aku melakukan hubungan sesama jenis semenjak usia diantara dua belas atau tiga belas tahun bersama sepupuku; aku yang merayu sepupuku itu, bukan dia yang memaksaku dan waktu itu aku berhasil, merasa ada satu kemenangan dalam diriku secara seksual, aku merasa menang karena aku bisa merayu orang yang aku suka selain itu dia sudah berumur dua puluh lima atau mungkin lebih”. Kami tertawa bareng “ah luar biasa kamu” kata Agus “iya, aku emang bocah edan” sambil tertawa geli karena penisku masih ngaceng saja. Tapi ini saatnya untuk berdiskusi santai. Kami ngobrol dan beberapa saat kemudian tertawa berang, dia pergi mandi, dan aku menyuruhnya untuk menyel satu film blue ala homoseks, film itu bagus, ada anak-anak sekitar belasan tahun yang suka main sepak bola, dan mereka melakukan oral seks dan anal seks di open air, di pingir lapangan sepak bola, dua bocah itu kelihatan sangat menikmati walaupun ada kamera di depan mereka untuk mengabadikan mereka kedalam film. Aku mulai teringat pada teman mlku, seorang pemain sepak bola yang kini tinggal di UK. ”ah, ngapain ingat dengan orang yang cuek bebek kalo di sapa di dunia maya” aku berusaha untuk melupakannya. Aku mendengar  Agus membuka pintu kamar mandi, dia msudah selesai mandi ternyata. Ah saatnya untuk bercumbu-cumbuan lagi/ besok pagi jam delapan dia masuk kerja, dan ini saatnya untuk ngobrol sampai tidur, tidak ada sesi ml. “Oh. sudah pagi, setengah tuju sekarang”. Aku melihat jam dindingnya, “owhh.. kamu harus pergi kerja”. Kami ciuman lagi, kontolnya ngaceng, aku memegagangnya dan ia menyuruhku untuk mengocoknya sampai memuncratkan sperma, dia yang duluna ke kamar mandi lagi, aku masih di tempat tidurnya yang sangat empuk itu, wah pagi  ini Jogja terasa dingin sekali dan aku mau tidur saja sepanjang hari. Dia harus pergi kerja dan aku mulai memberishkan kontolku dan membuang air seni, aku melihat di kaca, tubuhku kelihatan sangat indah; banyak bekas gigitan. nah aku senang, dia meninggalkan kenikmatan diatas tubuhku dan butuh beberapa hari baru bisa hilang, kayak tattoo temporal. Ngaca dan selesai memakai pakaian yang ditanggalkan semalam, sudah siap untuk pulang ke kos, aku diantara oleh Agus sampai di salah satu halte trans jogja, jalanan sangat rame di pagi hari, aku melihat orang-orang olah raga di tengah tebal asap kendaraan yang hitam pekat. Agus memberikan sepuluh ribu rupiah untuk ongkos kendaraanku, aku menolkknya tapi terpaksa aku harus ambil, karena tidak enak, kalau dia sampai memaksa aku dan dilihat banyak orang, saya belum siap untuk menjadi tontonana di pagi hari. Aku ambil duit itu dan masuk ke dalam halte, sebelumnya dia bilang sesuatu “din, kamu jangan kapok”, aku menyahutnya “ tidak bro, aku belum kapok bersamamu”. Di dalam halte ada om ganteng, tapi aku tidak ada niat untuk melihatnya, sudah cukup, aku baru selesai ml, “kenapa aku gila kayak gini?” bertanya pada diri sendiri lagi, ah, om itu ganteng dan aku harus melihatnya sampai kami berpisah, dia turun di Amplaz, “ah. untung tidak satu kompleks dengan kos-kosanku”.


[1] Bahasa Jawa: iwak = ikan/daging, asu = anjing

Tinggalkan komentar

KUPU DAN SAYAP PATAHNYA

KUPU DAN SAYAP PATAHNYA

 

Siang tanggal 30 januari 2012; kupu abu buncit bangun telat, dia hendak mengayungkan semangat sayap patahnya untuk menuju ladang bersama yang telah banyak memeberikan kembang-kembang beracun, yang telah memabukkannya semenjak 2007 awal tahun. dia mau membayar upah para buruh berkerah putih, kali ini dia membayar lebih, biasanya hanya Rp 1.400.000 tapi tidak untuk kali ini, dia harus menambah Rp 2000 demi tenaga dan semangat para kurir yang melayani administrasi di bak ladang kembang-kembang bermadu racun. Kupu-kupu abu berbaris di antrian panjang, tapi ini hari pertama untuk melakukan pembayaran, dia bangun kesiangan tetapi berdiri paling depan, dia tiba lebih awal daripada mahkluk penghisap madu beracun lainnya. Dia melihat kebelakangnya, kini banyak mahkluk yang berdatangan, dia tidak sempat menghitung berapa jumlah para mahkluk yang saat itu berhimpitan dalam barisan panjang yang berada di balik belalainya yang dipotong mengikuti model yang lagi ngetren di dunia kupu-kupu. Dia sunguh kaget ketika pengurus pajak meminta untuk menambahkan Rp 2000, dia marah dan bertanya, “uang tambahan itu untu apa?” “pengurus pajak menjawab “nanti ada keteranganya di atas daun jati bekas kencing orok laba-laba!”. Muka kupu-kupu abu semakin menghitam dan bola mantanya hampir keluar dari cangkangnya, kupu-kupu yang luar biasa, bercangkang. Kemudian petugas pajak menyerahkan daun jati kering yang didalamnya ada goresan-goresan kaki orok laba-laba, bekas-bekas kaki itu berwarna biru laut yang menjelaskan penambahan uang tersebut adalah untunk mengantikan energi kurir yang telah dikuras secara robotik oleh orang-orangan di ladang, yah. Sesekali menghela nafas; harga racun semakin mahal. untuk membayar pelayanan administrasi penghisapan racun-racun berikutnya; pasti racun yang luar biasa memabukkan di musim semi berikutnya.

       Sayap patahnya menerbangkan dia secara perlahan-lahan Dan memberhentikannya di depan gubuk nongkrong para mahkluk-mahkluk sealirannya; dia melihat ada dua ekor temannya, sang pejantan tua Dan sang perawan muda yang bertenger diatas dipan, sebuah mejar panjang memisahkan jarak mereka untuk bersentuhan. Dia menghampiri kedua mahkluk itu, keduanya sedang melakukan anggaran demi mendapatkan dana besar dari pemilik ladang kembang-kembang racun; menurut kabar burung si betina dan kedua teman lainnya yang tidak dikenal oleh kupu-kupu abu berkulit keras, mereka bertiga akan melalang buana di hamparan kembang-kembang berbisa nan luas yang sangat amat jauh dari ladang bersama yang kecil, ladang yang telah memelihara mereka untuk beramai-ramai menuju ladang yang lebih berbisa tersebut, katakanlah ladang nan luas jauh tak terlihat oleh mata, jauh dan memberikan banyak harapan bagi mahkluk-mahkluk yang kini tengah menghisap sisa-sisa racun, maraca terburu-buru untuk menghabiskannya dan melanjutkanya di hamparan bunga-bunga yang berbisa, yang bisa membuat nama maraca beterbangan, mereka mabuk dan nama merekalah yang terbang, bukan tubuh maraca yang bersayap, maraca hanya senang kalau nama mereka bisa bertenger di sebuah daun pisang kering yang hampir lapuk, tak terawatt, semuanya akan terjadi dalam waktu hitungan detik saja, hanya mahkluk-mahkluk yang berdaya tahan tubuh yang kuatlah yang akan tetap bertahan di situ, yang lainya akan menjadi bangkai hidup di bawah akar-akar tumbuh-tumbuhan berbisa. Yah, bagaima lagi. toh, bisa-bisa itu menjanjikan kenikmatan yang luar biasa. Kupu-kupu abu sadar bahwa yang mereka inginkan adalah mimpi buruk yang terjual, laku keras, laris-manis walaupun tetap racun dan pada ujung-ujungnya banyak yang  mati, bahkan belum menyentuhnya sudah mati duluan, beruntung kalau mereka punya roh, agar bisa menikmati bisa-bisa tersebut tanpa melalui persaingan yang ketat di sepanjang antrian pecandu lainnya.

   Si kupu sayap patah tak sangup lagi untuk ngobrol dengan si perawan muda dan si perjaka tua. Dia melanjutkan perjalanan menuju gubuk racun; di gubuk itu tersimpan banyak racun yang sudah kada luarsa, tapi namanya racun semakin lama semakin mengada-ada, si kupu melihat dua mahkluk; si kriting dan si ompong berdiri di depan gubuk, mereka sudah membicarakan rencana-rencana akan diadakanya sebuah pesta di sekitar alun-alun kota bersama para mahkluk-mahkluk luar biasa yang selama ini di kucilkan oleh cinta yang di sempitkan kedalam selangkangan. Sikupu ngobrol dengan kedua temannya itu, kemudian diserahkanya sebuah amplop seukuran A4 yang isinya adalah permintaan dana pada pihak-pihak yang dianggap kaya harta yang diperhaluskan menjadi ‘dermawan’ supaya bisa membagikanya kepada mahkluk-mahkluk luar biasa yang selama ini di subordinasikan sebagai mahkluk-mahkluk cacat. Mereka bertiga bubar, meninggalkan gubuk racun, si kupu tidak membawa kantong hari ini, dia menenteng amplop gede itu ke tempat tinggalnya. Setiba di kamarnya, dia terburu-buru membuka amplop itu dan membaca isinya, ada dua daun yang terbungkus dengan rapi. Dia mengambilnya dan membacanya secara cermat sebelum menyerahkan kepada pihak yang yang punya duit, namun dia tidak hafal dengan baik, pembacaan yang sia-sia, dia tidak bisa menyimpan kata-kata yang ditulis mahkluk lain ke dalam otaknya yang tersembunyi dalam batok kepalanya yang berbelalai aneh.

   Dia berangkat ke gubuk di tengah sawah, di depanya ada kuburan sonto loyo tapi tidak berhantu karena hantu memang tidak ada dengan alasan; si kupu tidak bisa membuktikan ada atau tidak adanya hantu maka lebih tepatnya dia akan menjawab dengan sebuah kalimat yang sangat berguna untuk menghindari tugas yang sangat tidak masuk akal bila seseorang memaksa dia untuk pembuktian ada atau tidak ada-nya hantu, kalimat itu adalah; “saya tidak yakin”—kemudian dia akan melanjutkan jawaban itu; “karena saya sudah berumur 25 atau hampir 26 tahun tapi belum pernah melihat hantu”. Si kupu tiba di gubuk tengah sawah dan langsung memesan secangkir racun putih yang kadang membuat mual-mual sambil ngatuk, racun ini memang tidak enak, tapi mau bagaimana lagi, si kupu belum dapat suntikan dana dari kakak-kakanya yang kini memburuh di negeri khayalan. Kupu dengan sayap patahnya perlahan-lahan mencari tempat yang strategis suapaya bisa melihat-lihat mahkluk-mahkluk ganteng yang menghingap di gubuk remang-remang kali ini, si kupu sadar bahwa ini adalah penderitaan ketika instingnya menyuruh dia untuk melihat mahkluk-mahkluk ganteng yang sesuai dengan kenakalan ide-ide dalam pikirannya. Apa yang dilihat pada saat itu hanyalah mantan-mantan ide yang berkeliaran, walaupun mahkluk-mahkluk idamanya itu(idaman karena ia telah dimabukkan oleh imaji-imaji yang diproduksi oleh mesin racun otak dan dia tak berdaya lagi untuk menghilangkannya). Mahkluk-mahkluk itu selalu muncul berkali-kali dan berganti-ganti pula tapi dalam waktu itu juga, hanya hitungan menit dia telah menetapkan secarah sah tanpa campur tangan oleh pihak lain, bahwa mereka itu hanyalah mantan ide, tidak ada yang bisa dinyatakan sebagai ide yang harus diincar, ide untuk masa depan (si kupu tidak meyakini masa depan), dia sadar bahwa dia punya kekurangan yaitu, sayapnya yang patah dan tak elok lagi untuk dipandang oleh mahkluk-mahkluk lain, ini adalah kesadaran yang memenjarakan diri sendiri dan merdeka dari objektivitas, tidak ada yang menyukainnya dan memberikan nilai. ini bukan perasaan minder melainkan semangat, kenapa harus minder?, toh semua mahkluk punya kecacatan masing-masing yang tidak nampak sehingga tidak usah disebutkan. dia mau ketemu pemilik gubuk untuk menyerahkan amplop besar yang diberikan oleh kedua temannya di gubuk penyimpanan racun-racun keramat yang boleh disentuh oleh siapa saja, karena memang sudah basi dan bebas buat semua mahkluk yang ada di dalam taman kembang-kembang racun. Akhirnya si kupu memutuskan untuk duduk di meja dan kursi paling depan tanpa atap yang di dampingi oleh dua gubuk berkaki tinggi sekitar tiga meter. Kedua gubuk itu pemiliknya sama dan masih berada di lokasi yang sama pula, di gerbang berdiri seorang penjaga sawah yang terbuat dari rumput-rumput kering dan sepeda tuanya yang sudah tidak berfungsi lagi; mereka menjadi pajangan di gubuk tersebut. Pelayan mendatangi tempat duduknya si kupu, mengantarkan racun putih yang telah di pesan olehnya tadi; si kupu terburu-buru menanyakan, nama pemilik gubuk tersebut dan sekaligus menyuruh pelayan tersebut untuk menyampaikan pesan kepada bosnya, bahwa malam ini ada teman lamanya yang mau ketemuan dengan dia, ah mungkin mereka bukan teman, tapi hanya sekedar teman yang basa-basi yang berrelasi atas dasar hukum ekonomi; relasi penjual dan pembeli. Ah si kupu mulai kacau, masa di dunia kebinatangan dan kehewanan ada istilah ekonomi, masa seh?, ah yang ada cuman istilah simbiosis mutualisme, tapi ada juga relasi-relasi yang terjalin akibat hukum parasit; parasit karena tidak bisa hidup sendiri dan mengandalkan tubuh mahkluk hidup lainnya. Si kupu juga kadang berfikir, dia adalah seekor parasit, karena untuk menyedot racun saja, dia tidak mampu melakukanya sendir tetapi harus ada bantuan dari berbagai pihak lain, tapi mau apa lagi, kalau kupu memang sudah dikenal sebagai mahkluk yang bersimbiosisi mutualisme dengan para kembang-kembang racun agar tetap ada kehidupan di ladang racun, ah kupu dan kembang sama-sama jadi budak oleh pemilik lahan, coba saja mereka kompak dan tidak melanjutkan kehidupan di ladang yang kini dimiliki oleh robot-robot dan orang-orangan, tepatnya bukan dimiliki tapi di rampas. Mereka seolah-olah tidak sadar atau sadar tapi menyangkal kesadaran mereka sendiri untuk tetap hidup didalam sistem pemerasan energi dan tunduk pada kekuasaan yang sebenarnya tidak ada, kekuasaan ada karena mereka ada, maka itu mereka kadang-kadang berfikir, “kalau kita berani, marilah kita berhentikan kehidupan, memutuskan mata rantai kehidupan di alam raya ini”. Si kupu sayap patah meyakini itu tanpa ragu-ragu, toh dia cacat, dia tidak akan dilirik oleh mahkluk-mahkluk asin yang bisa menanam benihnya di dalam kelopak-kelopaknya yang nantinya akan menjadi generasi pecinta racun, racun dunia, ah bukan racun yang nikmat baginya. Si kupu sangat egois untuk saat ini, bukan karena dia tidak menerima kecacatnya tetapi dia benar-benar mau menghentikan kehidupan di alam raya ini, dia mau memulai dari dirinya sendiri, dia yakin, banyak mahkluk lain yang bisa melanjutkan kehidupan ini, dia benci pemerasan, maka itu pemerasan hanya terjadi di dalam hidupnya saja, dia tidak mau memunculkan generasi-generasi berikutnya dan menularkan hal yang sama yaitu gerasi-generasi berikutnya akan disengsarakan oleh sistem pemerasan mendalam, “cukup sudah hidup ini, saya tidak mau beternak diri kayak sapi-sapi betina yang hamil tanpa sapi jantan di kandangnya, sapi-sapi betina yang hamil karena suntikan budaya, budaya sapi yang harus hamil dan melahirkan kemudian disembeli di tempat pemotongan sapi”. Si kupu memang vegan, dia hanya penikmat racun di atas puting-puting  sumber racun, dia kasihan ke pada sapi didalam kandang, di kandang untuk di bantai namun sebelumnya mereka  selalu meriakkan kata (emoh) tidak dalam bahasa Jawa; (wah luar biasa, sapi dimanapun pasti berbahasa Jawa, selalu mengatakan tidak, ahhh tidakkkkk… tidak menolak)—kala kelaparan dan kehausan menimpa tubuh mereka. Mereka meneriakkan ‘tidak’ tapi bagaimanapun mereka tetap disemeblih karena mereka bukan sapi perah—di dunia sapi, para tuan-tuan robot dicatat sebagai musuh besar, mereka adalah pemeras dan pembunuh. Si kupu suka jamur tahi sapi, dia benar-benar vegan yang tidak mau beranak dan bersuami, dia selalu menyanikan lirik lagu yang paling disukainya, “hidup hanyalah langkah-langkah kecil”. Langkah, karena sayap sebelah kirinya telah patah, kadang dia mengunakan kaki-kakinya, dan semunya hanyalah langkah-langkah kecil yang diyakini semakin jauh ia melangkah semakin dekat pula kematian, kematian menantikan semua mahkluk hidup yang ada di alam semesta ini, dengan demikian, kematian mendekapnya dengan sangat erat, sekacau apapun dia tidak mau memberhentikan langkah-langkah kecilnya yang tidak pantas, dia bukan pejalan kaki, dia adalah mahkluk bersayap, tapi sayap kirinya kini tak berfungsi lagi. Dia membutuhkan para peri di pinggir comberan untuk membantunya, tapi sia-sia, karena lelehan lilin hanya tahan lama di musim hujan, sayapnya akan tetap dalam keadaan patah, permintaan bantuan akan sia-sia, dia menyadari itu, makan tidak pernah ia meminta pertolongan para peri comberan.

