SAYA PERCAYA AKAN KEBEBASAN DIRI
Seharian penuh dalam kamar pada tanggal 21-01-2012—pada sore hari sekitar pukul 04.00, aku menjadi tidak sendiri lagi karena begitu banyak kupu-kupu kecil yang melayang-layang, berterbangan di dalama kamarku, saya tidak tahu dari mana asal mereka,, saya yakin ini pasti kupu-kupu liar yang ada di pekarangan ibu kos yang memisahkan kos kami dan rumahnya. Saya tidak perduli lagi untuk menanyakan asal mereka, toh mereka tidak bisa bicara seperti saya, yang di dalam kamar saja dan makin hari makin membisu dalam kondisi tubuh yang semakin manai. Saya selalu ingin menyendiri dan keluar tanpa arah dan tujuan karena saya tidak ingin di memiliki seekor malik yang memang pada dasarnya tidak ada pengaruh apa pun dalam hidupku sendiri dan saya tidak pernah menginginkan hal seperti itu, hidup tidak perlu di kontrol, hanya pintu kematian yang perlu dijaga ketat agar kehidupan tidak melewatinya. Bagaimana pun usia akan memakan hidup dan mengantarnya melewati pintu yang dinantikan oleh seuluruh kehidupan yang ada dalam dunia ini, namun usia bukanlah satu-satunya media yang mengantarkan kita namun diluar sana banyak sekali cara yang bisa di lalui dan saya todak perlu menyebutkanya disini, mungkin salah satunya adalah bunuh diri atau melawan kematian hingga semangat yang berapi-api yang kita miliki itu membawa kita ke ambang pintu yang terkutut tersebut pada akhirnya kita ada seolah-olah hanya berusaha untuk melewati pintu tanpa kamar yang tidak pernah kita ketahui. Akan lebih baik kiat tidak pernah percaya dengan kematian, karena semakin takut akan kematian maka pintu tanpa kamar itu makin mendekat dan melenbar untuk mencekik atau bahkan menelan kita tanpa mengunyah tubuh kita yang sudah pucat atas ketakutan yang dibangun atas kematian itu sendiri. Kematian tidak ada karena ketika kita melewati kehidupan ini, kita tidak akan pernah tahu kalau kita sudah mati, maka yang ada hanyalah hidup, apakah orang mati pernah cerita ke kamu kalau ia sudah mati?, bahkan hantu atau arwah para orang mati yang berlayang-layang di imajinasmu juga tidak pernah menceritakan kematian kepadamu, dia hanya menceritakan kembali kehidupan didalam otak kita agar kita tetap percaya dengan kehidupan. Saya sudah berusia 25 tahun dan bulan april yang mendatang saya akan menginjak usia yang ke 26 tapi dalam hidupku, aku belum pernah melihat jiwa atau roh orang mati, aku hanya menjumpai mereka dalam mimpi-mimpiku, tetapi mereka juga tidak menceritakan apa pun atas kematian mereka dan apa yang mereka lakukan setelah mati. Mereka hanya bercanda guarau denganku di dalam mimpi-mimpiku, saya tidak menyakini canda guarauan itu adalah sesutu yang hidup tetapi juga bukan sesuatu yang mati, toh semuanya hanyalah mimpi, mimpi-mimpi yang bergerak seperti film di dalam otakku dan aku merasa aku menonton film-film yang melibatkan saya di dalamnya, dan dalam film itu tidak ada yang menjadi tokoh utama sepanjang kesadaran semua memberhentikan tidurku, tetapi akan ada tokoh utama yang lahir dalam mimpi-mimpiku setelah aku terjaga, tokoh-tokoh utama itu adalah orang-orang yang aku kangen sebelum tidur, mereka adalah tokoh utama tapi kadang mereka juga ikut mati, berbeda dengan film-film holywood yang selalu menampilkan para herois yang tidak pernah mati dalam adegan-adegan paling ekstrim sekali pun. Mereka menjadi tokoh utama dalam setiingan film yang direkam kedalam gulungan pita yang tersusun rapi dalam batok kepalaku dan kadang aku memutarnya tanpa perintah siapa pun kala rasa kangen melanda hidupku atas kenangan-kenangan yang terjadi di masa lampau dalam hidupku sendiri, bagaimanapun masa lalu lebih indah dari pada masa sekarang dan masa depan yang hanya menjadi lubang penantian yang hanya bisa menelan kehidupan, masa depan itu suram, karena orang sepinter apapun tidak akan tahu apa yang terjadi setelah satu detik, satu menit, satu jam, satu hari, satu minggu, satu bulan satu tahun dan seterusnya ketika usai menetapkan masa depanya. Untuk tetap berada dalam masa lalu akan sangat mengasyikkan tetapi tidak akan ada perubahan, maka biarkan hidup ini mengalir semaunya untuk menikmati jalan menuju pintu kematian tanpa kamar. Liang lahad bukanlah tempat untuk istrihat dan pengabuan mayat bukanlah cara untuk menerbangkan jiwa, yang bisa