        Tiba-tiba acara di gubuk tengah sawah kini hendak di mulai, racun putih tidak enak lagi untuk diminum dalam keadaan dingin, si kupu menyedot asap putih kedalam jantungnya yang kini merapuh dan hatinya yang mulai membusuk melihat mahkluk-mahkluk ganteng yang bertenger dibawah plafon berbahan dasar bambu yang sesering kali menyemburkan hasil kelapukkanya ke tubuh mahkluk-mahkluk lain yang duduk dibawah. Lagu terakhir yang dinyayikan oleh periang adalah ‘jangan gori’[1]. Lagu itu membuat si kupu semakin kangen kepada sarangnya di atas pohon-pohon gori.

        Hujan badai melanda malam yang semakin khusyuk menati fajar; acara sudah usai, dia sudah menyerhkan amplop berwarna coklat itu kepada pemilik gubuk, “insyah allah, saya bisa membantu” katanya, si kupu balik ke sarangnya yang bocor bersama sayap patahnya, ia menyelusuri jalanan sepi, kuburan sepi tanpa seekor kodok atau jangkrik yang bersuara di bawah batu-batu nisan. Kesepian melanda dirnya, yang terdengar adalah kakinya yang menyetuh air diatas jalan-jalan setapak yang memisahkan antara kuburan berhutan bunga kamboja dan sawah. Kupu sayap patah tiba di saranya, kali ini sarangnya benar-benar basah kuyup, dia capek, dia tidak mau menyadari atau menangapi masalah, eh bukan masalah, kejadian naas yang menimpa sarangnya, besok matahari pasti terbit lagi seperti hari-hari yang lalu-lalu, ia membiarkan matanya tertutup rapat, dia mulai mimpi, ah, dia mimpi basah, ternyata puting beliung telah menerbangkan sarangnya ke suatu tempat yang dia tidak kenal sepanjang hidupnya, si kupu hanya bermimpi, dia belum mati, sebentar lagi dia bangun, dia mimpi basah, karena sarangnya kini terapung di atas air bah yang disebabkan perusakan ekologi di sepanjang pesisir pantai selatan, yang mati menyelamatkan yang hidup, pasir ditambang oleh robot-robot yang terbuat dari baja yang tidak mengenal ekosistem; relasi atara biotik dan abiotik. Ah ternyata semunya mati, modar kabeh dan benar bukan hanya si kupu yang membenci kehidupan ini, ternyata para robot yang dihasilkan dari benda mati yang menjadi hidup pun muak dengan kata ‘hidup’ tapi mahkluk hidup yang meragukan asal ususlnya sendiri kini berjuang keras untuk tetap hidup, tapi para robotlah yang berkuasa, mereka berkuasa karena tidak punya hati untuk mengasihani, dan mereka juga tidak punya otak untuk memikirkan; bagian anatomi tubuh yang paling berkuasa dalam tubuh mereka adalah baterai, lalu siapa yang memegang remot mereka untuk menyuruh mereka bergerak?. Para mahkluk hidup mulai mencari pemegang remot tersebut, tetapi mereka tidak menemukan dalang pengacau tersebut, maka mereka memutuskan untuk merusak robot-robot itu dengan kekompakan mereka dalam bentuk solidaritas melawan kematian masal secara berbarengan, sudah lama sekali tapi pergerakan mereka belum berhasil untuk merobohkan para robot tersebut, tetapi mereka telah merusak beberapa bagian tubuh para robot-robot tersebut di malam hari, para robot pun mulai bertambah ganas, para mahkluk hidup pun tidak kalah ganasnya, dengan demikian, gubuk-gubuk robot di bakar di siang hari, ah mereka cuman suruhan sehingga mereka ditempatkan di gubuk, robot-robot kakap, menghuni di rumah-rumah khayalan yang tidak pernah melintas di benak para mahkluk hidup. “…Perlawanan untuk menjamin kontinuitas hidup tanpa batas!,…” orasi berapi-api di depan gubuk-gubuk penyediaan racun di masing-masing wilayah, mereka menuntut para robot untuk berhenti merusak alam. Orang-orangan hanya senyum tanpa gerak dan memalingkan mukanya pada kerumunan kupu-kupu beterbangan di atas hamparan rumput-rumput yang mulai menguning, gelap menyelimutinya, sepeda ontelnya rusak, dan hujan menguyurnya sepanjang hari, dia menjadi pajangan di gubuk di tengah sawah, kupu-kupu tidak menghampirinya, orang-orangan selalu kesepian dan hanya menjadi tontonan dan menonton kupu-kupu melayang-layang di kejauhan. Ah orang-orangan dan kupu-kupu sayap patah hanyalah dua ekor hidup dan mati yang tidak punya harapan, si kupu sayap patah tidak mengharapkan apapun tapi punya eksistensi yakni tetap melangkah tanpa tujuan dengan demikian dia tidak pernah mengenal kata nyasar dalam langkah-langkahnya yang mematikan sekali pun, hari demi hari dia meluncurkan langkah-langkah pelannya, sambil bertanya-tanya; “siapa yang akan berpapasan dengan saya di jalan setapak ini, lalu saya akan menanyakan apakah benar di depan sana ada surga dan neraka?”. Lama kelamaan, pertanyaan itu membasi di dalam otaknya, akhirnya pertanyaan itu juga menjadi mantan ide di dalam fikirnya; dia tidak akan bertanya lagi, tidak mau mempersoalkannya lagi, karena memang tidak ada orang yang akan berpapasan dengan dia di tengah jalan setapak yang dilaluinya. Untuk mempertanyakan ada atau tidak adanya sebuah ide hanyalah pekerjaan sia-sia di sepanjang jaman, ide bisa dimunculkan oleh mahkluk jenis apa saja, mengenai apa saja dan dimana saja untuk kemana saja ide itu tertuju dan berujung tanpa akhir. Si kupu memimpikan seekor kupu jantan yang pernah menghisap lidahnya kedalam tengrokkanya, hampir menelan, sudah bertahun-tahun tapi si kupu abu jelek ini masih menyimpan memori usang itu, kenapa yang lain bisa menjadi mantan ide, sementara si mahkluk mirip drakula itu tidak bisa hilang dari alam bawah sadarnya?. Pertanyaan yang dia tidak bisa temukan jawabnyanya, apakah nafsu, yah mungkin nafsu yang mendalam, kupu abu bersayap patah, berbelalai pendek, berotak mesum. Kini menangis tanpa air mata, dia tidak percaya hantu, tidak percaya surga dan neraka, tapi dia menyakini nafsu berahi yang bersifat naluri yang kini melandanya hingga dia menjadi-jadi, tapi bukan jadi-jadian, mau jadi sama siapa?, toh dia tidak mau melanjutkan hidup ini, kenapa harus jadian? Untuk jadian berarti harus merelakan diri untuk dimiliki atau merasa memiliki, toh semunya mahkluk hidup, bukan benda mati yang harus dimiliki dan dirawat seperti yang terjadi dalam masalah ekosistem : yang hidup tergantung pada yang mati, yang mati menjadi berarti karena ada yang hidup, “Tidak bisa!”, kata itu yang selalu mengema di dalam kepalanya dan mengacaukan otaknya yang sangat enak kalau di jadikan bubur otak anjing di warung oseng-oseng. dia aneh, dia tidak meyakini cinta, baginya cinta seperti hantu yang tidak bisa dibuktikan eksistensinya, cinta hanyalah kata ganti yang berlebihan untuk mengungkapkan nafsu perselangkangan yang dianggap tabu oleh mahkluk-mahkluk yang telah mengenal kata adab, peradaban atau budi bahasa,  ah si budi, itu kan nama temanku, masa dia hanyalah sebuah alat bantu untuk menyatukan akal dan perasaan demi memunculkan oposisi binary, cuman ada baik dan buruk, selain baik dan buruk ada apa lagi? Si kupu, pusing, dia tidak meyakini kata ‘di antara’ baik dan buruk. Lalu apa?. Menjadi buruk saja karena sudah banyak mahkluk yang meyakini ke-baik-an; keyakinan akan kebaikan dan keburukan semakin menghilang di benaknya, terkikis oleh lamanya dia menyelususri jalan setapak, dia hanya memantapkan tubuhnya agar tidak jatuh kedalam irigasi, pasti dia akan basah, dan dia tidak mau mempercayai baik dan buruk pada akhirnya dia mengatakan ah terlanjur basah, dia berusaha keras untuk menghindari hal itu, mungkin dia akan jatuh tapi tidak untuk terjadi pada langkah awal yang dimulai baru kemarin pagi, hari sudah siang, dia  berada di tengah jalan setapak yang tidak berujung, hamparan swah tertinggal, umur kupu-kupu sangat pendek dibandingkan dengan umur benda mati yang tidak pernah hidup atau fosil-fosil kehidupan yang tersimpan di bawah perut bumi, bagaimanapun mereka tetap fosil yang pernah hidup, semua akan menjadi fosil dan menghidupi hidup, hidup harus berjuang keras untuk melawan para kaum loba. Berjuang Demi hidup bukan atas nama ajaran moral atau etika sekali pun, karena hidup terlalu pendek usianya, bahkan mati pun si kupu tidak akan menjadi sebongkah fosil yang menetap di satu tempat, dia akan hanya menjadi debu terhalus diantara jenis debu-debu lainnya yang sangat amat ringan untuk ditiup keseluruh penjuru o oleh angin yang hanya silir-silir sekalipun. Tapi apakah itu akan dirasakanya setelah si kupu menjadi debu di udara?, tidak, dia selalu tidak meyakini akan adanya rasa setelah hidup ini. Dengan demikian dia akan tetap berjalan dan menikmati suara alam, rumput-rumput yang bergesekkan di hamparan swah tertinggal tanpa tuan atau tidak bertuan lagi, ah, mungkin hamparan dan jalan setapak ini pernah dimiliki oleh seorang petani, tapi dia sudah membatu di suatu tempat yang tidak perlu di cari lagi karena si kupu sadar bahwa dia bukan seorang arkeologi yang rakus melihat tulang-belulang di dalam perut bumu yang di gali kembali dan meletakkanya di dalam gubuk-gubuk racun yang kini mahal harganya. untuk masuk mencicipi seperti apa atau bagaimana si racun bajingan yang menjanjikan surga ala mahkluk peradaban. Si kupu memaksa diri dan mecicipinya, dia sudah bosan, dia mau keluar dari gubuk racun tersebut tanpa memikirkan apa-apa lagi di hidupnya dan hanya jalan, atau terbang bebas seperti burung layang-layang yang bebas tanpa tuan dan tidak mengenal konsep tuhan, ah apakah si kupu adalah seorang manusia yang berotak dan bisa berfikir, tidak dia tetap seekor kupu yang punya naluri dan tidak mau memikirkan baik dan buruk, dia memang egois, dia selalu memikirkan diri, dirinya sendiri yang selalu diutamakan dan tidak pernah menilai orang untuk mengeluarkan kata baik dan buruk, namun dia hanya kupu; dia kelihatan seperti seorang pencopet kehidupan, mencopet hidup untuk tidak hidup lagi. Modiaarrrrr…[2], dia menutup matanya secara perlahan-lahan, seolah-olah dia sudah mati fikirnya, “ah tidak saya belum mati!”, dia berontak; mati tidak ada pergolakan dalam diri lagi, dia bergumam; ah aku sudah ….., namun tidak ada kata tepat setelah kata ‘sudah’. Sudah mati, sudah tidur, dan sudah lainnya, semuanya tidak jelas, ya sudahlah. Oh bukan lirik lagu yang lagi ngetren saat ini, sudah ya sudahlah kalau begitu… owh not now!, you leaving so soon, why?. Relax and take it easy put your hands up in the air and move your body so slow and turn your neck around like a drunken lullaby in your toilet and you will never know that everybody’s changing out there. I wanna go home, I feel alone in my messy room, but no home to go in, I don’t have home, let me go home, somewhere I called home, home in my heart, its inside me so I don’t have any house address to give, whenever somebody asking me where do I’m living? The answer is nowhere to, I’m living in the world as like you doing right now.

 


[1]   Jangan gori =  bahasa Jawa yang artinya; sayur yang terbuat dari buah nangka yang masih muda, biasanya dimasak dengan air perahan kelapa. Jangan = sayur,/gori = nangka.

 

[2] Bahasa Jawa; modar = mati

Tinggalkan komentar

Makan malam: dipan ngaceng

Makan malam: Dipan ngaceng

Malam ini aku pergi makan di warung favoritku di seberang lapangan samping kosku. Disana banyak cowok-cowok ganteng dari asrama yang letaknya hampir didepan rumah ibu kosku (tidak perlu sebut nama asramanya). Akhir-akhir ini banyak cowok ganteng yang nongol di depan portal asrama tersebut, aku hampir menyukai beberapa diantara para cowok-cowok itu. Sebelum ke warung makan tersebut, aku mampir ke satu kios yang ada didepan warung tersebut, saya mau beli air (mereka air tidak perlu disebutkan). Setelah beli air, saya memasukkannya botol air tersebut kedalam kantong kain yang lumayan gede buat simpan barang-barang berharga; seperti pena dan buku-buku ringan yang bisa dibaca dimana saja. sebelumnya saya melipat kantong tersebut dan menarihnya di dalam saku jumper saya. Saya selalu berusaha untu tidak membawa plastik kekosku tapi entah kenapa plastik selalu ada di dalam kosku, saya sudah berusaha tetapi saya masih gagal untuk tidak menaruh plastik di dalam kamar. Plastik-plastik yang kini berserakan didalam kosku adalah plastik-plastik hasil belanja buku di awal tahun kemarin di Jogja Book fair di gedung Wanita Tama. Pemilik kios bertanya, ”taruh di kantong kresek atau tidak usah?”, ibu itu bertanya karena saya sudah sering belanja disitu dan tidak pernah menaruh barang-barang belanjaan didalam kantong kresek. Aku menjwabnya ”tidak usah”. Aku ambil kantong kain yang didalam saku jumperku dan menaur air tersebut, terburu-buru karena malam ini sepertinya akan hujan deras banget seperti malam-malam sebelumnya di bulan ini. Aku langsung menuju warung, disana para cowok ganteng sudah dududk menyantap makanan mereka sambil ngobrol, saya tidak atahu apa yang mereka bicarakan, mataku hanya terpana pada tubuh mereka yang sangat mengairahkan, ada dua orang yang sedang mengambil makanan, saya harus antri sebentar,  kedua orang itu lekas sudah ambil makanan mereka, semunya terlihat buru-buru karena hampir hujan, sudah rintik-rintik, saya juga sebenarnya sangat pusing menmghadapi hujan di tahun ini, atap kosku di bagian paling mepet dengan jendela kamarku kini bocor, tetapi aku juga belum bisa melaporkanya kepada ibu kosku, karena bulan depan baru aku bayara kos lagi, mungkin sekalian saja saya laporkan dan agak melebih-lebihkan kalau aku sudah sangat sibuk untuk memindah-mindahkan barang-barangku yang letaknya di bawah tetesan air hujan yang begitu deras ke dalam kamarku.

Aku mau makan dan kini masalah kos itu hilang dari ingatanku, tapi saya yakin semuanya hanya untuk sementara namun saya juga berusaha untuk melupakan apa yang akan kala hujan tiba, yang pastinya saya akan sangat sibuk menaruh kain-kain kedalam cela-cela ventilasi yang berfungsi sebagai perantara sirkulasi udara di dalam kamarku kalau aku menutup jendela kamarku yang super lebar, sebenarnya aku sangat menyukai jendela di kamarku ini, saya sudah melihat banyak kos di jogja ini, kebanyakan tidak punya jendela kalau pun ada jedela tetap saja tidak selebar dengan jendelan dikamarku ini, jedela kamarku seperti jeruji, ada 24 batang besi yang menghalangi pandangan bebas yang tertuju pada kerumunan pohon-pohon pisang yang ada di pekarangan ibu kosku yang menjadi perbatasan antara warung dan rumahnya dengan kos.

Para cowok-cowok yang duduk di depanku semuanya ganteng-ganteng, aku mencoba untuk tetap sadar bahwa ini semuanya tidak ada, yang ada hanyalah imajinasku yang mengila, apapun yang saya pikirkan kali ini hanyalah sebuah ide didalam pikranku yang sedang memikirkan kemesuman yang wajib bagi manusia pada umumnya yang hanya seputar selangkangan, saya yakin saya tidak dapat memikirkan apa pun kecuali hanya ide-ide yang ada dalam pikiranku, yaitu untuk meniduri mereka dan merasakan alat vital mereka di dalam telapak tanganku, sambil mengcoknya atu mengoral alat vital merekya yang juga ngaceng, ah. Tapi ini semua hanya fantasi belaka, fantasi yang hanya nyata dalam pikiran tanpa praktek, mungkin mereka akan menjadi mantan ide semua kalau saya tetap yakin semuanya hanyalah ide-ide dalam pikiran jorokku yang mengila. Kemudian aku berfikir ulang-ulang apa-apa yang telah terjadi pada diriku sebelum-sebelumnya; saya selalu menyukai cowok-cowok ganteng, aku sering mengangagap keberadaan para cowok-cowok ganteng itu pasti, padahal setelah saya periksa kembali memoriku dengan amat sangat cermat ternyata hal semcam ini hanyalah persoalan kontradiktif dan hanya dengan pedomaan pengalaman semata saya seolah-olah bisa mengerti apakah cowok-cowok itu sesungguhnya sehingga aku sunguh terpana dengan keberadaan mereka yang sedang menikmati makanan di meja yang terhambat satu meja didepanku. Saya berada di dalam hutan rimba nafus di dalam otakku sendiri, saya melakukan ekspedisi dalam pikiraku sendiri, mencari kepastian, apakah saya punya gay radar, ah saya tidak percaya dengan gay radar, ssaya hanya bisa menebak-nebak cowok-cowok yang dinyatakan gay berdasarkan gerak-gerik mereka yang sudah di konstruksi oleh manusia yang berpandangan sempit dalam penjara oposisi binary, tetapi saya juga terjebak kedalam penjara tersebut, saya mulai mencari cela-cela kecil dalam gerakan mereka. Salah satu cowok diantara kelima cowok yang duduk di depanku itu sudah beberapa kali kami ngobrol di warung ibu kosku, kami seolah-olah sudah menjadi teman lama, tetapi saya tetap menjaga jarak, biarkan keeolkan dia hanya tercantol disebuah ranting pohon di dalam hutan kegilaan pikiranku, sangat wajar saya menyadari pengalamanku sendiri, saya cepat menyukai orang dan cepat bosan terhadap orang yang dulunya aku tergila-gila, tapi setelah menyetuh tubuhnya di ranjang, semuanya akan menjadi biasa saja, hampir semua mulut yang mengoral kontolku juga sama, dan juga anus mereka juga sama, semuanya hampir muntah kalau penisku kupaksa kedalam kerongkongan mereka, dan ketika penisku masuk kedalam anus mereka, sama mereka juga meneriakkan kata ”sakit, ah tapi nikmat”. Bahasa-bahasa yang aku amati dalam persengamaanku dengan hampir ratusan cowok, sama saja tidak ada yang beda, semuanya monoton, mereka juga tidak bisa teriak histeris karena dikosku terlalu banyak orang dan selalu rame, sangat tidak memungkinkan akan terjadi hal semacam itu, semuanya tidak lepas, terpenjara dengan rasa malu bila ketahuan oleh orang diluar kamarku, begitu juga saya, mungkin saya yang penakut, saya selalu memberitahu, bahkan menutup mulut para laki-laki yang saya tiduri dikosku agar mereka tidak teriak. Bahkan meludah saja juga aku melarangnya untuk tidak mengeluarkan suara. Hal ini yang membuat aku suak dengan salah satu teman mlku yang rumahnya dekat dengan salah satu Stadion Maguwo, dia bias teriak-teriak sepuasnya, dan juga aku, ketika aku hampir ngecrot, pasti aku akan mengatakan sesuatu, atau hanya ”arghhhh…suffff” tarikan nafas yang sebabkan meletusnya salah satu bagian tubuh di dalam scortumku. Asyiknya dia juga mempunyai kamar yang luas dan kami bisa melakukan banyak gaya dalam persengamaan, kadang hampir dua jam, saya belum ngecrot karena kebanyakan replay-forplay, posisi yang paling asyik adalah aku mengentotnya di depan jendelanya yang luas, kami seolah-olah nonton di bioskop, di hamparan lapangan yang gelap gulita seakan menjadi film yang sangat bagus, kadang dia menyuruhku untuk berhenti menyodoknya, karena dia nunging terlalu lama, kami berpelukan lagi, seolah-olah ada adegan sedih dalam sebuah film di layar lapangan yang gelap gulita. Tapi kemudian balik lagi ke awal forplay, kami saling berpelukan, bercumbu lagi, tiba-tiba lanjut lagi, sampai akhirnya aku ngecrot tetapi masih dalam keadaan tegang, aku selalu duluan ke kamar mandi untuk memberiskan tubuh, kemudian balik lagi menidurinya dan lanjut lagi ml kala seda gurau telah hampa tanpa arti.

Aku yakin bahwa fantasiku berawal dari pengalaman-pengalamanku dan dinagun oleh fantasi-fantasi yang diceritakan dan aku mengolahnya dengan kacau tapi akhirnya aku menikmatinya, namun saya tidak akan memuja pengalamanku itu, saya akan selalu membiarkanya untuk mengalir seperti keringatku yang sedang mengalir kearah selangkanganganku. Saya merasa saya sudah berubah menjadi kursi panjang yang sedang diduduki oleh cowok-cocowok ganteng di hadapanku, seolah-olah kursi itu adalah saya, mereka sedang duduk diatas penisku yang sangat tegang, saya percaya bahwa anaus mereka pasti terasa enak seperti anus-anus lainnya, namun mulut merka mungkin tidak bisa dipake untuk mengoral kontolku, karena mereka sedang makan, aku mengocok kontol mereka semabri makam malam mereka. Aku memalingkan muka ke arah pintu warung yang rame banyak manusia yang lalu-lalang, hujan mulai rintik-rintik, saya percaya bahwa hujan akan membuat saya sibuk, maka saya mebiarkan kontolku ngaceng melihat cowok-cowok ganteng itu sambil berfantasi gila-gilaan. Saya tidak menyentuh tanganku di atas kulit mereka tetapi saya hanya melihat, saya yakin kulit mereka juga sama dengan kulit manusia lainnnya, toh hanya kulit tetapi setiap kuliat manusia tampak beda, ada yang kencang ada yang lembek, itu cuman ide-ide dalam pikiranku. Mungkin saya juga tidak perlu membeda-bedakan kulit, karen saya bukan dokter kulit manusia, saya hanya penikmat kulit dan rasa yang ada dalam ingatanku hayalah ide yang nyata dalam diriku sendir tetapi tidak nyata dalam pikiran orang lain, makan akan sangat sulit untuk menjelaskan apa itu kluit manusia?. Hanya orang-orang ahli kulit yang bisa menjelaskannya tetapi apakah akan aku yakin dengan pembedaan-pembedaan kulit yang dibehdah sekaligus untuk menjelaskanya? Saya rasa tidak karena memang saya bukan ahli kulit manusia. Kegantengan para cowok-cowok didepanku semunya tamoak nyata sehinga hampir tidak perlu saya mengatakannya, kecuali kalau ada sepupu-sepupuku yang menanyakan, kenapa aku suka mereka, mungkin aku akan jelaskan fisik mereka dari wajah sampai ujung kaki mereka mirip-mirip cowok-cowok yang dikultuskan oleh media sebagai orang-orang ganteng, nah sudah sangat jelas kalau ganteng dan buruk rupa hanyalah ide, dan ide semacam ini saya sangat sulit untuk membunuhnya dan mengkuburnya di dalam lubang jamban, tetapi selau terbawa, entah kenapa otakku menjadi kotor kayak tinja, menjijikkan. Kejijikan itu mendominasi otakku akhirnya aku mau muntah untuk melihat cowok-cowok ganteng yang ada didepanku. Ah mereka hanya material, dan aku bisa mengubah mereka dalam imajinasiku, mereka adalah tahi dari jamban-jamban yang dipake oleh para pemain sinetron yang selalu lebay dan membuat banyak orang menjadi tegang, sinetron bisa membangun rasa was-was ke benak khalayak, ketika muncul kata bersambung, pasti mereka merasa kesal, dan tak sabar untuk menatikan kelanjutannya hingga berlipat-lipat episode terangkum dalam otak khalayak, sementara kasus-kasus pembunuhan masal di berabagai daerah tidak sama sekali membuat khalayak tegang, ah media, aku mau kamu memucnulkan ptani-petani gagah disaat mereka melawan korporasi dan negara, agar aku bisa terangsang, ah kenapa aku harus tunggu media, sementara aku masih bisa mencari sendiri para petani ganteng di berbagai desa, sungguh saya tidak mau mengangu petani di ladang mereka, saya hanya pergi melihat mereka mencangkul di ladang mereka yang kini diklaim dari berbagai pihak perusak alam yang tamak amat rakus. Aku membentuk ide baru lagi, cowok-cowok di kota sangat lembut dan tidak asyik untuk menerapkan fantasi-fantasi gila di tubuh mereka, berfantasi bersama bukanlah sebuah kriminal, maka aku sedang memuja perilaku SM, aku menginginkannya demi membuktikan bahwa aku bisa melampaui yang tampak dan yang disebut sebagai realitas, aku mau tengelam kedalamnya agar aku bisa merasakan bagaimana dalamnya seks itu sehingga banyak manusia yang hampir tak puas diuntuk menyelaminya. Dalam penglihatan kenakalan mata saya, cowok-cowok itu mengairahkan, kulit merka tampak kencang, imajinasiku seolah-olah telah mengerakkan tanganku menyentuh mereka, aku seolah-olah meraskan kulit mereka mulus, kencang dan sedikit hangat kerana mereka sedang makan sambal goreng di menu makan mereka malam ini, mereka keringat dan minum air teh bercampur es batu yang mengampung di dalam gelas mereka yang bersedotan merah, aku bagaikan kursi yang berkulit lancip yang secang mencari sesuatu di dalam anu mereka secara bergantian atau aku adalah seekor mahkluk yang berada di luar kebiasaan yang tidak berasal dari kerajaan hewan-hewan pada umunhya  dan aku memiliki banya kelamin sehingga mereka bisa duduk diatasnya secara bersamaan. Jika saya mengerakkan tubuh saya yang kini menjadi kursi panjang akan ada bunyi yang dipantulakan dari dalam anus mereka atas gesekan-gesekan penisku yang nakal yang telah merasuki tubuh mereka, dan aku juga bisa merasakan perbedeaan anus mereka dalam waktu yang sama, bahkan bunyi yang dihasilkan juga tampak berbeda-beda yang tidak bisa saya tirukan bunyi-bunyi itu kedalam huruf-huruf ata pun kalimat-kaliamat pendek yang kelihatan konyol tanpa arti, mereka juga merasakan besarnya kontolku berbeda-beda, karena anus mereka ada yang sudah tidak perawan lagi, namun ada yang masih sangat utuh, dan teriakan mereka juga beda-beda, ada yang samapi mencucurkan air mata, menangis bukan karena sedih, tetapi karena menikmati kenikmatan yang sedang kusharingkan secara adil tapi tidak berperikemanusiaan karena aku hanyalah kursi yang aneh atau mahkluk berpenis banyak.

Tujuan persengamaan bareng-bareng ini adalah sangat praktis yakni kenikmatan penis betermu dengan lubang anus yang berbeda-beda, semuanya tidak penting lagi, tapi bagi seekor voyeur, aksi kami menjadi hal penting untuk direkam kedalam ingatan-ingatanya dan menjadiknya pengalaman sampah yang menjijikna sekaligus menyarankan banyak kenikmatan, si Voyeur akan melihat banyak perbedaan diantara kami, yang pastinya aku sangat berbeda dengan kelima cowok ganteng itu, aku punya memiliki banyak penis, perbedaan antara para cowok itu hanya bunyi yang mereka hasilkan antara anus mereka dengan kontolku, tetapi si Voyeur jangan terjebak dengan suara-suara yang dilantunkan lewat mulut mereka, karena hampir sama, dan daya yakin ada yang dibuat-buat untuk membuatku cepat menyemprotkan spermaku kedalam anus mereka, saya tahu itu dan tidak akan terjadi di luar kontrolku, aku mengkontrol semunya supaya mereka merasakan sakit yang sama dan kenikmatan yang sama pula, tetapi yang masih perwan anusnya, menarik keluar penusku, dia mau mengoral saja, karena dia sudah tidak tahan sakit di anusnya tetapi dia juga tidak merelakan kontolku yang masih ngaceng yang jarang sekali dia temukan tubuh laki-laki lainnya. Disini kami telah mengawali tiga perbedaan yang paling menimbulkan masalah dalam bidang persengamaan; yang sudah bolong anusnya, akan pura-pura berteriak kencang, seolah-olah dia masih perawan dan sangat menikmati kontolku, tetapi saya tahu akan tindakan konyol itu, karena kontolku juga merasakan bagaimana anusnya telah tidak bisa mencekik kontolku, sementara yang masih perawan, kini nangis, karena ini pertama kalinya dia menikmati persengamaan sejenis anus dan kontol, dan yang paling terakhir si Voyeur yang kini mengocok dirinya sendiri di dekat samping daun pintu warung yang agak dilengkungkan agar orang lain tidak melihatanya dalam arti dia menghindari munculnya voyeur yang berikutnya, dia berusaha untuk memonopoli kenikmatan yang sedang terjadi didepan matanya, tapi kemudian banyak orang yang menjadi penasaran, ”kenapa mereka makan sambil mendesisi?”, mereka bertanya-tanya, tapi mereka tidak melihat apa pun, mereka hanya mendengar, orang-orang yang penasara itu akhirnya melihat sang voyeur utama di balik daun pintu yang sedang mengocok kontolnya sendiri, sementara kelima cowok ganteng sedang duduk rapi diatas dipan ngaceng berkontol banyak.

Orang-orang yang penasaran hanya tahu yang tampak, mereka mengutuk si voyeur yang lagi mengila dengan kocokan dhasyatanya, yang mengetahui realitas adalah aku, kelima cowok ganteng dan sang voyeur, kami yang tahu sebenarnya atas mengemanya desis-desis kecil yang baru lewat, mereka mendapat kesulitan, dan tidak ada jawabana yang memuaskan, mereka semakin penasaran dan pada akhirnya mengambil kesimpulan bahwa sanga voyeur telah membuat para cowok-cowok itu nafsu dan mendesis tanpa sentuhan voyeur, mereka bisa mendesisi ketika melihat sanga voyeur mengundang lahar panasnya keluar sendiri dari pipa yang tertanam dan semakin mengencang diantara sela-sela jarinya. Realitas yang dibangun oleh para orang-orang yang berpenasaran dangkal kini membentuk kepercayaan baru dan mengajarkanya kepada yang lainnya untuk mendesisi kalau melihat orang lain sedang onani.

Kembali ke masalah persengamaan yang serentak di atas dipan panjang berkotol banyak. Dari uarain di atas kiranya sudah ”sangat” jelas bahwa tidak ada kenyataan yang dominan, toh para pengamat juga tolol dan hanya melihat yang ada di permukaan kejadian di dalam warung tersebut, coba mereka cek pantat ke lima cowok yang sedang duduk senyum-senyum tidak jelas, pasti mereka akan menemukan dalang utama dari desisan yang telah ikut merasuk kedalam telinga mereka. Tetapi para pengamat hanyalah pengamat, mereka hanya bisa membunuh rasa keinginan untuk tahu yang mengebu-gebu di dalam benak mereka dan tidak melakukan cross chek untuk membuktikan data-data yang ”valid”.

Bagaimanapun data yang di temukan oleh orang-orang yang penasaran kini menjadi valind dan di gandrungi oleh banyak orang yang tidak hadir untuk mencetuskan kebenaran itu dan menerimnaya secara gamblang tanpa mempertnyakan lagi, semuanya hanya ide-ide sempit yang megila di otak mereka,  kebenaran telah di cetuskan dan itu akan menjadi benar dalam waktu yang lama hingga ada penemuan baru di dalam anus para cowok-cowok ganteng yang pernah dududk di dipan ajaib itu atau mereka sendir akan mencobanya dan akhrinya merasakan betapa nikmatanya penis bertemu dengan anus. Dan saya merasa yakin bahwa mata mereka semua terpana pada apa yang sedang dilakukan oleh si voyeur di balik daun pintu, aktivitas bisa tampak berbeda karena ada tipuan dari ke lima cowok yang duduk diatas dipan kenikmatan, Dan orang-orang yang penasaran mapun orang yang tidak penasaran atas kejadian di dalam warung. Sementara di dalama senyum kelima cowok sama sekali tidak ada keanehan yang berlebihan sehingga bisa membabi buta para orang-orang yang penasaran di depan pintu warung, meskipun dengan indra penglihatan Dan ekspresi muka maraca yang penuh keheranan kenikmatan yang ada dibawah tidak tetap berubah.

Tindakan si voyeur bukan merupakan sesuatu yang menyatu berada dalam kejadian yang sebenarnya, melainkan tindakan yang bergantung pada kejadian dibawah anus para cowok lima orang yang sedang makan sambil senyum-senyum, orang-orang penasaran dan cara mereka melihat dari sudut mana terhadap kejadian yang sedang mereka amati dari arah yang sama yakni di depan pintu warung. Jika mereka melihat dari cara yang sama tentang kejadian yang tampak, yang mereka maksu adalah si voyeur yang tampak di depan mata mereka dari sudut pandang yang biasa dan satu arah dan terpusat pada si voyeur. Tapi tindakan-tindakan lain yang muncul dalam kejadian lain juga punya hak untuk dianggap nyata, senyum dan kenikmatan di bawah anus para cowok lima orang yang sedang makan dianggap tidak nyata. Para manusia-manusia yang sedang penassaran sangata diperlukan untuk menghindari kesuaakaan mereka yang kini hanya terpusat pada tindakan voyeur, hal ini memudahkan mereka untuk menyangkal bahwa di dalam kejadian ini banyak hal yang berkesinambungan dan bukan hanya satu tindakan (voyeur) khusus.

Makin rame mereka mengamati kami yang sedang berada di dalam warung makan, kini mereka bosang melihat si voyeur yang bersandar pada pintu, sebagian mereka pindah ke arah jendela, yang disampingnya banyak alat minuman, namun ceret teh yang paling besar dari benda-benda lainnya. Mereka melihat dipan kecil yang aneh, dipan yang memiliki penis, dipan yang memiliki fimbria, mereka mulai tambah bingung, mereka tidak bisa membagikan saya kedalam sebuah kerajaan binatang karena aku adalah dipan yang sedang memberikan kenikmatan kepada orang-orang yang duduk diatasku, mereka duduk diatas penisku, aku adalah mahkluk dan benda; yang hidup dan yang mati, yang meberikan kenikmatan dan kesakitan, aku berada di luar ciptaan tuhan. Tuhan tidak pernah menciptkan benda sekaligus mahkluk seperti aku, saya tidak mengenal tuhan makan tuhan pun tidak ada, tuhan hanyalah ide yang menguasi alam pikiran manusia, para penonton di luar warung, di depan pintu dan sebagian di samping jendela, aku berasal dari proses filogenesis yang bebas dari kerajaan. Mereka menamakan aku aneh, itu benar sekali, aku aneh. Aneh karena bisa memberikan kenikmatan kepada lima orang secara bersamaan tanpa pembedaan sedetik pun. Sedangkan si voyeur yang mengocok sendiri kontolnya sudah menyemburkan spermanya di dinding warung, mereka mengalihkan perhatianya kepada lima orang yang sedang duduk diatas aku, mereka melihat kebawah, ada sesuatu yang aneh, hanya kata keanehan yang bergema didalam fikir mereka, karena mereka belum pernah lihat mahkluk atau benda semacam aku, mereka tidak percaya dengan apa yang mereka lihat baik yang tampak di permukaan maupun yang tersembunyi di bawah meja, mereka mulai kehilangan keyakinan terhadap indra tubuh mereka sendiri, sementara aku sedang menikmati anus-anus yang ada di atasku. Mereka mulai nyasar dengan kata ’aneh’ di dalam pikiran mereka sendiri.lalu mereka mau membekaraku, bakar dipan yang aneh itu kata mereka kepada pemilik warung. Sejak kapan aku memiliki tuan? Aku juga mulai bingung, tapi aku beruntung tidak di bakar karena pemilik warung masih membela diriku dari ancaman para orang-orang bingung, aku masih selamat, selamat memebrikan dan sekaligus menikmati anus. Pada akhirnya mereka menyuruh kelima cowok itu untuk berdiri, mereka mau duduk diatasku juga, mereka merasa ada yang aneh dan keenakan di dalam anus mereka, kini mereka tidak mau membakarku lagi, mereka semakin sayang kepadaku tetapi mereka juga tidak tahu saya adalah mahkluk atau benda matai. Dengan demikian mereka memberi satu kesimpulan; ”tidak ada mahkluk sejati dan tidak ada benda mati sejati”. Mati dan hidup bisa menyatu didalam satu sama lain, itulah keyakinan mereka sekarang, keyakinan akan tidak ada yang sejati dalam hidup maupun mati.  Tiba-tiba serangan filopatri menyerangku dan hampir membuatku jatuh ke lantai, dan akhirnya aku sadar bahwa aku bukanlah sebuah kursi ataupun seekor mahkluk aneh. Aku adalah seekor manusia yang sedang memikirkan persolan selangkangan, dan mencoba untuk mimpi aneh sambil menyantap makan malam. Hujan tidak jadi turun, aku mengambil rokok dan menyulutnya, menhisapnya dan meniup asap putih keatas langit-langit warung, memalingkan muka kepada cowok ganteng yang sudah hampir akrab denganku, tetapi sekarang dia perpakaian lebih ke timur tengah-an, dia memakai pakaian yang menunjukkan bahwa di adalah seeokor anjing yang tidak suka dengan daging babi, bukan tidak suka, tetapi dia bilang haram. Ah itu urusan kamu, yang pastinya daging babi sangat enak, kataku kepada dia di suatu saat yang lampau di warungnya ibu kos. Dia senyum-senyum saja, sementara aku terserang oleh filopatri yang begitu kencang, aku harus meninggalkan tempat ini, aku tidak mau melihat senyum yang mematikan itu, aku menyapa mereka dan balik ke kosku, dan mulai mengarang indah, sambil memakan apel-apel murahan dari Malang yang aku beli warungnya ibu yang suka menanyakan; apakah aku sudah punya pacar atau belum.