terbang hanyalah keinginan hidup yang tak bersayap selayalknya burung-burung kecil di udara, dan yang bisa istrihat hanyalah orang yang capek dalam beraktivitas di dalam hidup kemudian akan melanjutkan aktivitasnya setelah merasa kecapekaan itu hilang dari tubuh dan fikirannya. Orang mati tidak istrihat karena orang mati tidak pernah bercerita kepada kita bahwa mereka sudah capek untuk hidup. Hanya orang hidup yang bisa bercerita untuk mati dan berhenti beraktivitas di dalam hidup ini untuk selamanya, ingat kematian hanya diketahui orang mati dan orang mati todak pernah ketahui orang yang masih hidup, kepedulian dari orang mati yang kita kenal hanyalah semangat yang terekam dalam ingatan kita tetapi mereka tidak berperan aktif lagi dalam hidup. Hukum kontinuitas akan berlanjut selama masih ada kata hidup tetapi kadang terputus dari hukum keberlanjutan itu sendiri, namun semunya adalah terjadi untuk hidup itu sendiri dan akan tetap hidup juga walaupun terputus-putus tanpa hukum kontinuitas. Dalam perjalanan, banyak rintangan dan rintangan itu lah hidup, keberhasilan dan kegagalan tidak ada, yang ada hanyalah perjuangan, Perjuangan dan hidup. Api perjuangan harus menyala agar bisa mencairkan dinginya lahar keputus asaan dan meruntuhkan bukit-bukit penindasan menjadikan pasir yang menghujani manusia menjadikan semuanya abu-abu dalam ketidak jelasan yang sangat jelas.
Kalian semua pasti sudah tahu bahwa hidup ini tidak harus monoton, harus ada perubahan, entah perubahan yang buruk mau pun perubahan yang positif. Hidup adalah drama maka harus ada performa dan performa tersebut akan menunjukkan siapakah dirimu pada saat kita sedang ada didalam permainan itu sendiri, namun itu hanyalah peran dan peran bisa berubah setiap saat, bahkan melahirkan kehidupan baru, sekarang tidak harus melewati peretmuan kontol dan vagina, namun sekali lagi, tujuan dari tindakan atau performa tersebut adalah untuk hidup, semunya dilakukan atas nama hidup. Begitu pula gaya rambut dan cara berpakaian, ini adalah performa yang sangat kasat mata dan gamblang untuk merepresentasikan pemilik tubuh yang berada di balik suatu gaya yang sedang dilekatkan di atas diri; diri bisa berubah semampunya dan tidak harus di paksa untuk menjadi diri yang lain, dan keinginan untuk menjadi diri yang lain adalah keharusan yang mengalir tanpa batas, bagaimanapun ada rasa bosan yang akan selalu menyuruh kita keluar dari titik satu ke dalam titik-titik yang lainnya, tidak ada yang asli dalam hidup ini, yang asli hanyalah hidup itu sendiri dan yang membuat hidup adalah konformitas, tidak akan ada hidup kalau tidak ada kesepakatan bersama, bisa dengan cara memaksa tetapi tidak akan menghasilkan hidup yang seutuhnya menyenangkan tapi toh semunya dilakukan atas nama hidup, tapi pemerkosaan di jalanan bukanlah alas untuk hidup, dan tindakan tersebut tidak akan menghasilkan hidup yang layak untuk dinikmati tapi tetap akan ada kehidupan tapi jangan lupa banyak jiwa yang akan hangus dengan nafsu yang mengila di jalanan. Dengan demikian hidup ini akan berhenti secara total pada bagian-bagaian tertentu, pembelaan kehidupan tidak akan berkutit selama pilihan hidup menguasai kehidupan ini, pembelaan ada karena kita bisa memilih dan membela apa yang telah kita pilih hingga keluar dari penilaian baik dan buruk. Memilih bukan berarti berhenti pada satu pilihan saja, karena akan membuatmu mumet, dan harus mencari pilihan lain yang kamu bisa merasakan kenyamanan dengan tetapi bagaimanapun kamu akan tetap diserang oleh kebiasaan akan datangnya rasa bosan yang selalu melanda dengan membabi buta dan tidak menghiraukan akan kemampuanmu, yang pastinya tidak ada manusia yang hebat dan tidak ada manusia yang lemah, karena didalam hidup tidak ada yang lemah dan tidak ada yang kuat atau hebat, tetapi kita juga tidak boleh lupa bahwa hidup untuk saat ini telah dikuasai oleh orang-orang lemah yang dirasukki ketakutan akan hidup dan ketakutan mereka mengancam kehidupannya sendiri sehingga merugikan kehidupan yang lainnya. Untuk mengatasi ketakutan tersebut hanyalah berdamai dengan jiwa dan melawan tindakan pemusnahan di atas bumi. Hidup harus mengalir dan menembus segala arah, hidup tidak mengenal batas waktu dan ruang dalam arti bahwa hidup tidak memerlukan negara atau pun pemimpin.
AKU TIDAK KESEPIAN SAAT MALAM TIBA
Tiba-tiba saya dapat sms dari nomornya Anjar; dia mau ke kosku, tapi kali ini bukan hanya dia sendiri yang datang ke kosku, dia bersama tiga temannya, mereka adalah Dicky, Anga dan Gary, saya hanya kenal Dicky; dia adalah seorang anak dari korban broken home. Saya selalu banga mengamati ibunya yang sangat kuat, seorang janda yang kuat menghidupi tiga anaknya, kakaknya Dicky sudah menikah, saya yakin dia menikah dibawah usia, karena ketika saya masih di Kepek pada masa KKN, beliau sempat mengunjungi orang tuanya, Dicky menemani keponakannya, kakanya mencari pucuk-pucuk tayuman yang ada di halaman depan rumahnya. Pada saat itulah saya mengamati kakanya, kelihatanya dia baru berusia 17 tahunan tapi sudah menikah, sementara Dicky, dia sudah berhenti sekolah, dia hanya menamatkan SD, adiknya masih sekolah, mungkin tahun ini dia akan tamat SD, Ibnu adalah satu-satunya anggota keluarga mereka yang masih sekolah, dia kelihatan pinter disekolahnya; terakhir Anjar menceritakan Ibnu kepada saya, katanya semeter tahun ini dia berada di peringkat ke tinga di kelsanya, saya tanya lagi Dicky apakah benar adiknya juara tiga di kelasnya, dan dia bilang benar. Pekerjaan ibunya serabutan tetapi mereka juga punya lahan sendiri, dia bekerja di ladangnya dan membantu di ladang orang lain untuk mendapat uang yang lebih agar bisa membiayai kehidupan mereka sehari-hari dan juga sekolahnya Ibnu. Dicky bergaul dengan anak-anak sekampungnya, teman-temannya adalah peminum alkohol semua, tetapi dia tidak minum, dia hanya merokok, usianya baru sekitar 14 atau 15 tahun, kalau tidak salah kak Arfi sempat tanya berapa usianya? Dan Dicky menjawab 14 atau 15, saya lupa, tapi usianya baru sekitar itu, dia tamat SD pada tahun 2010. saya sering menyuruh dia untuk melanjutkan sekolahnya tetapi dia sudah malu karena teman-temn seangkatannya sudah berada di peringkat atas. Teman-temanya sudah mengkonsumsi minuman alkohol tetapi dia belum dan masih menolak dengan keras kalau ada salah satu teman mereka yang memaksa dia untuk minum minuman beralkohol.
Anga adalaha teman seangkatan Dicky yang rumahnya terletak di belakang tempat kerjanya mas Ronto, tempat gergaji kayu. Saya belum pernah main dirumahnya jadi saya belum tahu banyak tetang dia, begitu pun Gary, saya baru sekali ke tempatnya, dia dan Anjar masih bersaudara sepupuan, kakeknya Anjar dan kakeknya Anga adalah sepupuan juga. Saya lupa nama kakeknya Anga, saya mengunjungi tempat tinggalnya Anga bersama Dicky, ketika saya tiba disana, mereka dan teman-temannya pada rokokan, sambil memandang keluar lewat jendela yang kayunya dicat biru tua, seolah-olah mereka sedang menonton tv, pada saat saya masuk kerumahnya, disitu ada TV yang lagi menyala dalam kegelapan, rumah itu hanya memiliki satu jendela yang terbuka, sehingga kakeknya Anga mandang kotak ajaib itu di dalam kegelapan seperti di bioskop. Waktu itu ada tayangan sepak bola, para anak muda yang ada dirumah itu sepertinya mereka tida suka dengan sepak bola dan ternyata benar, ketika saya bilang bahwa saya tidak suka sepak bola, mereka juga senang dan menyahutku ”saya juga tida suka sepak bola,” mereka menegaskan ketidaksukaan mereka akan sepak bola secara bersamaan. Kemudian kami tertawa bareng. Kakaeknya Anga menyuruh saya untuk duduk bareng dengan dia, kami sempat berkenalan tapi saya sydah lupa namanya, di bercerita dan ternyata kami punya satu hobby yang sama yaitu mendaki gunung, dia menceritakan pengalaman-pengalamannya di gunung bersama teman-temannya di masa penjajahan belanda hingga pemerintahan orde lama, dia juga bercerita banyak tetang anak-anaknya presiden Indonesia yang pertama, tetapi saya tidak tertarik di bagian itu, saya hanya senyum-senyum saja, kemudian saya pamitan untuk pergi bergabung dengan cucunya yang sedang nongkrong diatas tempat tidur dan memandang keluar melihat jagung-jagung yang tumbuh subur dan tinggal menunggu dua minggu lagi, mereka sudah bisa menikmati manisnya jagung muda diatas api kedalam mulut mereka.