Sangat penting ya, punya pacara? Aku bertanya pada diriku sendiri, lalu pacara yang seperti apa, yang punya memek atau yang punya kontol?, semunya pilihan dan aku tidak memilih satu pun dan juga tidak menolak kedua-duanya. Tubuhku adalah sebuah komunitas jiwa, aku merasakan tubuhku sendiri maka tubuhku bukanlah suatu gagasana dalam pikiran hantu, karena aku belum pernah melihat hantu apalagi merasakan hantu. Tubuhku terdiri dari energi yang bisa menyakiti orang sekaligus memberikan kenikmatan. Memebrikan sekaligus mengharapkan itu sangat normal dalam persengamaan, karena kita semua memuja kenikmatan, tetapi ada juga yang hanya mau memberi dan ada juga yang hanya mau menerima namun yang tampak dipermukaan ini semunya tidak nyata, yang nyata adalah pengakuan mereka yang tidak pernah orang lain merasakan, toh dengar, dalam imajinasiku, aku bagaiakan kursi, lima cowok duduk diatasku, aku menikmatainya, tapi sekaligus kesakita, karena mereka sangat berat, namun aku juga tidak menghiraukan kesakitan itu dan aku tidak menceritakannya di atas, karena kenikmatan bagi siapa pun harus ada rasa sakitnya, seperti mereka yang berdesis kesakitan anus diatas kontolku. Semuanya sama; kami semua memuja kenikmatan, dan penglihatan si Voyeur juga merupakan alat bantu yang mentransferkan kenikmatan kami kedalam tubuhnya hingga ia terangsang dan memuncratkan spermanya di dinding warung, begitulah pengarunya visualisasi yang menkontruksi ide-ide kedalam pikiran dan membuat tangan voyeur menyentuh tubuhnya sendiri dalam kegilaan yang sangat ia nikmati sendir, oh bukan sendiri, dia luar sana, banyak orang yang melihatnya, as si voyeur juga mampu membuat orang-orang bahagia. ”Hey kamu sudah pernah melakukan camsex atau belum pernah?,” ”iya, aku sering melakuknya di warnet, aku menyemprotkan spermaku di lanatai, bahkan di layar komputer, aku merasakan ketakutan, ada cctv di warnet, ah aku tidak perdulu, aku melihat orang yang telanjang di depan webcam-nya dan dia menyruhku untuk melakukan hal yang sama, tapi saya tidak akan telanjang bulat seperti dia, karena ini di warnet bukan di kamar pribadi, dia menyruhku untyuk melihat dia yang lagi onani, kemudian aku juga ikut melakukan hal yang sama, hanya berkontak kamera web, kami bisa ngecrot bareng-bareng. Semuanya hanyalah imajinasi, ide yang liar dalam pikiran, tanpa sentuhan apapun pengaruh visual telah menjajah tubuhku, aku mau buta!, buta kalo ada cowok ganteng di hadapanku, karena ganteng memang tidak ada dan juga sama si buruk rupa juga tidak ada, semunya tidak ada yang ada hanyalah aku yang pusing melihat dan menilai sana sini, aku juga sadar, bahwa aku tidak punya kekuasaan atau otoritas apapun untuk memilah-milah manusia yang sama-sama terdri dari kulit, daging, tulang dll yang sangat menjijikkan, semuanya menjijikan, karena terbentuk dari seperma dan ovum para perempuan dan laki-laki yang suka beternak diri, aku juga hasil dari peternakan manusia, kemudian kamu juga sama, semunya sama, kita semua berasal dari peternakan manusia.  Peternakan manusia yang direalisasikan dari ide-ide gila yang membangun kandang yang kita kenal sebagai rumah tangga. Kandang adalah batas bagi mahkluk hidup yang sudah domestivikasikan atau yang sudah diadabkan, begitu juga rumah tangga, bagi mereka yang berumah tangga sangat tidak bebas untuk liar dengan berkeliaran, karena mereka harus balik ke kandang mereka untuk menyetubuhi satu sama lain walaupun mereka sudah saling jemu.

Tinggalkan komentar

SAYA PERCAYA AKAN KEBEBASAN DIRI

SAYA PERCAYA AKAN KEBEBASAN DIRI

 

Seharian penuh dalam kamar pada tanggal 21-01-2012—pada sore hari sekitar pukul 04.00, aku menjadi tidak sendiri lagi karena begitu banyak kupu-kupu kecil yang melayang-layang, berterbangan di dalama kamarku, saya tidak tahu dari mana asal mereka,, saya yakin ini pasti kupu-kupu liar yang ada di pekarangan ibu kos yang memisahkan kos kami dan rumahnya. Saya tidak perduli lagi untuk menanyakan asal mereka, toh mereka tidak bisa bicara seperti saya, yang di dalam kamar saja dan  makin hari makin membisu dalam kondisi tubuh yang semakin manai. Saya selalu ingin menyendiri dan keluar tanpa arah dan tujuan karena saya tidak ingin di memiliki seekor malik yang memang pada dasarnya tidak ada pengaruh apa pun dalam hidupku sendiri dan saya tidak pernah menginginkan hal seperti itu, hidup tidak perlu di kontrol, hanya pintu kematian yang perlu dijaga ketat agar kehidupan tidak melewatinya. Bagaimana pun usia akan memakan hidup dan mengantarnya melewati pintu yang dinantikan oleh seuluruh kehidupan yang ada dalam dunia ini, namun usia bukanlah satu-satunya media yang mengantarkan kita namun diluar sana banyak sekali cara yang bisa di lalui dan saya todak perlu menyebutkanya disini, mungkin salah satunya adalah bunuh diri atau melawan kematian hingga semangat yang berapi-api yang kita miliki itu membawa kita ke ambang pintu yang terkutut tersebut pada akhirnya kita ada seolah-olah hanya berusaha untuk melewati pintu tanpa kamar yang tidak pernah kita ketahui. Akan lebih baik kiat tidak pernah percaya dengan kematian, karena semakin takut akan kematian maka pintu tanpa kamar itu makin mendekat dan melenbar untuk mencekik atau bahkan menelan kita tanpa mengunyah tubuh kita yang sudah pucat atas ketakutan yang dibangun atas kematian itu sendiri. Kematian tidak ada karena ketika kita melewati kehidupan ini, kita tidak akan pernah tahu kalau kita sudah mati, maka yang ada hanyalah hidup, apakah orang mati pernah cerita ke kamu kalau ia sudah mati?, bahkan hantu atau arwah para orang mati yang berlayang-layang di imajinasmu juga tidak pernah menceritakan kematian kepadamu, dia hanya menceritakan kembali kehidupan didalam otak kita agar kita tetap percaya dengan kehidupan. Saya sudah berusia 25 tahun dan bulan april yang mendatang saya akan menginjak usia yang ke 26 tapi dalam hidupku, aku belum pernah melihat jiwa atau roh orang mati, aku hanya menjumpai mereka dalam mimpi-mimpiku, tetapi mereka juga tidak menceritakan apa pun atas kematian mereka dan apa yang mereka lakukan setelah mati. Mereka hanya bercanda guarau denganku di dalam mimpi-mimpiku, saya tidak menyakini canda guarauan itu adalah sesutu yang hidup tetapi juga bukan sesuatu yang mati, toh semuanya hanyalah mimpi, mimpi-mimpi yang bergerak seperti film di dalam otakku dan aku merasa aku menonton film-film yang melibatkan saya di dalamnya, dan dalam film itu tidak ada yang menjadi tokoh utama sepanjang kesadaran semua memberhentikan tidurku, tetapi akan ada tokoh utama yang lahir dalam mimpi-mimpiku setelah aku terjaga, tokoh-tokoh utama itu adalah orang-orang yang aku kangen sebelum tidur, mereka adalah tokoh utama tapi kadang mereka juga ikut mati, berbeda dengan film-film holywood yang selalu menampilkan para herois yang tidak pernah mati dalam adegan-adegan paling ekstrim sekali pun. Mereka menjadi tokoh utama dalam setiingan film yang direkam kedalam gulungan pita yang tersusun rapi dalam batok kepalaku dan kadang aku memutarnya tanpa perintah siapa pun kala rasa kangen melanda hidupku atas kenangan-kenangan yang terjadi di masa lampau dalam hidupku sendiri, bagaimanapun masa lalu lebih indah dari pada masa sekarang dan masa depan yang hanya menjadi lubang penantian yang hanya bisa menelan kehidupan, masa depan itu suram, karena orang sepinter apapun tidak akan tahu apa yang terjadi setelah satu detik, satu menit, satu jam, satu hari, satu minggu, satu bulan satu tahun dan seterusnya ketika usai menetapkan masa depanya. Untuk tetap berada dalam masa lalu akan sangat mengasyikkan tetapi tidak akan ada perubahan, maka biarkan hidup ini mengalir semaunya untuk menikmati jalan menuju pintu kematian tanpa kamar. Liang lahad bukanlah tempat untuk istrihat dan pengabuan mayat bukanlah cara untuk menerbangkan jiwa, yang bisa terbang hanyalah keinginan hidup yang tak bersayap selayalknya burung-burung kecil di udara, dan yang bisa istrihat hanyalah orang yang capek dalam beraktivitas di dalam hidup kemudian akan melanjutkan aktivitasnya setelah merasa kecapekaan itu hilang dari tubuh dan fikirannya. Orang mati tidak istrihat karena orang mati tidak pernah bercerita kepada kita bahwa mereka sudah capek untuk hidup. Hanya orang hidup yang bisa bercerita untuk mati dan berhenti beraktivitas di dalam hidup ini untuk selamanya, ingat kematian hanya diketahui orang mati dan orang mati todak pernah ketahui orang yang masih hidup, kepedulian dari orang mati yang kita kenal hanyalah semangat yang terekam dalam ingatan kita tetapi mereka tidak berperan aktif lagi dalam hidup. Hukum kontinuitas akan berlanjut selama masih ada kata hidup tetapi kadang terputus dari hukum keberlanjutan itu sendiri, namun semunya adalah terjadi untuk hidup itu sendiri dan akan tetap hidup juga walaupun terputus-putus tanpa hukum kontinuitas. Dalam perjalanan, banyak rintangan dan rintangan itu lah hidup, keberhasilan dan kegagalan tidak ada, yang ada hanyalah perjuangan, Perjuangan dan hidup. Api perjuangan harus menyala agar bisa mencairkan dinginya lahar keputus asaan dan meruntuhkan bukit-bukit penindasan menjadikan pasir yang menghujani manusia menjadikan semuanya abu-abu dalam ketidak jelasan yang sangat jelas.

Kalian semua pasti sudah tahu bahwa hidup ini tidak harus monoton, harus ada perubahan, entah perubahan yang buruk mau pun perubahan yang positif. Hidup adalah drama maka harus ada performa dan performa tersebut akan menunjukkan siapakah dirimu pada saat kita sedang ada didalam permainan itu sendiri, namun itu hanyalah peran dan peran bisa berubah setiap saat, bahkan melahirkan kehidupan baru, sekarang tidak harus melewati peretmuan kontol dan vagina, namun sekali lagi, tujuan dari tindakan atau performa tersebut adalah untuk hidup, semunya dilakukan atas nama hidup. Begitu pula gaya rambut dan cara berpakaian, ini adalah performa yang sangat kasat mata dan gamblang untuk merepresentasikan pemilik tubuh yang berada di balik suatu gaya yang sedang dilekatkan di atas diri; diri bisa berubah semampunya dan tidak harus di paksa untuk menjadi diri yang lain, dan keinginan untuk menjadi diri yang lain adalah keharusan yang mengalir tanpa batas, bagaimanapun ada rasa bosan yang akan selalu menyuruh kita keluar dari titik satu ke dalam titik-titik yang lainnya, tidak ada yang asli dalam hidup ini, yang asli hanyalah hidup itu sendiri dan yang membuat hidup adalah konformitas, tidak akan ada hidup kalau tidak ada kesepakatan bersama, bisa dengan cara memaksa tetapi tidak akan menghasilkan hidup yang seutuhnya menyenangkan tapi toh semunya dilakukan atas nama hidup, tapi pemerkosaan di jalanan bukanlah alas untuk hidup, dan tindakan tersebut tidak akan menghasilkan hidup yang layak untuk dinikmati tapi tetap akan ada kehidupan tapi jangan lupa banyak jiwa yang akan hangus dengan nafsu yang mengila di jalanan. Dengan demikian hidup ini akan berhenti secara total pada bagian-bagaian tertentu, pembelaan kehidupan tidak akan berkutit selama pilihan hidup menguasai kehidupan ini, pembelaan ada karena kita bisa memilih dan membela apa yang telah kita pilih hingga keluar dari penilaian baik dan buruk. Memilih bukan berarti berhenti pada satu pilihan saja, karena akan membuatmu mumet, dan harus mencari pilihan lain yang kamu bisa merasakan kenyamanan dengan tetapi bagaimanapun kamu akan tetap diserang oleh kebiasaan akan datangnya rasa bosan yang selalu melanda dengan membabi buta dan tidak menghiraukan akan kemampuanmu, yang pastinya tidak ada manusia yang hebat dan tidak ada manusia yang lemah, karena didalam hidup tidak ada yang lemah dan tidak ada yang kuat atau hebat, tetapi kita juga tidak boleh lupa bahwa hidup untuk saat ini telah dikuasai oleh orang-orang lemah yang dirasukki ketakutan akan hidup dan ketakutan mereka mengancam kehidupannya sendiri sehingga merugikan kehidupan yang lainnya. Untuk mengatasi ketakutan tersebut hanyalah berdamai dengan jiwa dan melawan tindakan pemusnahan di atas bumi. Hidup harus mengalir dan menembus segala arah, hidup tidak mengenal batas waktu dan ruang dalam arti bahwa hidup tidak memerlukan negara atau pun pemimpin.

 

AKU TIDAK KESEPIAN SAAT MALAM TIBA

 

Tiba-tiba saya dapat sms dari nomornya Anjar; dia mau ke kosku, tapi kali ini bukan hanya dia sendiri yang datang ke kosku, dia bersama tiga temannya, mereka adalah Dicky, Anga dan Gary, saya hanya kenal Dicky; dia adalah seorang anak dari korban broken home. Saya selalu banga mengamati ibunya yang sangat kuat, seorang janda yang kuat menghidupi tiga anaknya, kakaknya Dicky sudah menikah, saya yakin dia menikah dibawah usia, karena ketika saya masih di Kepek pada masa KKN, beliau sempat mengunjungi orang tuanya, Dicky menemani keponakannya, kakanya mencari pucuk-pucuk tayuman yang ada di halaman depan rumahnya. Pada saat itulah saya mengamati kakanya, kelihatanya dia baru berusia 17 tahunan tapi sudah menikah, sementara Dicky, dia sudah berhenti sekolah, dia hanya menamatkan SD, adiknya masih sekolah, mungkin tahun ini dia akan tamat SD, Ibnu adalah satu-satunya anggota keluarga mereka yang masih sekolah, dia kelihatan pinter disekolahnya; terakhir Anjar menceritakan Ibnu kepada saya, katanya semeter tahun ini dia berada di peringkat ke tinga di kelsanya, saya tanya lagi Dicky apakah benar adiknya juara tiga di kelasnya, dan dia bilang benar. Pekerjaan ibunya serabutan tetapi mereka juga punya lahan sendiri, dia bekerja di ladangnya dan membantu di ladang orang lain untuk mendapat uang yang lebih agar bisa membiayai kehidupan mereka sehari-hari dan juga sekolahnya Ibnu. Dicky bergaul dengan anak-anak sekampungnya, teman-temannya adalah peminum alkohol semua, tetapi dia tidak minum, dia hanya merokok, usianya baru sekitar 14 atau 15 tahun, kalau tidak salah kak Arfi sempat tanya berapa usianya? Dan Dicky menjawab 14 atau 15, saya lupa, tapi usianya baru sekitar itu, dia tamat SD pada tahun 2010. saya sering menyuruh dia untuk melanjutkan sekolahnya tetapi dia sudah malu karena teman-temn seangkatannya sudah berada di peringkat atas. Teman-temanya sudah mengkonsumsi minuman alkohol tetapi dia belum dan masih menolak dengan keras kalau ada salah satu teman mereka yang memaksa dia untuk minum minuman beralkohol.