Kebetulan aku membawa rokok Surya 16, dan anak-anak itu tampak senang untuk menikmati rokok yang saya bawa, setiap kali mereka ambil mereka selalu minta ijin, ”waduh, udah lama gak minta ijin untuk mengambil rokok teman” bercakap dengan diri sendiri sambil senyum-senyum tidak jelas, akhirnya aku merasa tidak nyaman, mereka masih terlalu kecil untuk nongkrong bareng sambil rokokan, mereka belum bisa diajak untuk berdiskusi, tapi tidak apa-apa, mungkin ada hal-hal kecil lainnya yang bisa di sharing-kan, tapi bukan sekarang. Saya juga takut dengan orang-orang dikampung mereka, saya khawatir kalau mereka sampai mencapku sebagai agen pengarus negatif di kalangan anak-anak mereka, toh, entah kenapa anak-anak itu cepat sekali bebas dari sistem yang berlaku di masyarakat Jawa yang masih sangat kejawen, mereka juga sering berbohong kepada orang tua mereka untuk membebaskan diri mereka. Untuk membebaskan diri mereka hanya bersenjatakan alasan-alasan yang tetap, yakni belajar bersama, tapi apa yang mereka lakukan, itu bukan urusan orang tua mereka, mereka mau bebas, mungkin mereka juga mau mati muda, alasan mereka untuk mati muda mungkin tidak dikatakan secara terang-terangan tetapi umur mereka mengatakan hal itu, mereka masih sangat muda untuk merokok dan akan mudah matinya, saya juga sama dengan mereka, saya merokok di usia yang sangat muda juga, saya merokok di usia sekitar 16-17 tahun, alasan saya untuk merokok adalah untuk lebih menjadi kerena saja, agar kelihatan macho, yang mempengaruhi saya adalah kebiasaan dan aturan-aturan yang tidak masuk akal dan mendominasi, hingga saya kecanduan dan tidak bisa berhenti lagi, saya belum tanya anak-anak itu, kenapa mereka harus merokok?. Apakah mereka terpengaruhi oleh iklan rokok lewat media masa atau mereka terpengaruhi oleh keberadaan lingkungan mereka?. Tidak ada niat untuk merokok secara individu, bagai manapun merokok hanyalah tradisi jaman dulu yang sangat digemari banyak manusia hingga saat ini, merokok adalah main-main, iya mereka merokok dan bermain-main dengan asap, mereka membuat lingkaran-lingakaran menarik yang keluar dari mulut mereka, dan saya tidak bisa melakukannya, saya tidak akan belajar hal itu, saya sudah kecanduan dan saya merekok untuk memuaskan hasrat yang tidak ada namanya, tetapi semua orang menyebutnya candu. Saya tidak merasa nyaman dan akhirnya saya pamit dengan begitu cepat, saya hanya menghabiskan sekitar satu jam saja di rumahnya Anga.
Malam sekitar pukul 19.00 mereka tiba di halte Trans Jogja dibawah jembatan layang arah selatan dekat rel kereta api, aku menjemput mereka, sebelumnya Anjar sudah sms saya, bahwa dia datang bersama teman-temannya; wah gawat kamarku kecil sekali untuk memuat empat orang. Sebelum ke kos, kami mengujungi warung makan yang berseblahan dengan salah satu oraganisasi kiri yang di dalamnya aku kenal satu orang yaitu Pai, dia adalah teman kuliahnya sepupuku dan aku kenal dia di penmas yang diadakan oleh teman-teman pecinta alam di kampus hukum. Pemilik warung itu baik dan gendut. Saya menyuruh mereka untruk makan malam dengan saya tetapi mereka tetap menolak untuk makan, mereka sudah makan di jalan sebelum ke kosku.