Anga adalaha teman seangkatan Dicky yang rumahnya terletak di belakang tempat kerjanya mas Ronto, tempat gergaji kayu. Saya belum pernah main dirumahnya jadi saya belum tahu banyak tetang dia, begitu pun Gary, saya baru sekali ke tempatnya, dia dan Anjar masih bersaudara sepupuan, kakeknya Anjar dan kakeknya Anga adalah sepupuan juga. Saya lupa nama kakeknya Anga, saya mengunjungi tempat tinggalnya Anga bersama Dicky, ketika saya tiba disana, mereka dan teman-temannya pada rokokan, sambil memandang keluar lewat jendela yang kayunya dicat biru tua, seolah-olah mereka sedang menonton tv, pada saat saya masuk kerumahnya, disitu ada TV yang lagi menyala dalam kegelapan, rumah itu hanya memiliki satu jendela yang terbuka, sehingga kakeknya Anga mandang kotak ajaib itu di dalam kegelapan seperti di bioskop. Waktu itu ada tayangan sepak bola, para anak muda yang ada dirumah itu sepertinya mereka tida suka dengan sepak bola dan ternyata benar, ketika saya bilang bahwa saya tidak suka sepak bola, mereka juga senang dan menyahutku ”saya juga tida suka sepak bola,” mereka menegaskan ketidaksukaan mereka akan sepak bola secara bersamaan. Kemudian kami tertawa bareng. Kakaeknya Anga menyuruh saya untuk duduk bareng dengan dia, kami sempat berkenalan tapi saya sydah lupa namanya, di bercerita dan ternyata kami punya satu hobby yang sama yaitu mendaki gunung, dia menceritakan pengalaman-pengalamannya di gunung bersama teman-temannya di masa penjajahan belanda hingga pemerintahan orde lama, dia juga bercerita banyak tetang anak-anaknya presiden Indonesia yang pertama, tetapi saya tidak tertarik di bagian itu, saya hanya senyum-senyum saja, kemudian saya pamitan untuk pergi bergabung dengan cucunya yang sedang nongkrong diatas tempat tidur dan memandang keluar melihat jagung-jagung yang tumbuh subur dan tinggal menunggu dua minggu lagi, mereka sudah bisa menikmati manisnya jagung muda diatas api kedalam mulut mereka.

Kebetulan aku membawa rokok Surya 16, dan anak-anak itu tampak senang untuk menikmati rokok yang saya bawa, setiap kali mereka ambil mereka selalu minta ijin, ”waduh, udah lama gak minta ijin untuk mengambil rokok teman” bercakap dengan diri sendiri sambil senyum-senyum tidak jelas, akhirnya aku merasa tidak nyaman, mereka masih terlalu kecil untuk nongkrong bareng sambil rokokan, mereka belum bisa diajak untuk berdiskusi, tapi tidak apa-apa, mungkin ada hal-hal kecil lainnya yang bisa di sharing-kan, tapi bukan sekarang. Saya juga takut dengan orang-orang dikampung mereka, saya khawatir kalau mereka sampai mencapku sebagai agen pengarus negatif di kalangan anak-anak mereka, toh, entah kenapa anak-anak itu cepat sekali bebas dari sistem yang berlaku di masyarakat Jawa yang masih sangat kejawen, mereka juga sering berbohong kepada orang tua mereka untuk membebaskan diri mereka. Untuk membebaskan diri mereka hanya bersenjatakan alasan-alasan yang tetap, yakni belajar bersama, tapi apa yang mereka lakukan, itu bukan urusan orang tua mereka, mereka mau bebas, mungkin mereka juga mau mati muda, alasan mereka untuk mati muda mungkin tidak dikatakan secara terang-terangan tetapi umur mereka mengatakan hal itu, mereka masih sangat muda untuk merokok dan akan mudah matinya, saya juga sama dengan mereka, saya merokok di usia yang sangat muda juga, saya merokok di usia sekitar 16-17 tahun, alasan saya untuk merokok adalah untuk lebih menjadi kerena saja, agar kelihatan macho, yang mempengaruhi saya adalah kebiasaan dan aturan-aturan yang tidak masuk akal dan mendominasi, hingga saya kecanduan dan tidak bisa berhenti lagi, saya belum tanya anak-anak itu, kenapa mereka harus merokok?. Apakah mereka terpengaruhi oleh iklan rokok lewat media masa atau mereka terpengaruhi oleh keberadaan lingkungan mereka?. Tidak ada niat untuk merokok secara individu, bagai manapun merokok hanyalah tradisi jaman dulu yang sangat digemari banyak manusia hingga saat ini, merokok adalah main-main, iya mereka merokok dan bermain-main dengan asap, mereka membuat lingkaran-lingakaran menarik yang keluar dari mulut mereka, dan saya tidak bisa melakukannya, saya tidak akan belajar hal itu, saya sudah kecanduan dan saya merekok untuk memuaskan hasrat yang tidak ada namanya, tetapi semua orang menyebutnya candu. Saya tidak merasa nyaman dan akhirnya saya pamit dengan begitu cepat, saya hanya menghabiskan sekitar satu jam saja di rumahnya Anga.

 

Malam sekitar pukul 19.00 mereka tiba di halte Trans Jogja dibawah jembatan layang arah selatan dekat rel kereta api, aku menjemput mereka, sebelumnya Anjar sudah sms saya, bahwa dia datang bersama teman-temannya; wah gawat kamarku kecil sekali untuk memuat empat orang. Sebelum ke kos, kami mengujungi warung makan yang berseblahan dengan salah satu oraganisasi kiri yang di dalamnya aku kenal satu orang yaitu Pai, dia adalah teman kuliahnya sepupuku dan aku kenal dia di penmas yang diadakan oleh teman-teman pecinta alam di kampus hukum. Pemilik warung itu baik dan gendut. Saya menyuruh mereka untruk makan malam dengan saya tetapi mereka tetap menolak untuk makan, mereka sudah makan di jalan sebelum ke kosku.

Aku makan dan kami membahas emblem, mereka tertarik dengan emblem-embelem yang ada di jaket hitamku, emblem-embelem yang dibuat oleh teman-teman di Institut A. Sesampai di kos aku mebagi-bagikan embelm kepada mereka, mereka memilih, ada yang suka dengan isu lingkungan, ada juga yang suka dengan isu perang; ”semuanya adalah penolakan yang sama, yaitu melawan kapitalisme, biarkan mereka memilih dan berjuang dibidangnya masing-masing,” tertawa tanpa suara dan mengingatkan diri sendiri lagi. Dicky pergi mandi dan yang lainya tidak mau mandi; mereka menyebut Dicky itu wong Wedok dan saya menjadi marah besar, ”bukan hanya perempuan yang butuh mandi, laki-laki juga butuh membersihkan tubuh, lagian disini banyak air dan aku juga banyak sabun di dalam tas mandi, kalian bisa pake sepuasnya.” mereka semuanya diam seketika, tapi dalam keadaan semnuyum-senyum tidak jelas, akhirnya kami tertawa lagi, tertawa tanpa alasan akan lebih membuat tubuh ini sehat dan saya pun tidak mau menolak itu. Sembari tertawa, mereka bilang bawah  tubuh mereka anti air, tapi sepertinya tidak si Anjar selalu mandi waktu aku tinggal di rumah omnya yang berdampingan dengan rumahnya. Saya kira, anak ini sudah membohongi dirinya sendiri begitu juga teman-temannya, selain Dicky yang masih menjadi dirinya sendiri, dalam arti masih bepegang teguh pada pendirian awalnya, dia menolak muniman keras, mandi tiga kali sehari dan suka merokok. Aku mulai membereskan kamarku, apakah ini akan memuat empat orang tamu, arghh.. aku bingung. Ok kita keluar cari minuman. Kami jalan menuju Circle key yang ada di Babarsari, kali ini adalah malam minggu dan banyak orang yang melingkari minimarket tersebut, semua orang yang ada tidak memilih tempat yang paling, dipan warna merah yang ada di depannya masih kosong; kami masuk kedalam mini market tersebut, saya bertanya kepada mereka, mereka mau minum apa, mereka masih bingung, kami akan minum beer apa. Tiba-tiba penjaga mini market dantang dan menawarkan bantuannya. “ada yang bissa saya bantu?,” dan menjawabnya “kami bisa memilih beer sendiri!”. Suara ssaya agak tegas dan keras, karena si penjaga pasti takut akalau kami akan mencuru minuman atau makanan yang ada di rak-rak, orang itu meningalkan kami begitu saja. Saya juga tidak butuh minta maaf dari dia, karena minta maaf itu akan lebih memalukan, dia juga disuruh untuk kerja mendukung kapitalisme dan kami membeli untuk memperekuat kapitalisme, jadi kata maaf dalam kontek semcama ini sangat tidak dibutuhkan. Kami ambil dua botol beer Bali hai yang paling murah dibandingkan dengan merek bir lainnya, bintang dan kawan-kawan mahal; diam-diam saya suka bintang, mungkin ini hanya kebiasaan yang membuat aku suka dnegan bintang, saya sering minum bir bintang di surga meces dengan gratis, kadang ada bir hitam juga tapi saya lebih suka yang bintang, ahhh apa lagi yah alasan saya, kenapa saya suka dnegan bir bintang, selain keseringan minum bir bintang, mungkin dulunya itu adalah bir yang selalu ada di dalam kulkas minimarket, selalu ada. Dan rasa bir bintang sedikit sama dengan bir Victorian bitter yang dulu selalu tersedia dalam kulkasnya mana Sophia sewaktu dia masih kerja di kedutaan Australia. Ah.. akhirnya aku kangen masa lalu lagi; yah masa lalu akan selalu indah dibanding masa depan yang tidak pernah ada dan datangnya tiba-tiba saja tapa pemebritahuan bahwa kita sudah ada didalamnya. Yang dilewati selalu yang indah, kenapa yang diotaakku hanya tersimpan memory glamour?. Pada intinya saya hanya mau senang-senang dalam hidup ini. Akhirnya aku pengen menjadi buruh untuk mendapatkan sebotol beer dimalam hari tapi belum tercapai keinginan itu.

Kami minum dua botol beer, kami hendak merokok tapi melupakan korek di kosku, semua orang menaruh koreknya di kosku, terpksa Gary berdiri Dan meminta api pada orang-orang yang duduk disamping kami, saya tidak kenal maraca Dan tidak mau kenal, kenapa yah, kadang-kadang saya memang sangat aneh, kadang susah sekali untuk mengenal orang Dan kadang gampang sekali untuk mengenal orang tanpa paksaan. Kalau dilihat dari masalah koreka ini, seharusnya aku berterima kasih kepda orang yang telah memebrikan korek kepada Gary Karena saya duduuk disamping orang itu, maraca semunya duduk di lantai sekitar 9 orang. Kami berlima diatas kursi di samping maraca, saya, Anjar Dan Dicky duduk diatas kursi, karena kursi tersebut tidak bisa memuat lima orang akhirnya Gary Dan Randi memilih untuk duduk di lantai sampai beer kami habis. Bir yang kami minum tidak enak rasanya, sampai Anga memasukkan abu rokok kedalam botol yang isisnya masih tersisa sedikit bir Dan ia meminumnya sampai habis.

Sembari minum aku bertanya, setelah ini kita kemana Dan maraca  bilang, kita jalan-jalan saja sampai pagi, tapi aku memutuskan bagaimana kalau kita temptnya kak Anna saja, akhirnya aku mengirim sms ke nomornya kak Anna akalau kami akan adatang malam ini juga, namun sebelumnya saya sudah sms bahwa saya akan bawa teman-teman dari gunung kidul ini ke surga meces, aku melangar janji Dan memajukannya. Di pertigaan Citroli babarsari ada seorang pengamen yang aku kenal, dia adalah salah satu pengamen yang sepertinya terpaksa, dulunya dia menjual nasi kucing di sebelah gang yang menuju ke kosku, saya sudah sering ketemu dia, kami selalu saling menyapa, seperti teman dekat, tapi saya tidak tahu namanya, kami belum pernah kenalan, saya bertemu dengan beliau ketika masih jual angkringan Dan kami mulai ngobrol tanpa perkenalan terlebih dahulu. Saya bersalaman dengan beliau Dan seperti biasanya, basa basi sedikit dulu sebelum melanjutkan perjalanan. Aneh sekali, si Gary salam dan mencium tanganya, apakah mereka sudah saling kenal, gary memangilnya om. Tapi yang pastinya mereka belum saling kenal ini hanyalah kebiasaan kultur yang belum terhapus dari kebanyak otak-otak anak jalanan di Jawa khususnya. Kami melewati tenda-tenda yang di penuhi manusia yang sednag menyantamp makan malam mereka di tengah kebisingan, tiba-tiba Gary memberhentikan sebuah mobil pick up dan mereka mulai lari mengejar mobil itu sampai berhenti di lampu merah, kami naik mobil tersebut sampai di salah satu daerha setelah condong catur tapi bukan minomartani, mobil itu berhenti karena sudah sampai ditempat tujuannya, kamu harus jalan sekitar dua kilo meter dari tempat pemberhentian kami, lalu kami mulai jalan menuju jalan raya umum, selama di jalan kami tidak merokok, tapi kemudian saya pergi ke satu-satunya warung yang masih dibuka sepanjang jalan, saya masuk beli korek dan bertanya, kepada mbak pemilik warung, “mbak jalan ini arahnya kemana ya?” , dia menjawab “ke arah Jakal, mas” kata penjual itu dan aku bertanya lagi “tembusnya di jakal km berapa?” tersu dia jawab lagi, “km 9.5” dengan senang hati saya mengucapkan “terima kasih mbak.” Kami merokok dan jalan lagi, mereka selalu berada di belakang saya, aku jalan terlalu cepat, belum terbiasa jalan rame-rame dan jalan pelan-pelan, biasanya jalan sendiri dan selalu cepat melangkahkan kaki.

Kami sampai di pertigaan yang ada kuburan, saya sangat hafal daerah ini sehingga saya menjadi marah ketika Anjar mempertanyakan berulang kali kalau kami tidak salah jalan. Dia membuat saya bentak-bentak kayak orang gila. Kami masuk ke angkringan yang ada di sampinganya dan meminum teh dan kopi, sebelum berangkat saya telpon nomornya kak Anna tapi kali ini kak Arfi yang angkat, saya menjelaskan kalau malam ini kami ke surga meces, namun sebelumnya saya sudah sms kak Anna dan akmi berangkat kesana besok pagi. Kak Arfi tidak menolak kedatangan kami, akhirnya kami berangkat, namun sebelumnya saya membayar minuman kami.

Dipertigaan jakal km 9.5; Gary memberhentikan satu mobil pick up, dan kami bergegas-gegas untuk naik; saya mulai terharu dengan keberanian anak-anak ini, mereka terlalu berani untuk memebrhentikan mobil-mobil yang lewat tanpa diknelai oleh supirnya dan mereka selalu berhasil melakukanya, saya dan Nina, salah satu temanku dari Denmark pernah melakukan hal semacam itu, menyuruh truck untuk berhenti di jalan tapi sama sekali tidak berhasil. Kami sangat beruntung, mobilnya sampai berhenti di jalan masuk kepek arah barat samping masjid bergapura hijau musa. Ketika turun saya cek kantong saya, ternayat rokok yang tadi ssaya beli di CK sudah jatuh, tidak tahu rokok di kantong jaketku itu jatuh. Salah satu penyesalan yang terdalam, surga meces dingin dan kami butuh rokok, kami jalan melewati air yang telah membanjiri jalan, sesampai di surga meces, mereka berempat ketakutan anjing, mereka meminta ampun ”kami celeng..ihhhh” suara merka mengigil, anak-anak ini luar biasa, mereka bisa memebrehentikan truck-truck besar yang melaju dengan kencang tetapi taku sama anjing-anjing tuyul dan panjang kayak sosis. Akhirnya saya mengamuk sekali lagi, ”kalian  jangan takut anjing-anjing ini, mereka tidak mengigit, cuman gong-gong saja. Mereka naik ke balkon dan kak Anna menyuruh kami turun semua, dan masuk kedalam lumbung padi, mereka sudah diatas dan sekarang takut untuk turun lagi, akhirnya kami mengending anjing-anjing itu, aku mengdengong anjing yang masih kecil, kaka Anna dan kak Arfi mengendong yang lainnya, Dian dan dama menjaga dua anjing yang ada dibawah balkon. Mereka turun dam masuk kedalam lumbung padi dan menutup pintunya, hanya kepala mereka yang nongol dibalik daun pintu yang pendek tidak sampai satu meret itu dan dilatar belakangi oleh korden dari kain lurik sehingga mereka tampak lucu sekali, kayak wayang-wayang kecil yang didalangi oleh dalang yang pura-pura takut anjing. Kaka Anna menyuruhku untuk menemani mereka di lumbung padi, saya masuk kedalam lumbung padi dan akhirnya kami memutuskan untuk beli ciu malam ini juga, sementara di luar sana lagu-lagu dangdut koplo mengema, tadi membuat saya kaget pas turun dari mobil pick up terserbut, saya, Anjar dan Dicky pergi beli ciu di tempatnya bu Endang, kali ini ada dua motor terdiri dari empat orang, mereka juga beli ciu, aku tanya kepada bu Endang; ”bu, ciunya masih ada?”  ”iya masih, berapa botol?” dia mengambil dua botol ciu yang harganya sepuluh ribu, tapi kemudian aku tanya lagi, karena aku bingung, ”biasanya kak Anna dan kak Arfi beli ciu campuranya apa?” ibu Endang kaget, biasnaya kalo mas Arfi beli yang lima belas ribu dan campuranya greesand”

Kami membawa dua botol ciu dan satu kaleng greensand, Anjar mengelu di jalan yang sangat gelap, dia bertanya tapi kedengaranya bukan pertanyaan jadi tidak perlu di jawab, di bilang kayak gini, “ini kali atau jalan, bro?”. saya hanya diam saja dan tidak menjawabnya sama sekali. Kami tiba kembali di surga meces, Dicky dan Anjar sudah tidak takut dengan anjing-anjing yang masih gon’-gong. Mereka masuk kedalam lumbung padi dan aku ke dapur untuk membawa gelas dan cangkir teh untuk mencampur ciu dan greensand.

Kami minum dan tidak lama kemudian Anjar sudah mabuk berat, dia mulai melucu tapi saya khawatir sambil menahan tertawa, orang tuanya marah kalau saya mengajak dia minum minuman beralkohol. Dicky dalam keadaan sehat-sehat saja sehingga aku menyuruh dia untuk menjaga teman-teman yang sudah mabuk, mereka mulai muntah-muntah sementara ciu masih tersisa satu botol. Awalnya saya kira mereka adalah peminum berat sehingga menyuruh saya untuk mencari ciu dan saya tidak tahu tempat jual ciu di jogja makanya saya ajak mereka ke surga meces dan di surga meces, saya tahu di tempatnya ibu Endang ada ciu yang rasanya lumayan membakar usus-usus manusia. Bagi yang sudah minum ciu, tidak akan khawatir untuk mati lagi, karena ciu menurut rumor di kalangan akademisi, ciu terbuat dari berbagai macam obat, salah satunya adalah obat nyamuk, jadi ciu tidak ada bedanya dengan lapen, kata temanku yang menjadi presidenku yang kini aku tidak tahu kabarnya, selama liburan ini aku dan Angga (Angga BEM) yang selalu berjumpa untuk merapatkan kegiatan kami, sementara dari bagian pengurusan bem yang lain tak ada satu pun yang ada. Akhir-akhir ini kami selalu bertemu untuk mencari dana untuk having fun dengan anak-anak yatim paitu.

Anga tidur bersama sebagian bantal di dalam lumbung padi, sementara kami hanya memakai satu bantal di bawah masing-masing kepala. Tidak tahu, sejak kapan kami tidur, sementara ciu dan gelas-gelas masih berantakan di lanatai. Kami melanjutkan ritual minum setelah sarapan pagi, akhirnya kami menghabiskan ciu di minggu pagi dan kami tidur lagi, bangun siang dan mengajak Iilu main di jalan dan dia mulai menarik-narik tanganku supaya saya membawa dia ke rumahnya pak Sus, agar dia bisa melihat angsa-angsa, tetapi kali ini saya tidak bisa membawanya ke kandang angsa, saya memegang tangan Illu dan kami mengejar bebek-bebek yang ada di pingir kali, kemudian bebek-bebek itu masuk kedalam huta, illu menarik tanganku untuk masuk hutan tetapi saya memarahinya dan dia sadar kalau aku marah, di hutan banyak nyamuk. Kami balik ke tumpukan galian pasir endapan leutas merapi yang tergali di pingir kali, bukit-bukit itu tampaknya tempat yang sangat tinggi buat orang seusia Illu yang baru 1 tahun. Dia senang mendaki tumpukan-tumpukan pasir yang di kumpulkan oleh para pekerja di pingir kali, saat ini mereka tidak ada karena ada acara mantenan di sekitar rumah pak Sus, mungkin tidak ada kerja karena ada acara mantenan, kalau mereka tetap kerja akan sangat mengangu, mungkin truck tidak bisa lewat karena banyak tamu undangan yang ikut ke pesta tersebut.

Dama menyukai Dicky dan Anjar tetapi kedua anak itu tampaknya masih pemalu, tetapi ketika melacak usia kedua temanku itu teranyata Dama tidak suak dengan orang-orang yang berada dibawah umurnya sendiri, kemudian Dama bilang kalau teman-temanku itu masih kimcil-kimcil. Dama juga cerita kesana kalau dia baru putus dengan pacaranya yang punya bengkel, mereka putus pada hari kamis, dan kami datang pada malam minggu, mungkin ini yang membuat Dama suka dengan kedua anak yang disebutnya masih kimcil-kimcil. Aku memperkenalkan Dama dnegan Dicky, karena pengalaman hidup mereka sama, dama juga dari keluarga yang broken home begitu pula Dicky, tujuan saya adalah hanya untuk mendekatkan mereka buka untuk makcomblang karena itu bukan profesi saya. Lagian mereka masih sangat kecil-kecil, kalo ada apa-apa pasti pusing. Tapi tidak akan apa-apa kalau mereka saling suka, mungkin mereka harus diperkenalkan kondom terlebih dahulu agar mereka tidak menciptakan manusia-manusia baru sementara hidup mereka juga masih tergantung pada orang lain seperti saya yang masih mengantungkan hidup saya ditangan para donatur yang sekaligus kakakku, Jerry adalah kakakku namun kami hanya kebetulan terlahir dari satu rahim, intinya siapa saja bisa jadi saudara dan saudara kapan saja bisa jadi musuh, tapi alangkah baiknya saya tidak mau punya musuh dalam hidup ini, bukan karena takut dosa tetapi karena saya tidak bisa berkelahi, sata hanya bisa membunuh kalau terpaksa, begitulah mental-mental para korban bullying di masa kanak-kanak. Jangan pernah fikir bahwa orang-orang yang kamu kira takut dengan kamu adalah benar-benar takut, untuk tidak berkelahi agar tetap manusiawi, tetapi manusia pada umumnya tida seutuhnya manusia, siapa saja bisa jadi singa atau macan yang bisa memakan hewan-hewan lain.

 

Kami balik ke kos hari senin pagi, kami menumpangi truck yang berisi pasir dari kali dan berganti truck di salah satu pertigaan di jakal, kami menunggu kendaraan lain di lampu merah, teman-teman mulai mencari puntung-puntung rokok, aku masih bisa jaim dan menolak hasil pencarian mereka. Tidak lama kemudian ada satu truck kuning yang muncul, isinya penih dengan pasir tapi di atasnya terdapat 4 roda mobil, kami duduk diatasnya, dan angin menium kami, aku teringat kembali kampung halaman, di kampung halalamku, di musim panen jagung, banyak orang yang sudak duduk diatas tumpukan kayu yang ditata rapi di dalam truck. Sayang sekali, saya tidak punya kamera untuk mengabadikan kebersamaan kami yang sangta kocak, awalnya aku merasa tidak cocok dengan mereka tetapi banyak truck yang kami tumpangi akhirnya aku menjadi sadar bahwa anak-anak ini memang sangat luar biasa, mereka tidak kenal malu dan tidak takut mati di jalanan. Mereka suka hidup di jalan, orang tua mereka sangat baik hati, apa yang salah dengan semuanya, apakah ini cuman gaya hidup, tapi gaya hidup yang tidak punya arti kalau tidak melawan siapa pun. Saya akan tanya ke mereka, kenapa mereka suka di jalan sampai mengamen, mereka punya banyak makanan di rumah, arghhh aku bingung.

Kami turun di lampu merah UPN ring road utara, lalu kami jalan melewati dua circle key, saya pengen beli bir tetapi mereka bilang tidak usah, lalu saya tanya ke mereka lagi, apakah mereka mau makan atau mau minum bir, dan mereka menjwab, makan saja. Baik, kali ini kami makan nasi kucing di daerah belakang kampus UPN pusat. Mereka hanya makan satu bungkus, aku menyuruh mereka untuk menambahkan tetapi mereka malu, hal ini beda, ketika di rumah surga meces, pas malam terakhir, mereka makan banyak sekali dan hampir menghambiskan sambal tomat sementara Dian dan Dama belum makan, sebenarnya Dama dan Dian tidak apa-apa tetapi saya yang menjadi malu karena saya yang membawa mereka. Tapi khirnya semuanya lancara kembali, Dian membagi rokok dengan kami, rokoknya tinggal dua batang tetapi yang satu buat kami berdua saja, sementara satu buat mereka berempat, mungkin dian juga bisa joyn satu batang dengan mereka tapi sepertinya alasan keakraban yang belum kental diantara mereka. Aku menjadi perantara yang bego dalam urusan mengatur, sebenrnya aku harus bilang mereka makan sedikit agar semua orang dapat bagian yang sama, tapi aku juga tidak bisa mengatakan apa-apa karena di Kepek, di kampung mereka orang tua mereka menerima saya dengan sangat baik dan mereka menediakan banyak makanan untu saya, hampir 24 jam kerjaan saya cuman makan saja. Tetapi seharusnya saya sadar juga kalau di kepek mereka memberikan banyak makanan karena mereka punya semuanya, sementara di surga meces, lagi apes, tidak ada sayuran selama dua malam nginap.

Kami tiba dokosku sekitar jam 8.30, salah satu teman kosku mememlihara anjing, anjingnya masih kecil tanpa nama, dia berak di depan pintuku, tetapi hampir depan semua pintu ada tahinya dan juga air seninnya, kos kini didominasi bau pesing anjing, Dicky dan Anjar menginjak tahi di pintu utama, aku menyuruh mereka untuk cuci kaki sebelum masuk kedalam kamarku, Dicky kemudian pergi mandi, dan anak-anak lain mulai mengejeknya lagi, saya punya rencana untuk memberikan peringatan yang agak keras dan panas ditelinga mereka, tapi saya belum bisa janji kapan saya bisa melakukannya. Mereka bertiga tidak mandi dan tetap berpegang teguh pada pendirian mereka, saya kira mereka akan menghabiskan waktu mereka di kamar mandi dirumahnya masing-masing karena air terasa sangat nikmat ditubuh, kulit mereka mungkin akan merasakan kenikmatan selama beberapa hari tidak tersentuh oleh air. Aku mengambil receh-receh didalam toples biskuit, kuberikan kepada mereka untuk membeli rokok di jalan menuju kepek, mereka mau ngamen di jalan dan aku menyuruh jangan mengamen, tapi saya tidak tahu, apakah mereka tetap mengamen di jalan. Kenapa mereka terlalu berani untuk minta duit di jalan terhadap orang-orang yang mereka tidak kenal, sementara orang tua mereka punya kendaraan motor, mereka tidak takut kalau sampai orang tua mereka lihat mereka di jalanan sambil mengamen. Saya yakin pasti orang  mereka akan malu dan sangat marah karena mereka masih mampu untuk memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari. Alas kenapa mereka mengamen di jalan adalah, hanya untuk beli rokok, karena mereka tidak mungkin minta duit orang tuanya untuk beli rokok, mereka tida k tega melakukan hal itu, dengan demikian mereka bersusah payah untuk mendapat duit sendiri dan membelanjakanya. Aku ingat, dulu aku sering minta duit ibuku untuk beli rokok, dan aku juga anggap hal itu biasa saja, tetapi lain sekali dengan anak-anak ini, mereka terlalu menghormati orang tuanya hingga takut dan tidak bisa minta apa yang ada di luar aturan, merokok kerja sendiri baru dapat rokok, mereka mau kerja dimana sementara mereka sudah ketagihan dengan puntung-puntung rokok di jalanan, maka mereka berusaha keras untuk mendapatkan rokok yang utuh dan menikmatinya, rasanya akan sangat luar biasa, aku pernah melihat anak-anak di jalanan sebelum saya ke jalanan bersama teman-teman dari kepek kali ini, aku melihat anak-anak jalanan di sekitar KFC dekat bundaran UGM depan Mirota kampus; anak-anak itu join’ satu batang rokok, dan mereka manriknya sedam-dalamnya dan perlahan sekali untuk mengeluarkan asapnya, ini sama halnya ganja yang sangat mahala di kalangan anak-anak yang berekonomi menengah ke atas bukan uper-uper; mereka menghisap rokok murahan itu dengan bergatian, dari satu mulut ke mulut lain dan sapanya lamabat sekali hinga berkali-kali ditiupkan keudara yang tampak kososng tapi disini dengan kotoran kendaraan kota. Merokok di kampung dan merokok di kota sangatlah berbeda rasanya, dan merokokd di pingir jalan yang banyak kendaraan tua yang mengeluarkan banyak asap kayak mengusir nyamuk rasanya kepengen muntah dan menjadi orang tolol ditengah keramaian kalo disana tidak ada yang merokok dan semua mata terheran-heran melihat kearamu, kamu merokok dan asap kendaraan itu lebih dahsyat dari asap rokokmu, mending hirup saja udara yang sudah tercemar dari pada buang-buang duit untuk membeli rokok dan menghisapnya di jalanan yang tidak ada rasa kenikmatanya sama sekali, maksud saya jalanan yang penuh dengan asap dari mobil tua.

 

AKHIRNYA

 

Aku berhasil meloloskan diri dari cengkeraman moral yang tak terduga dan sesekali menyakitkan hati; teman-teman calon anak jalanan ini telah menyelamatkan aku dari sebuah acara yang saya tidak mau ikut tetapi membuat saya menjadi dilema, karena. Orang yang berpengaruh besar dalam keluarga kami terutama di dunia pendidikan, kini dia hadir di acara wisudnya keponakanku, dia adalah om kami, tapi saya selalu tidak merasa nyaman dengan dia, entah samapai kapan pun, saya tidak tahu. Dia orang yang sangat baik hati tapi sekaligus mematikan karakter orang, akan lebih baiknya aku sebut saja pembunuhan karakter. Saya sudah sering terlalu jujur didepannya, bahwa saya tidak bisa di ilmu hitung-hitungan yang dipakai dalam dunia sosial yakni Statistik, saya ambil jurusan Sosiologi, saya tidak bisa lulus kalau satu mata kuliah itu masih jelek. Akhirnya saya akan menjadi bisu dalam kemarahan terhadap diri sendir, ”kenapa saya tidak pinter di bidang menghitung?, arghh.. kenapa hidup ini harus ada hitungan?. Oops teman-teman saya ini menamakan diri the Oi, salah satu aliran punk yang suka main di jalan, pantasan teman saya, si Gary mantab sekali memberhentikan truck-truck gede di tengah jalan maupun di sekitar lampu merah, tapi saya belum tau apakah mereka sudah pernah berbuat onar, dan satu lagi tindakan mereka yang kelihatan masih terpenjara dengan kultur, ternyata tidak, karena ada juga scum punk yakni satu aliran punk yang mengutamakan moral, apakah moral bisa dilihat sebagai cara pembodohan manusia, ataukah perlu etika untuk mengkritiknya, coba lihat temanku masih mencium tangan temanku yang dia tidak kenal sama sekali. Mungkin Dicky bisa disebut sebagai scum punk karena dia tidak mengkonsumsi zat-zat yang dapat merusak tubuh, dia juga jaga jebersihan tubuh, sering mandi, dll.  kecuali rokok dan aku apa yah, arggghhh sepertinya, cocok di queer core, tapi apakah di indonesia ada aliran punk queer core, humm queer core terbentuk satu tahun kemudian saya lahir, berati usianya baru 26 tahun, masih sangat muda!.

Saya menjadi penasaran karena hampir sama PUNK dan Anarchy, semuanya hanya di dominasi oleh para kaum hetero yang kadang fascism dan para homoseks semuanya terjun kedalam LGBTIquestioning yang semuanya tunduk pada negara dan meminta-minta hak kayak pengemis di jalanan terhadap pemerintahan, karena menurut saya dan menurut para kaum anarchy queer, sex tidak perlu diarur oleh negara.

 

Tinggalkan komentar

pusing refreshing dan pusing lagi!

“voy”Ⓐ LⒶ BⒶRRICⒶDⒶ TODOS LOS DIⒶS Y REFRESCANTE la CABEZA CON UNA PELICULA CUYA MEJOR ES ‘LIBERTARIAS’: SOBRE EL EJERCITO ESPANOL SE LUCHA CONTRA EL GOBIERNO DE LA REPUBLICA. POR CIERTO  RINDO A LAS MUJERES; VIVA LAS MONJAS Y VIVA LAS PUTAS! :) :) Vamos a ver qué tal está la película se mira buena http://www.youtube.com/watch?v=p13BaiIoPx4. hahahahahah perjuangan Ⓐteis untuk membebaskan orang-orang suci kedalam surganya masing-masing diatas bumi karena surga yang diwahyukan lebih baik menjadi asap dan pupuk organik (abu), karena di luar sana banyak novel yang paling asyik untuk di baca dibandingkan ayat-ayat dan pasal-pasalmu yang sangat monton dan menguras banyak energi tapi tidak sama sekali untuk bisa di pahami, kalau dihafal mungkin bisa tapi tidak untuk dipraktekkan karena sangat berbahaya dan bisa meledak kapan saja seperti tabung gas warna hijau yang ada di dalam dapurmu yang karetnya telah longar, salah tingkah bisa mmengemakan lagu jadul lawas tenan, yoii lagu kanak-kanak yang dulunya kamu nyanikan bareng2 dengan  ibu guru Tkmu. hikss yang ijo pasti meletusssssstusssssasusucihantuhantau potjonggg…..maka buanglah kain kafanmu karena setelah mati kamu akan di makan cacing dan kamu memang tidak perlu untuk didadani lagi; buanglah tuhanmu seperti kamu membuang karet gas elpiji yang sudah kendur kedalam  tong sampah sebelum keyakinanmu memebakar dirimu sendiri. agnostik kabeh wae, ada dan tidak ada bukan lah urusan saya, itulah jawaban yang akan kamu dengar dari mulutku ketika kamu bertanya “apa agamamu dan apa atau siapa tuhanmu?” buang lah tuhanmu, berati tuhan pernah ada, ah. yang pastinya aku sendiri tidak mengenalnya, aku hanya ditakut-takuti dengan sebuah poster kusam yang didalamnya ada seekor simbah berjengot putih dan panjang, ia tampak duduk didalam halo, maka sekilas aku memandang poster itu adalah gambaran bulan, tapi akhirnya aku sangat yakin bahwa ajaran ini adalah perkembangan atau bahkan lanjutan dari paganism. iya aku akan menjadi seorang pagan ketika sudah sampai di atas puncak gunung Sumbing; disana aku akan mengharagai matahari dan apai, bahakan di pagi hari aku bangun lebih awal untuk membakar ranting-ranting pohon sambil menanti kabut-kabut tebal memberi ruang kososng kepada matahari untuk menghangatkan badanku, kemudian tibalah malam tanpa sepengetahuan siapapun karena kabut tebal sangat ngeyel untuk tetap berada di tempatnya atau malah angin kencang mengundang kabut dari penjuru lainnya untuk menambah tebalnya di atas kami, masih diatas puncak gunung Sumbing, kali ini bulan purnama, sumber kehangatan mejadi turun drastis, tubuhku mengigil/ tidak tahu dinginya berapa derajat celsius, karena aku bukan ahlinya. saya dan teman-teman bercengkerama, duduk melingkari api ungun, tujuan kami bukan hanya untuk bersenda gurau tapi kamu butuh kehangatan dari sumber lain bukan kehangatan dari manusia, semua orang dingin, bahkan tenda kami juga lebih dari lembap yang terjadi dibawah kaki gunung, untuk menyalakan api saja susahnya minta ampun, satu liter spiritus telah usai tapi belum ada tanda-tanda kehidupan api, menlaya kemudian mati padam lagi, berumtung ada teman yang masih punya sebotol minyak tanah, maka dengan hati-hati kami menyulukannya lagi dan akhirnya kun faya kun nyalah api, dan tangan kami menjulur ke atas lidah api raksasa, stelah tangan kami hangat, kami juga tidak lupa menghangatkan pantat kami dekat-dekat api yang sedang berkoar-koar kayak jago merah yang rakus melahap beol-beol kami, baik bagaimana pun panas amat sangat dibutuhkan diatas puncak gunung yang  dingin walaupun tanpa salju kayak di belahan bumi lain. intinya siapa saja bisa balik kedalam lingkaran paganisme ketika berada dalam situasi yang seperti kami alami di atas puncak; akan bisa memuja terik matahari dan panas apai sekaligus terang bulan diatas sana yang hanya bisa di pandang tapi tidak bisa dimakan, wahhh mangan ora mangan asal kumpul dan waktu itu ada temanku dari Solo yang membawa empat Liter CIU BEKONANAG, wah asyik nih, akhirnya ada sosok penyelamat dalam wujud mausia seperti saya dan teman-teman saya yang lainnya, apakah dia adalah seorang dewa mabuk yang suka menghilangkan kesadaran semunya dan melampiaskan sublim yang tidak pernah terkuak olehnya, maka ini adalah kesempatan untuk menikmati kebebasan, mungkin para Sisifus kecil ini sedang rehat dimalam hari dan melonglong kayak asu di dekat satu-satunya kuburan di tengah kawah gunung sumbing, ok hangat-hangat ciu di mulut bersama rokok murahan, singkat saja nama rokoknya BB, super murah waktu itu tapi di kaki gunung harganya agak nail menjadi Rp 6000 walapun waktu itu di kota harganya masih sekitar Rp 4500. yakin yang murahan pasti enak dalam keadaan dingin yang membuat jari-jari kukumu ikut mengigil di dalam kaus kakimu yang berbau manusia busuk di dalam liang lahat. ini adalah musim mekarnya bunga dandelion–kuning-kuning kecil akan selalu menghiasi padang rumput akhiranya kamu juga akan merasakan hamparan karpet hijau berbunga-bunga itu kedalam imaji kanak-kanakmu yang sering menceritakan indahnya halamn hijau berbunga, tapi semunya hanya ilusi yang diceritakan dan kemudian kamu menemukan sendiri keindahan itu, kamu bertanya lagi kepada saya, apakah saya yang emnanamnya, tetunya bukan, dandelion bisa menyebar kemana saja tanpa mengenal jalan, batas waktu dan wilayah, karena bijinya-bijiya bisa terbang kemana saja dan bisa berekmabang biak dengan baik di tempat yang dingin seperti kawah ini.*** ok hitunglah kalau tuhan hanyalah keindahan dan kenikmatan; sudah berapa tuhan saya? tapi kemudian saya dan teman-temanku meninggalkan puncak dan kawah tersebut, yang tersisa dalah imajinasiku sendir, mungkin seperti kamu yang kangen dengan majalah Bobo mu atau aku yang bahagian karena waktu itu masih punya kamera dan bisa motret sana sini, hampir memasukkan semua  yang ada di kawah dan puncak tersebut kedalam jepretan-jepretan yang nantinya bisa menjadi imaji yang bisa lihat-lihat kembali kedalam image keindahan itu, maka aku akan menyebut diriku adalah seorang amorous yang hanya membutuhkan kelamin sesama atau seorang narsis?, ah itu semua tidak perlu di pertanyakan, biarkan aku bahagia dengan imajinasiku sendiri, semua hanyalah imajinasi yang ditaransfer dari mulut ke mulut, maka itu kamu juga susah menjelaskan ADA dengan referensi kasusalitas maka aku akan bertanya-dan bertanya lagi hingga kamu juga tidak bisa menjawab keber-ADA-an itu sendiri dan aku pun merasa mengantuk untuk tidur karena aku juga tidak bisa membuktikan ke-Tidak Ada-an yang aku yakini.*** lalu aku bertanya kepadamu; apakah perdebatan konyol ini penting, ah yang pastinya tidak penting sama sekali karena yang ada hanyalah mulut kita, oh bukan, waktu itu lidah kita yang bekerja keras berlayar mengarungi malam berembun itu, sekitar jam sembilan pagi, aku melihat-lihat kuncup-kuncup edelweis yang berembun yang juga sebagian telah mekar jauh hari sebelum kita ke puncak dan bermalam di kawah, aku menemukan ada bekas-bekas kenakalan semalam yang tersisa di di batang hitamnya bunga abadi itu, mengelikan, aku memindahkan bekas kondom itu, dan kamu juga kaget melihat ada plastik, bungkusan kondom yang sudah sobek tanpa isi, kita membuangnya jauh-jauh dari tempat perkemahan kita, lalu kita menyangkal kenikmatan itu dan bersujud lagi di depan sisa api ungun sebelum menurunkan diri kita masing-masing kedalam lembah kangen dan kini menjadi pajangan lawas yang hanya mengharu birukan air liur ngeces kayak anak yang masih berusia kurang lebih dua tahun, lalu anak itu haus dan pengen menyusu lagi, melumat puting-puting kecilmu yang tidak menghasilkan ASI, hahahah… aku tertawa, karena kamu memang bukan sumber untuk menghasilkan minuman berharga tersebut, minuman itu telah melantarkan kita ke dalam tugas berat seumur hidup, ini bukan batu yang didorong berulang kali oleh Sisifus, si laki-laki luar biasa itu, tetapi ini adalah kerinduan yang mendalam atas segalanya dan juga dirimu. kangen tanpa kata yang bersumber amor untuk menghilangkan kepemilikan__NI DIOS, NI PATRON, NI MARIDO