Aku makan dan kami membahas emblem, mereka tertarik dengan emblem-embelem yang ada di jaket hitamku, emblem-embelem yang dibuat oleh teman-teman di Institut A. Sesampai di kos aku mebagi-bagikan embelm kepada mereka, mereka memilih, ada yang suka dengan isu lingkungan, ada juga yang suka dengan isu perang; ”semuanya adalah penolakan yang sama, yaitu melawan kapitalisme, biarkan mereka memilih dan berjuang dibidangnya masing-masing,” tertawa tanpa suara dan mengingatkan diri sendiri lagi. Dicky pergi mandi dan yang lainya tidak mau mandi; mereka menyebut Dicky itu wong Wedok dan saya menjadi marah besar, ”bukan hanya perempuan yang butuh mandi, laki-laki juga butuh membersihkan tubuh, lagian disini banyak air dan aku juga banyak sabun di dalam tas mandi, kalian bisa pake sepuasnya.” mereka semuanya diam seketika, tapi dalam keadaan semnuyum-senyum tidak jelas, akhirnya kami tertawa lagi, tertawa tanpa alasan akan lebih membuat tubuh ini sehat dan saya pun tidak mau menolak itu. Sembari tertawa, mereka bilang bawah tubuh mereka anti air, tapi sepertinya tidak si Anjar selalu mandi waktu aku tinggal di rumah omnya yang berdampingan dengan rumahnya. Saya kira, anak ini sudah membohongi dirinya sendiri begitu juga teman-temannya, selain Dicky yang masih menjadi dirinya sendiri, dalam arti masih bepegang teguh pada pendirian awalnya, dia menolak muniman keras, mandi tiga kali sehari dan suka merokok. Aku mulai membereskan kamarku, apakah ini akan memuat empat orang tamu, arghh.. aku bingung. Ok kita keluar cari minuman. Kami jalan menuju Circle key yang ada di Babarsari, kali ini adalah malam minggu dan banyak orang yang melingkari minimarket tersebut, semua orang yang ada tidak memilih tempat yang paling, dipan warna merah yang ada di depannya masih kosong; kami masuk kedalam mini market tersebut, saya bertanya kepada mereka, mereka mau minum apa, mereka masih bingung, kami akan minum beer apa. Tiba-tiba penjaga mini market dantang dan menawarkan bantuannya. “ada yang bissa saya bantu?,” dan menjawabnya “kami bisa memilih beer sendiri!”. Suara ssaya agak tegas dan keras, karena si penjaga pasti takut akalau kami akan mencuru minuman atau makanan yang ada di rak-rak, orang itu meningalkan kami begitu saja. Saya juga tidak butuh minta maaf dari dia, karena minta maaf itu akan lebih memalukan, dia juga disuruh untuk kerja mendukung kapitalisme dan kami membeli untuk memperekuat kapitalisme, jadi kata maaf dalam kontek semcama ini sangat tidak dibutuhkan. Kami ambil dua botol beer Bali hai yang paling murah dibandingkan dengan merek bir lainnya, bintang dan kawan-kawan mahal; diam-diam saya suka bintang, mungkin ini hanya kebiasaan yang membuat aku suka dnegan bintang, saya sering minum bir bintang di surga meces dengan gratis, kadang ada bir hitam juga tapi saya lebih suka yang bintang, ahhh apa lagi yah alasan saya, kenapa saya suka dnegan bir bintang, selain keseringan minum bir bintang, mungkin dulunya itu adalah bir yang selalu ada di dalam kulkas minimarket, selalu ada. Dan rasa bir bintang sedikit sama dengan bir Victorian bitter yang dulu selalu tersedia dalam kulkasnya mana Sophia sewaktu dia masih kerja di kedutaan Australia. Ah.. akhirnya aku kangen masa lalu lagi; yah masa lalu akan selalu indah dibanding masa depan yang tidak pernah ada dan datangnya tiba-tiba saja tapa pemebritahuan bahwa kita sudah ada didalamnya. Yang dilewati selalu yang indah, kenapa yang diotaakku hanya tersimpan memory glamour?. Pada intinya saya hanya mau senang-senang dalam hidup ini. Akhirnya aku pengen menjadi buruh untuk mendapatkan sebotol beer dimalam hari tapi belum tercapai keinginan itu.
Kami minum dua botol beer, kami hendak merokok tapi melupakan korek di kosku, semua orang menaruh koreknya di kosku, terpksa Gary berdiri Dan meminta api pada orang-orang yang duduk disamping kami, saya tidak kenal maraca Dan tidak mau kenal, kenapa yah, kadang-kadang saya memang sangat aneh, kadang susah sekali untuk mengenal orang Dan kadang gampang sekali untuk mengenal orang tanpa paksaan. Kalau dilihat dari masalah koreka ini, seharusnya aku berterima kasih kepda orang yang telah memebrikan korek kepada Gary Karena saya duduuk disamping orang itu, maraca semunya duduk di lantai sekitar 9 orang. Kami berlima diatas kursi di samping maraca, saya, Anjar Dan Dicky duduk diatas kursi, karena kursi tersebut tidak bisa memuat lima orang akhirnya Gary Dan Randi memilih untuk duduk di lantai sampai beer kami habis. Bir yang kami minum tidak enak rasanya, sampai Anga memasukkan abu rokok kedalam botol yang isisnya masih tersisa sedikit bir Dan ia meminumnya sampai habis.