Tinggalkan komentar

Melawan Lupa: Menuju keadilan Sejati/oleh: Usman Hamid

Melawan Lupa, Menuju keadilan Sejati
Usman Hamid

I

Dalam situasi hiruk pikuk kehidupan social Dan politik hari ini, kita seperti tenggelam da;am ketergesaan. Ingin membicarakan ini Dan itu, menyikap masalah di sini Dan di mana-mana, sampai menyuarakan tuntutan keadilan dari begitu banyak manusia. Akibatnya, kita tak sempat lag mengingat masa lalu.

Hiudp sehari-hari sesunguhnya banyak mengajarkan kepada kita bahwa ketergesaan sering membawa gejala amnesia social. Gejala ini yang sering terlewatkan Dan bahkan sering ditempatkan menjadi sebuah situasi sekadarnya. Padahal kita tahu, di balik relung kehidupan manusia tersimpan banyak hal yang tak terjamah, yang tak bisa diaraih dalam momen khotbah, petuah kesalehan Dan pesan-pesan moral yang kini bahkan tidak bisa lag menampung semua kondisi social politik yang terjadi di Indonesia dan di banyak belahan dunia lainnya.

Kehendak baik yang bertaburan itu toh tidak memiliki ruang lapang untuk menjadi alasan utama mengapa kekerasan harus kita tolak. Kekerasan, terror, pelangaran HAM, Dan trauma tidak saja menjadi perkara nilai-nilai moral Dan hokum semata. Bahkan kini kecenderungan lain hadir, nilai moral dan sanksi hukum seolah tak berhasil membawa keadilan kepada korban, bahkan tak mampu mencegah orang untuk berbuat kekerasan, menimbulkan derita pada orang lain, tanpa harus mengenalnya, mengalami bagaimana rasanya menderita. Nilai dan sanksi itu justru terjebak dalam permainan-permainan abstrak yang lebih didominasi oleh politik kekuasaan, atau citra kedirian seseorang, bahkan pelaku pelangaran HAM sekali pun ikut menggunakan kenikmatan dari politik citra sendri itu. Menggunakannya sebagai topeng. Memaksakan topeng secara berulang-ulang sehingga yang melihatnya terpedaya dan percaya. Dia atau mereka, atau siapapun yang terpedaya itu tenggelam dalam lupa, pelupa, amnesia.

Melawan pelupa itulah, kata Milan kundera, makna dari sebuah perjuangan melawan kekuasaan, perjuangan ini, dalam bentuknya yang sederhana, dapat kita lihat pada setiap hari kamis, jam 4-5 sore di salah satu sudut lapangan Monas, persisnya diseberang istana Presiden. Sosok-sosok itu, pakaian dan payung-payung hitam itu kini menjadi suatu lambang kesabaran, solidaritas, dan keteguhan. Bahkan perlambang keimanan pada yang Maha Adil. Pada suatu masa dimana keadilan akan hadir. Di balik sosok-sosok ibu-ibu seperti bu Sumarsih, bu lestari, bu Ruminah, bu Sanu, bu Suci, dan bapak-bapak seperti pak Mudjayain, pak Bejo, pak Tumisu, pak Effendi, yang berdiri, ada berjuta cerita tetantang anggota keluarga mereka yang hilang, yang ditembak, atau disiksa bertahun silam. Mereka punya nama. Juga punya cerita. Cerita-cerita dalam ingatan mereka tak hanya tentang pengalaman atau bayangan kekerasan pada anggota keluarga tercintanya, namun yang mungkin lebih tak terlupakan adalah ingatanakan masa kecil mereka, masa sejak mereka ada dalam kandungan kasih sayang ibu (rahim),hingga tersenyum dan tertawa, masih tanpa suara layaknya sosok dewassa. Sosok bayi itu mendapat cinta yang penuh dari mereka dan siapapun yang pada saat kelahirannya, merayakan dan mendoakan agar kelak menjadi sosok manusia yang sempurna.

Kepekaan dalam solidaritas, cinta dan kasih sayang itu, kita bisa merassakan saat mengenang masa-masa dalam pengakuan hingga dewasa, ssaya pun kian merasakan dalam pikir dan hati yang demikian saat baru-baru ini bersama istri dikaruniai seorang bayi, putera, yang begitu penuh kami hendak mencintainya.

Itulah mengapa, Dostoversky pernah mengingatkan dunia bahwa kenangan manis masa kecil kanak-kanak bisa menyelamatkan kita memebrikan mafaat pada diri kita. Dostoversky berkata, you must know that there’s nothing higher, or stronger, or sounder, or more useful afterwards in life, than some good memory, especially a memory from childhood, from the parental home. Mungkin bisa dimaknai, kita harus mengenal bahwa tak ada yang lebih tinggi, atau lebih kuat, atau lebih menggema, atau lebih berfaedah di dalam kehidupan, daripada beberapa ingatan/kenangan manis, terutama sebuah kenangan/ingatan dari masa kecil/kanak-kanak, masa ketika di pangkuan orang tua.

Semula saya hendak memainkan sebuah lagu dari The Rolling Stones berjudul ‘as tears go by’. Lagu ini bisa membuat kita betul-betul menjadi seorang yang mendengar, menjadi seorang yang benar-benar pendengar. Lagu ini bercerita tentang seseorang yang duduk disuatu senja, merenung Dan terus mengingat serta tak ingin melupakan apa-apa yang terjadi di masa lalu. Ia mengingat melihat anak-anak kecil bermain, ia ingin mendengar anak-anak bernyanyi, namun semua yang ia dengarkan hanya suara hujan jatuh ke bumi. Ia merenungi bahwa segala apa yang dimiliki manusia tak dapat membawanya memperoleh segalanya atau bahkan sekedar membawanya ke massa lalu. Karena itulah maka ‘masa lalu’ harus tetap ada dalam ingatan.

Barangkali ingatan atau kenangan-kenangan itulah yang membuat para orangtua yang berdiri tiap kamis, di depan Istana, tetap diam dalam keteguhan, diam dalam kemuliaan. Keteguhan untuk terus berjuang. Kemuliaan dari suatu akhir cita-cita dan impian.
***
Di belahan lain Jakarta, di kediaman keluarga Ir Setiadi Reksoprojo (alm), juga terbentang ikhtiar merwat ingatan. Melawan lupa.

Dalam usia 88 tahun, mantan Mentri Listrik dan Ketenagaan Kabinet  Dwikora Ir.H.Setiadi Reksoprojo, meninggal dunia (wafat) pada hari rabu, 28 Juli 2010 Wib. Ia lahir pada 18 September 1921. dalam usia 25 tahun, almarhum diangkat menjadi Meneteri Penerangan RI (1947-1948). Barangkali menteri termuda dalam sejarah Indonesia. Sosoknya bersahaja.

Di kediamannya yang sederhana, sekitar 150 meter per segi di are Jalan Talang, Pengangsaan Jakarta Pusat, kita bisa melihat sejumlah dokumen lama yang ditinggalkannya dan tersimpan apik. Pertama, dokumen yang mirip paspor bertuliskan republik Indonesia, lambang burung garuda yaitu Surat Legitimasi No. 71/ktr/65 Djakarta, 12 Djuli 1965 berbunyi “kami presiden republik Indonesia dengan ini menerangkan bahwa Ir. Setiadi Reksoprodjo adalah meneteri Listrik dan ketenagaan, dalam pemerintahan republik Indonesia. Kepada pihak jang berwadjib si seluruh Indonesia baik sipil maupun angkatan bersendjata, diperintah-kan supaja memberikan bantuan-bantuan dimana diperlukan.

Kedua, dokumen Surat Tanda Djasa Pahlawan yang dituliskan ”kami Presiden-Panglima Tertinggi Anggkatan Perang Republik Indonesia, menganugerahkan Tanda Djasa Pahlawan Kepada Ir. Setiadi Reksoprodjo, pangkat Kapten, tanda jasa tertanggal 10 Nopember 1958 ini diberikan aras jasanya dalam perjuangan gerilya memebla kemerdekaan Negara.

Ketiga, surat Tanda Penghargaan dari Menteri Pertahanan Djuanda pada 17 Agustus 1958, menyatakan bahwa Ir. Setiadi Reksoprodjo dianugerahi ‘Satyalantjana Peristiwa Kemerdekaan ke I’ serta ‘ Satyalantjana Peristiwa Perang Kemerdekaan kedua’ sesuai ketentuan pasal 16 UU No. 70 tahun 1958 tentang Tanda Penghargaan Chusus Untuk Anggauta Angkatan Perang Republik Indonesia.

Terdapat pula secarik surat dari Jenderal TN Dr. A.H Nasution yang berbunyi ‘jang mulia meneteri Listrik dan ketenagaan Ir. Setiadi Resksoprodjo, perkenalakanlah saja menggunakan kesempatan ini untuk menyampaikan kepada jang mulia utjapan selamat atas kehormatan dan pengangkatan sebagai Menteri Listrik dan Ketenagaan, semoga segala usaha Jang Mulia untuk memadjukan departemen jang akan jang Mulia pimpin selalu mendapat lindungan serta bimbingan Tuhan Jang Maha Esa, sehingga mentjapai hasil-hasil sebagaimana kita harapkan. Achinja saja utcapkan selamat bekerja, semoga sukses.

Almarhum merupakan seorang menteri kabinet terakhir Soekarno, kabinet Dwikora, yang ditangkap serta dipenjara selama 12 tahun tanpa proses peradilan sebagai tahanan politik Orede Baru. Ada sekitar 16 orang menteri yang ditangkap serempak, lalu dilanjutkan dengan penahanan sebanyak 21 menteri dari jumlah total 100 menetri Kabinet Dwikora Sukarno. Beberapa waktu setelah penangkapan, kediaman dianasnya yang terletak di Jalan Wijaya XIII No. 7 dirampas. Rumah itu kini telah berganti alamat bahkan kepemilikan sehingga hampir mustahil untuk diperoleh kembali.

Semua dokumen tersisa itu memiliki nilai ingat sejarah yang tinggi. Saya kerap bertemu dengan alm dalam pertemuan-pertemuan aktivis dan korban. Begitu banyak orang yang seperti Ir Setiadi yang begitu sabar memperjuangkan pemulihan hak-haknya, merehabilitasi nama dan status semua yang dipingirkan oleh kekuasaan di masa silam.

Sepanjang 12 tahun periode reformasi ada banyak kemajuan-kemajuan positif yang bisa kita lihat, namun tak sedikit ganjalan-ganjalan besar ditemu oleh orang seperti almarhum. Hingga kini masih banyak keputusan-keputusan politik negara terutama esekutif yang membatasi ruang gerak mereka untuk memperoleh hak-hak diluar hak politiknya. Sosok seperti almarhum tak lagi muda, namun itu bukan penghalang untuk terus berharap adanya satu kondisi yang bisa menempatkan mereka sejajar dalam komunitas yang dibayangkan para pendiri bangsa ini.

Harapan ini sederhana. Mereka menanti negara untuk merehabilitasi nama baik mereka, khususnya yang menjadi tahanan politik. Inilah pekerjaan rutin yang masih diperjuangkan masyarakat sipil lainnya. Negara tak boleh bersikap pasif.

Mengenang almarhum memebawa saya ke alam pikir tentang masa silam. Yakni ketika anak-anak bangsa tenggelam ke dalam arus pertarungan politik yang berdarah. Ratusan, ribuan, bahkan lebih, entah berapa jumlah yang sebenarnya, mereka dipenjara tanpa  proses peradilan ’Tuduhannya, terlibat dalam peristiwa 30 September 1965.

Saya terharu mendengar para anggota Garnisum melepaskan kepergian almarhum menuju peristirahatan terakhir. Meski berlatarbelakang dunia militer dengan paradigma lama, yang mereka lakukan itu seolah menyiratkan suatu hubungan persaudaraan bangsa yang tulus. Tak ada lagi prasangka sosial dan prejudisme politik. Mereka seperti tanpa sengaja melepas beban sejarah di pundaknya, di pundak kita semua. Suasanan semacam ini membuat keluarga merasa lega ditengah penantian panjang. Prakarsa dari para keluarga tokoh yang berkumpul dalam Silaturahmi Anak Bangsa juga merupakan prakarsa yang positif dan kita harapkan mendapat sambutan lebih hangat dari Negara.

Kita sebagai generasi penerus tidak boleh terbebani dengan warisan tragedi politik semacam ini. Perjuangan kelompok-kelompok LSM sejak lama itu, tidak saja merehabilitasi nama baik mereka, namun juga tengah merehabilitasi kehidupan ber-politik Indonesia ke depan. Inilah momentum bersejarah bagi pemimpin politik hari ini, termasuk para pemimpin kaum muda. Lama kita menanti pemimpin politik yang negarawan. Mungkinkah?

Milan Kunder benar. Sejarah dunia memotret kengerian dari praktik ber-kekuasaan, seperti pembantaian jutaan jiwa orang Yahudi oleh Nazi atau orang Muslim di serbia dan Bosnia, atau ladang pembataiaan di Kamboja, arogansi rezim kulit putih apartheid yang menindas mayoritas kulit hitam di Afrika selatan, hingga tragedi berdarah di Indonesia kudeta merangkak 30 September 1965. meskipun yang terakhir ini belum cukup tercatat oleh dunia. Bahkan ketika kita belum selesai berhenti meratapi kesedihan setiap penggalan masa lalu itu, kejahatan kemanusiaan yang terjadi di abad ini masih saja terus terjadi seolah saling bersusul-susulan. Kondisi ini menyadarkan kepada kita bahwa pelajaran yang kita dapatkan dari dalam komunitas, agama, pendidikan formal dan petuah-petuah filosofis lainnya belum mampu membentengi manusia untuk tidak bertingkah kejam. Barangkali benar yang diyakini oleh sosok seperti Munir, atau Richard Rotry. Bahwa pada dasarnya adalah kepekaan pada penderitaan yang lain, yang mungkin tak kita kenal, yang dapat membuat kita merawat nilai kemanusiaan. Solidaritas atas kepekaan itulah yang mencegah kita tenggelam dalam suatu proses pelupaan dan pembenaran atas ketidakmanusiawian, saya yakin yang hadir disini adalah orang-orang yang tengah menumbuhkan kepekaan terhadap sesama, sehingga proses ingatan dan penolakan terhadap ketidakmnausiawiaan tetap tumbuh dalam diri.