Sembari minum aku bertanya, setelah ini kita kemana Dan maraca bilang, kita jalan-jalan saja sampai pagi, tapi aku memutuskan bagaimana kalau kita temptnya kak Anna saja, akhirnya aku mengirim sms ke nomornya kak Anna akalau kami akan adatang malam ini juga, namun sebelumnya saya sudah sms bahwa saya akan bawa teman-teman dari gunung kidul ini ke surga meces, aku melangar janji Dan memajukannya. Di pertigaan Citroli babarsari ada seorang pengamen yang aku kenal, dia adalah salah satu pengamen yang sepertinya terpaksa, dulunya dia menjual nasi kucing di sebelah gang yang menuju ke kosku, saya sudah sering ketemu dia, kami selalu saling menyapa, seperti teman dekat, tapi saya tidak tahu namanya, kami belum pernah kenalan, saya bertemu dengan beliau ketika masih jual angkringan Dan kami mulai ngobrol tanpa perkenalan terlebih dahulu. Saya bersalaman dengan beliau Dan seperti biasanya, basa basi sedikit dulu sebelum melanjutkan perjalanan. Aneh sekali, si Gary salam dan mencium tanganya, apakah mereka sudah saling kenal, gary memangilnya om. Tapi yang pastinya mereka belum saling kenal ini hanyalah kebiasaan kultur yang belum terhapus dari kebanyak otak-otak anak jalanan di Jawa khususnya. Kami melewati tenda-tenda yang di penuhi manusia yang sednag menyantamp makan malam mereka di tengah kebisingan, tiba-tiba Gary memberhentikan sebuah mobil pick up dan mereka mulai lari mengejar mobil itu sampai berhenti di lampu merah, kami naik mobil tersebut sampai di salah satu daerha setelah condong catur tapi bukan minomartani, mobil itu berhenti karena sudah sampai ditempat tujuannya, kamu harus jalan sekitar dua kilo meter dari tempat pemberhentian kami, lalu kami mulai jalan menuju jalan raya umum, selama di jalan kami tidak merokok, tapi kemudian saya pergi ke satu-satunya warung yang masih dibuka sepanjang jalan, saya masuk beli korek dan bertanya, kepada mbak pemilik warung, “mbak jalan ini arahnya kemana ya?” , dia menjawab “ke arah Jakal, mas” kata penjual itu dan aku bertanya lagi “tembusnya di jakal km berapa?” tersu dia jawab lagi, “km 9.5” dengan senang hati saya mengucapkan “terima kasih mbak.” Kami merokok dan jalan lagi, mereka selalu berada di belakang saya, aku jalan terlalu cepat, belum terbiasa jalan rame-rame dan jalan pelan-pelan, biasanya jalan sendiri dan selalu cepat melangkahkan kaki.
Kami sampai di pertigaan yang ada kuburan, saya sangat hafal daerah ini sehingga saya menjadi marah ketika Anjar mempertanyakan berulang kali kalau kami tidak salah jalan. Dia membuat saya bentak-bentak kayak orang gila. Kami masuk ke angkringan yang ada di sampinganya dan meminum teh dan kopi, sebelum berangkat saya telpon nomornya kak Anna tapi kali ini kak Arfi yang angkat, saya menjelaskan kalau malam ini kami ke surga meces, namun sebelumnya saya sudah sms kak Anna dan akmi berangkat kesana besok pagi. Kak Arfi tidak menolak kedatangan kami, akhirnya kami berangkat, namun sebelumnya saya membayar minuman kami.
Dipertigaan jakal km 9.5; Gary memberhentikan satu mobil pick up, dan kami bergegas-gegas untuk naik; saya mulai terharu dengan keberanian anak-anak ini, mereka terlalu berani untuk memebrhentikan mobil-mobil yang lewat tanpa diknelai oleh supirnya dan mereka selalu berhasil melakukanya, saya dan Nina, salah satu temanku dari Denmark pernah melakukan hal semacam itu, menyuruh truck untuk berhenti di jalan tapi sama sekali tidak berhasil. Kami sangat beruntung, mobilnya sampai berhenti di jalan masuk kepek arah barat samping masjid bergapura hijau musa. Ketika turun saya cek kantong saya, ternayat rokok yang tadi ssaya beli di CK sudah jatuh, tidak tahu rokok di kantong jaketku itu jatuh. Salah satu penyesalan yang terdalam, surga meces dingin dan kami butuh rokok, kami jalan melewati air yang telah membanjiri jalan, sesampai di surga meces, mereka berempat ketakutan anjing, mereka meminta ampun ”kami celeng..ihhhh” suara merka mengigil, anak-anak ini luar biasa, mereka bisa memebrehentikan truck-truck besar yang melaju dengan kencang tetapi taku sama anjing-anjing tuyul dan panjang kayak sosis. Akhirnya saya mengamuk sekali lagi, ”kalian jangan takut anjing-anjing ini, mereka tidak mengigit, cuman gong-gong saja. Mereka naik ke balkon dan kak Anna menyuruh kami turun semua, dan masuk kedalam lumbung padi, mereka sudah diatas dan sekarang takut untuk turun lagi, akhirnya kami mengending anjing-anjing itu, aku mengdengong anjing yang masih kecil, kaka Anna dan kak Arfi mengendong yang lainnya, Dian dan dama menjaga dua anjing yang ada dibawah balkon. Mereka turun dam masuk kedalam lumbung padi dan menutup pintunya, hanya kepala mereka yang nongol dibalik daun pintu yang pendek tidak sampai satu meret itu dan dilatar belakangi oleh korden dari kain lurik sehingga mereka tampak lucu sekali, kayak wayang-wayang kecil yang didalangi oleh dalang yang pura-pura takut anjing. Kaka Anna menyuruhku untuk menemani mereka di lumbung padi, saya masuk kedalam lumbung padi dan akhirnya kami memutuskan untuk beli ciu malam ini juga, sementara di luar sana lagu-lagu dangdut koplo mengema, tadi membuat saya kaget pas turun dari mobil pick up terserbut, saya, Anjar dan Dicky pergi beli ciu di tempatnya bu Endang, kali ini ada dua motor terdiri dari empat orang, mereka juga beli ciu, aku tanya kepada bu Endang; ”bu, ciunya masih ada?” ”iya masih, berapa botol?” dia mengambil dua botol ciu yang harganya sepuluh ribu, tapi kemudian aku tanya lagi, karena aku bingung, ”biasanya kak Anna dan kak Arfi beli ciu campuranya apa?” ibu Endang kaget, biasnaya kalo mas Arfi beli yang lima belas ribu dan campuranya greesand”
Kami membawa dua botol ciu dan satu kaleng greensand, Anjar mengelu di jalan yang sangat gelap, dia bertanya tapi kedengaranya bukan pertanyaan jadi tidak perlu di jawab, di bilang kayak gini, “ini kali atau jalan, bro?”. saya hanya diam saja dan tidak menjawabnya sama sekali. Kami tiba kembali di surga meces, Dicky dan Anjar sudah tidak takut dengan anjing-anjing yang masih gon’-gong. Mereka masuk kedalam lumbung padi dan aku ke dapur untuk membawa gelas dan cangkir teh untuk mencampur ciu dan greensand.
Kami minum dan tidak lama kemudian Anjar sudah mabuk berat, dia mulai melucu tapi saya khawatir sambil menahan tertawa, orang tuanya marah kalau saya mengajak dia minum minuman beralkohol. Dicky dalam keadaan sehat-sehat saja sehingga aku menyuruh dia untuk menjaga teman-teman yang sudah mabuk, mereka mulai muntah-muntah sementara ciu masih tersisa satu botol. Awalnya saya kira mereka adalah peminum berat sehingga menyuruh saya untuk mencari ciu dan saya tidak tahu tempat jual ciu di jogja makanya saya ajak mereka ke surga meces dan di surga meces, saya tahu di tempatnya ibu Endang ada ciu yang rasanya lumayan membakar usus-usus manusia. Bagi yang sudah minum ciu, tidak akan khawatir untuk mati lagi, karena ciu menurut rumor di kalangan akademisi, ciu terbuat dari berbagai macam obat, salah satunya adalah obat nyamuk, jadi ciu tidak ada bedanya dengan lapen, kata temanku yang menjadi presidenku yang kini aku tidak tahu kabarnya, selama liburan ini aku dan Angga (Angga BEM) yang selalu berjumpa untuk merapatkan kegiatan kami, sementara dari bagian pengurusan bem yang lain tak ada satu pun yang ada. Akhir-akhir ini kami selalu bertemu untuk mencari dana untuk having fun dengan anak-anak yatim paitu.