Apakah kita tengah mempraktikkan mitos sisifus dalam kehidupan nyata ini? Terus menerus melakukan pencarian makna dari hal yang masih kita dengungkan, jangan diam!—jangan terulang lagi! Lwan Amnesia! Lawan Lupa! Meski belenggu beban di pundak tak kunjung ringan juga?

II

Di tengah gelombang lupa yang bergulung-gulung itu, pengalaman-pengalaman kekerasan dan pelanggaran HAM masa lalu tak mudah untuk terlupakan oleh orang yang mengalaminya langsung, yakni korban dan kerabat yang terkena dampaknya. Dalam situasi tertentu, mereka menyimpan rapat-rapat ingatan itu dalam pikiran dan hati, sebagian kecil lainnya berhasil menumpuk lembar demi lembar kebenaran yang tersisa dari usaha-usaha vandal membakar buku-buku dokumen sejarah. Pada keadaan yang berbeda, mereka bertutur melalui banyak ruang kesaksian yang kerap diakui teramat sulit untuk dibahaskan. Unspeakable trut! Kata Priscilla Hayner. Tutran itu amat berharga, tak ternilai mahalnya sebagai suatu pengalaman hidup, seseorang atau sebuah bangsa yang tertindas dan dituntut untuk melawan. Tuturan itu tal lagi sekedar menjadi catatan panjang transkrip dari sebuah pengalaman personal milik seseorang, melainkan masuk dalam catatan sejarah peradaban manusia, yang melintas ruang dan waktu. Sebagaimana sebuah diktum terkenal the personal is political, maka bukanlah sebuah keniscayaan jika banyak pengalaman personal di masa lalu memiliki pertautan dengan kisah-kisah politik  yang besar, peradabana yang besar lahir ketika ia memberi ruang bago hadirnya kisah-kisah kecil dan personal semacam ini.

Masa silam dengan corak pilu yang negatif masih membayangi langkah para korban untuk menggapai keadilan. Kerentanan di tengah masyarakat menjadi peta fragmen yang bisa kita lihat sehari-hari dalam wujud ketakutan yang jamak. Dulu, mesin yang digunakan untuk memproduksi ketakutan memang hanya dikuasai oleh simbol kuasa sentral perseorangan, namun kini kekuasaan itu tersebar dan beralih tangan pada oknum massa yang memiliki kekuatan untuk menciptakan teror hingga destruksi berskala luas. Kelompok ini pun mengalami pelupaan ekstrem yang fatalis dengan sebuah Republik. Sebuah tatanan yang didalamnya memuliakan supermasi hukum, kesetaraan setiap warga, dan martabat universal manusia.

Proyek kepatuhan yang digunakan rezim Orde Baru di masa lalu memaksa ingatan tergerus amnesia. Pelupaan. Proyek menebar ketakutan di era itu menggusur ingatan. Kalaupun ada, ingatan itu sering dipaksa sebagai ingatan yang datar. Ingatan yang diseragamkan. Kita, dan semua lapisan rakyat yang hidup di era Orde Baru selaku ingat tentang tragedi berdarah pada pasca 30 September 1965 atau Oktober 1965. tetapi ingatan itu diseragamkan, oleh kekuasaan. Media, sebagai pilar keempat dari demokrasi dibungkam untuk sementara, yang mungkin tak berdaya dengan hari ini, 4 Oktober 2010, hari itu 4 Oktober 1965, tak ada media massa selain media propaganda tentara.

Ingatan itu tetap dibiarkan ada, tapi diakali, disiasati dan diseragamkan sesuai kehendak versi punguasa atau oligarki politik lama di dalam matriks kekuasaan baru.

Dalam dahulu dan sekarang, meneyragamkan kehidupan sosial dan politik kita memang menjadi fenomena. Fenomena yang kini juga melekat dalam sudut kerumunan, menjadi anatomi kekerasan massa yang tak saja bertumpu pada kedakan emosional semata, melainkan pada banyak aspek sosiologis yang melatarbelakanginya, seperti contoh kasus kerusuhan Mei 1998 dan konflik Sanggau, Sambas, Sampit hingga Poso dan Ambon yang memang bukan berujung pangkal pada bentuk sentimen atau kebencian terhadap suku dan agama tertentu. Karena ingatan akan penderitaan dari konflik di masa lalu terbatas oleh ruang dan waktu, atau terbatas oleh ketergesaan mengejar kehidupan hari ini, maka apa yang kita saksikan di Tarakan menjadi bukti, bahwa lupa bisa dikelola kembali menjadi derita. Tanpa mencari jalan keluar atas akar permasalahan, melupakan berarti membiarkan pertikaian etnosentris lama kembali hadir. Mengingat menjadi sesuatu yang sulit dalam sentimen kelompok dan identitas primordial, apalagi ketika dipicu oleh distribusi atau pembagian keadilan yang selama ini seperti api dalam sekam. Ingatan akan manusia dan kemanusiaan terselubungi selimut identitas, sektarianisme dan semangat membela anggota kelompok sempit. Persis seperti di jaman kebodohan (jahiliyah) tanah Arab dengan sederet kisah pertikaian antara klan dan kabilah.

Ingatan masa lalu manusia tergerus oleh ketergesaan perebutan sumberdaya baik di sektor politik dan ekonomi. Para elite kekuasaan, sibuk mengurusi momen pergantian rezim kekuasaan, bahkan ketika itu masih lama, empat tahun lagi. Militer masih gemar bisnis, jaringan korporasi transnasional terus mengeksploitasi sumber kekayaan alam, korupsi merajalela dan tetap dalam kendali jaringan mafia hukum dan peradilan yang sibuk memonopoli jejaring kuasanya. Kondisi ini adalah cermin dari sebuah situasi transisi yang rumit dan cenderung ’meyakini’ ketidakpastian ingatan dan pelupaan.

III

Kondisi ini memang tidak bisa dipungkiri hadir dalam negara-negara yang tengah memasuki fase transisi lepas dari rejim otoriter. Kita dapat belajar dari proses perjuangan politik melawan rejim otoriter, totaliter dan militeristik seperti di Amerika Latin atau Eropa Timur sepanjang tahun 1980an. Contoh lainnya pun bisa kita saksikan dalam kehidupan transisi kekuasaan politik di Kamboja, Filipina dan Vietnam. Penanda umum yang banyak dilihat dari struktur sosial sebuah negara di masa transisi adalah upaya-upaya dari masyarakat untuk menuntut pertanggungjawaban negara atas pelangaran HAM yang telah terjadi di masa lalu, praktik korupsi, dan banyak skandal politik lainnya. Sebuah perjuangan melawan kekuasaan masa lalu yang lalu masih berjalan dengan perjuangan melawan lupa.

 Akan hadir banyak kelompok-kelompok sipil di tengah masyarakat yang menyuarakan keadilan. Ini kerap menjadi momen penting dan krusial dalam menentukan arah perjuangan sebuah negara. Masyarakat mulai membangun kesadaran kritis dalam berbagai bentuk. Keasadaran ini amatlah sangat bergantung dari proses komunikasi politik yang dibangun oleh rezim transisi. Hal ini bisa kita cermati dari situasi sosial politik yang terjadi akhir-akhir ini, seperti sikap politik rakyat dalam kasus cecak versusu buaya yang melibatkan unsur institusi kepolisian, kejaksaan dan KPK.

Tentu pada praktiknya, proses keadilan transisional ini tidak akan sama antara satu negara dengan negara lainnya. Hal ini amatlah bergantung dari proses setting perubahan politik yang akan terjadi. Dan yang patut diperhitungkan adalah hambatan dan tantangan ekonomi, sosial, politik yang kerap muncul di tengah proses transisi tersebut. hambatan-hambatan ini akan berwujud dalam banyak hal. Pertama, sikap fundamentalisme yang kini mengakar di beberapa komunitas. Sikap ini bisa bermuara pada bentuk radikalisme, seperti aksi terorisme yang terjadi beberapa waktu yang lalu. Proyek melawan terorisme ini juga harus disikapi secara khusus oleh masyarakat sipil dengan masifnya tuduhan teroris terhadap beberapa pembela HAM. Kedua, praktik kriminalisasi yang ditujukan kepada para pembela HAM. Praktik ini merupakan praktik yang paling banyak digunakan untuk membungkam aktivitas yang dilakukan oleh para pembela HAM dalam mengusung isu-isu khususnya terkait dengan isu-isu publik. Ketiga, maraknya tingkat kejahatan sosial di tengah masyarakat sebagai imbas dari kompleksnya masalah sosial yang terjadi. Keempat, tantangan untuk melakukan reformasi sektor keamanan khususnya pada institusi TNI dan Polri. Kelima, tantangan ini akan menjadi ujian yang harus dihadapi oleh pemerintah jika ingin benar-benar berkomitmen pada proses penegakan hukum. Keempat, situasi penegakan HAM di kawasan regional Asia tenggara, khususnya di Burma yang amat memprihatinkan dan menjadi perhatian kita bersama. Dan keenam, hadirnya pola perdagangan bebas anatara ASEAN dan China (CAFTA) pada awal tahun ini, juga harus dicermati secara jeli oleh pemerintah agar tidak menjerumuskan masyarakat Indonesia dalam krisis multidimensi seperti tahun 1997 yang lalu.

IV Menuju Keadilan Sejati

Tantangan-tantangan di atas hanya bisa dilampaui melalui ikhtiar yang sunguh-sunguh untuk merawat ingatan, agar kita menemukan keadilan. Konsep meraih keadilan memang menjadi pembendaharaan sakti yang selau digunakan dalam advokasi perjuangan HAM dan gerakan politik korban, namun sebenarnya apa yang dimaksud dengan konsep keadilan itu sendiri? Dalam sebuah buku yang berjudul A THEORY OF JUSTICE (1971), seorang pemikir John Rawls mengajukan dua prinsip keadilan umum yang bisa didefinisikan sebagai berikut: pertama, taip-tiap orang memiliki hak yang sama atas keseluruhan system yang paling luas dari kebebasan dasar yang sama sesuai dengan system kebebasan serupa bagi semua orang. Kedua, ketimpangan sosial dan ekonomi harus diatur sedemikian ruap sehingga keduanya memberikan keuntungan terbesar bagi yang paling tidak diuntungkan dan membuka posisi dan jabatan bagi semua di bawah kondisi persamaan kesempatan yang adil.

Dari dua pengertian ini, Rawls berusaha untuk mendudukan sebuah situasi yakni bagaimana memeprtemukan hak-hak individu yang melekat dalam tiap-tiap orang dengan kewajiban sosial yang seimbang dan selaras, sehingga tidak ada yang merasa terugikan atau terabaikan. Sebuah hubungan sosial yang berkeadilan. Dalam gagasanya tersebut, makna keadilan juga harus bisa dikaitkan dengan kejujuran (fairness). Kejujuran ini hanya akan bisa tampak jika diterapkan dalam dua prinsip secara bersamaan. Pertama, prinsisp kebebasan yang sama (principle of equal of liberty). Prinsip ini meliputi lima unsur, (1). Kebebasan politik, (2). Kebebasan berpikir, (3). Kebebasan dari tindakan sewanang-wenang, (4). Kebebasan personal, (5). Kebebasan untuk memiliki properti.

Kedua, prinsip ketidaksamaan (the principle of difference). Dalam prinsip ini bahwa pada hakekatnya manusia memiliki ketidaksamaan dalam bidang ekonomi Dan social, sehingga harus diatur sedemikian rupa agar ketidaksamaan itu dapat (1). Menguntungkan setiap orang yang secara kodrati tidak beruntung, (2). Melekat dalam kedudukan Dan fungsi-fungsi yang terbuka dalam kehidupan bermasyarakat harus memenuhi beberapa criteria khusus, yakni memiliki ketertarikan diri (self interested) Dan bisa berpikir rasional. Pertanyaannya adalah bagaimana orang yang memiliki self interested Dan berpikir rasional bisa menerima prinsip keadilan sebagai fairness tersebut Dan mau menerima pembatasan hak Dan kewajiban dalam kehidupan bermasyarakat?

Untuk menjawab pertanyaan di atas, Rawls berusaha mengasumsikan bahwa setiap orang yang ingin meraih keadilan harus berada dalam posisi yang seimbang (similarly situated). Yang maraca ketahui hanyalah cita-cita untuk ambil bagian dalam kehidupan bermasyarakat untuk mewujudkan prinsip-prinsip keadilan dengan pendekatan fairness. Kondisi ini memang tak menutup kemungkinan lahirnya sentiment, egoisme, atau hal-hal yang terkait dengan pemenuhan personal lainnya di dalam masyarakat itu sendiri yang melahirkan banyak perbedaan dalam status sosial untuk meraih keadilan. Maka sesuai dengan prinsisp Rawls dinyatakan bahwa perbedaan-perbedaan yang ada harus diatur kembali agar maraca yang mendapat ‘keberuntungan’ bisa memberi manfaat kepada pihak yang tidak beruntung.

Konsep itu bisa kita telusuri dalam kajiannya disebuah tulisan berjudul THE LAWAS OF PEOPLES (1997), Rawls menyatakan bahwa struktur masyarakat yang telah memasuki fase liberal tidak menutup kemungkinan untuk terhubung dengan struktur masyarakat ini dijelaskan oleh Rawls dalah tipe menguntungkan (burdened societies). Jenis masyarakat ini dijelaskan oleh Rawals adalah tipe masyarakat yang baik dalam tatanana ekonomi, social, politik, budaya Dan sejarah sulit untuk menjadi masyarakat yang tertata baik (well-ordered society). Untuk mengasah rasa keadilan, menurut Rawls bisa dimulai dari dalam keluarga inti. Menururtnya kehidupan keluarga adalah jenis pendidikan pertama yang bisa mengolah rasa kepedulian Dan keadilan sosialdengan adanya keterhubungan ini etika keadilan diharapkan bisa terlaksana.

V
Mewujudkan gagasan berkeadilan Rawla dalam situasi transisi ini membutuhkan banyak keberanian politik untuk memutus mata rantai impunitas. Keadilan yang dialamatkan kepada si korban Dan penghukuman yang diberikan kepada para pelaku menjadi prasyarat mutlak untuk meredefinisikan hak-hak sipil korban. Problem yang masih selalu dihadapai oleh gerakan politik korban di Indonesia adalah memang masih seputar kemacetan dalam strategi pemecahan masalah. Kemacetan ini seakan menjadi warisan masa lalu yang terus menerus harus kita hadapi sebagai pekerjaan rumah yang tak kunjung selesai. Upaya mendorong terwujudnya system mekanisme penegakan hukum di tingkat nasional dengan system masyarakat yang majemuk tentu bukanlah sebuah pekerjaan yang mudah. Apalagi upaya menjerat maraca, para pelaku pelanggaran HAM  yang memiliki relasi dekat dengan politik kekuasaan Dan lingkaran dalam kemiliteran tentu menimbulkan potensi perlawanan yang kuat.

Pengalaman di Afrika Selatan misalnya, yang memilih jalur negosiasi adalah piliha politik yang jelas diambil oleh pemerintah. Melalui mekanisme Komisi Kebenaran Dan Rekonsiliasi akhirnya pilihan itu ditempuh. Pilihan ini bukan tidak mengandung pro Dan kontra di nkalangan masyarakat sipil Afrika Selatan, meski pilihan ini akhirnya melahirkan sebuah sejarah baru dalam proses pengakuan kebenaran oleh para pelaku pelanggaran HAM melalui tekanan dunia internasional Dan kelompok oposisi rezim. Lalu pilihan seperti apa yang terbaik untuk kita tempuh saat ini?

Mengembalikan kepercayaan diri para korban dengan menata ulang nilai moral Dan rasa keadilan menjadi penting. Tidak saja pemerintah mampu menghukum setimpal perbuatan kejahatan kemnusiaan yang telah dilakukan oleh para pelaku pelanggaran HAM, namun juga bisa membuktikan bahwa kejahatan para pelaku benar adanya terjadi di masa lalu. Instrument demokrasi yang telah terpenuhi unsure-unsurnya namun miskin dalam level substansi menjadi corak yang begitu kental mewarnai situasi demokratisasi kita. Proses demokratisasi yang mandek, keadaan yang tak tahu harus ke mana ini kembali lag kita hadapi. Tantanganya adalah sampai sejauh mana kita memiliki kekuatan untuk tetap mengususng agenda penegakan HAM  dengan tetap konsisten pada penuntasan kasus pelanggran HAM masa lalu, meski di lain sisi pemerintah Indonesia jelas tengah berkalkulasi untuk menghitung beban resiko yang harus dihadapi jika mengambil salah satu keputusan penting dalam pelaksanaan akuntabilitas penanganan kasus pelanggaran HAM  masa lalu.
Kita memang bukan Sisifus, si manusia setengah dewa yang memiliki kekuatan abadi untuk terus menanggung beban hukuman itu: mengangkat beban batu ke atas puncak gunung Dan setelah itu disadari beban batu akan menggelinding turun ke bawah, begitu terus menerus. Kita hanya mahkluk yang dituntut dengan rassa, nilai moral, Dan pengharapan untuk mengembalikan sesuatu hal yang berharga yang telah direngut dari diri kita sendiri. Semangat Dan militansi dengan aksi yang sangat terbatas ini bukanlah sesuatu yang sia-sia untukdiperjuangkan selama masih ada ingatan yang terus dipertahankan. Karena kita berkejaran dengan waktu yang telah berhasil merangkai masa lalu Dan kekinian dalam mitos, fabtasi, praktik kebohongan yang terus terikat satu sama lainnya. Dan pada akhirnya pidato, saya hendak kembali mengatakan betapa pentingnya melawan lupa, karena ingatan akan masa lalu memberikan semangat kepada kita untuk terus berjuang menggapai cita-cita korban, Dan cita-cita kita bersama, keadilan yang sejati.

Rujukan Bacaan:

John Rawals, A theory of Justice, The Belknap press of Harvard University press, 1971.
Bergard Circle, laws of Peoples dalam The Politics of Human Rights, UK: Verso, 1999
Susan Moller Okin, Political Liberalism, Justice and Gender dalam Ethics, Vol.105 No 1 (Oktober 2004)
Milan Kundera, Laughter and Forgetting.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.