Anga tidur bersama sebagian bantal di dalam lumbung padi, sementara kami hanya memakai satu bantal di bawah masing-masing kepala. Tidak tahu, sejak kapan kami tidur, sementara ciu dan gelas-gelas masih berantakan di lanatai. Kami melanjutkan ritual minum setelah sarapan pagi, akhirnya kami menghabiskan ciu di minggu pagi dan kami tidur lagi, bangun siang dan mengajak Iilu main di jalan dan dia mulai menarik-narik tanganku supaya saya membawa dia ke rumahnya pak Sus, agar dia bisa melihat angsa-angsa, tetapi kali ini saya tidak bisa membawanya ke kandang angsa, saya memegang tangan Illu dan kami mengejar bebek-bebek yang ada di pingir kali, kemudian bebek-bebek itu masuk kedalam huta, illu menarik tanganku untuk masuk hutan tetapi saya memarahinya dan dia sadar kalau aku marah, di hutan banyak nyamuk. Kami balik ke tumpukan galian pasir endapan leutas merapi yang tergali di pingir kali, bukit-bukit itu tampaknya tempat yang sangat tinggi buat orang seusia Illu yang baru 1 tahun. Dia senang mendaki tumpukan-tumpukan pasir yang di kumpulkan oleh para pekerja di pingir kali, saat ini mereka tidak ada karena ada acara mantenan di sekitar rumah pak Sus, mungkin tidak ada kerja karena ada acara mantenan, kalau mereka tetap kerja akan sangat mengangu, mungkin truck tidak bisa lewat karena banyak tamu undangan yang ikut ke pesta tersebut.
Dama menyukai Dicky dan Anjar tetapi kedua anak itu tampaknya masih pemalu, tetapi ketika melacak usia kedua temanku itu teranyata Dama tidak suak dengan orang-orang yang berada dibawah umurnya sendiri, kemudian Dama bilang kalau teman-temanku itu masih kimcil-kimcil. Dama juga cerita kesana kalau dia baru putus dengan pacaranya yang punya bengkel, mereka putus pada hari kamis, dan kami datang pada malam minggu, mungkin ini yang membuat Dama suka dengan kedua anak yang disebutnya masih kimcil-kimcil. Aku memperkenalkan Dama dnegan Dicky, karena pengalaman hidup mereka sama, dama juga dari keluarga yang broken home begitu pula Dicky, tujuan saya adalah hanya untuk mendekatkan mereka buka untuk makcomblang karena itu bukan profesi saya. Lagian mereka masih sangat kecil-kecil, kalo ada apa-apa pasti pusing. Tapi tidak akan apa-apa kalau mereka saling suka, mungkin mereka harus diperkenalkan kondom terlebih dahulu agar mereka tidak menciptakan manusia-manusia baru sementara hidup mereka juga masih tergantung pada orang lain seperti saya yang masih mengantungkan hidup saya ditangan para donatur yang sekaligus kakakku, Jerry adalah kakakku namun kami hanya kebetulan terlahir dari satu rahim, intinya siapa saja bisa jadi saudara dan saudara kapan saja bisa jadi musuh, tapi alangkah baiknya saya tidak mau punya musuh dalam hidup ini, bukan karena takut dosa tetapi karena saya tidak bisa berkelahi, sata hanya bisa membunuh kalau terpaksa, begitulah mental-mental para korban bullying di masa kanak-kanak. Jangan pernah fikir bahwa orang-orang yang kamu kira takut dengan kamu adalah benar-benar takut, untuk tidak berkelahi agar tetap manusiawi, tetapi manusia pada umumnya tida seutuhnya manusia, siapa saja bisa jadi singa atau macan yang bisa memakan hewan-hewan lain.
Kami balik ke kos hari senin pagi, kami menumpangi truck yang berisi pasir dari kali dan berganti truck di salah satu pertigaan di jakal, kami menunggu kendaraan lain di lampu merah, teman-teman mulai mencari puntung-puntung rokok, aku masih bisa jaim dan menolak hasil pencarian mereka. Tidak lama kemudian ada satu truck kuning yang muncul, isinya penih dengan pasir tapi di atasnya terdapat 4 roda mobil, kami duduk diatasnya, dan angin menium kami, aku teringat kembali kampung halaman, di kampung halalamku, di musim panen jagung, banyak orang yang sudak duduk diatas tumpukan kayu yang ditata rapi di dalam truck. Sayang sekali, saya tidak punya kamera untuk mengabadikan kebersamaan kami yang sangta kocak, awalnya aku merasa tidak cocok dengan mereka tetapi banyak truck yang kami tumpangi akhirnya aku menjadi sadar bahwa anak-anak ini memang sangat luar biasa, mereka tidak kenal malu dan tidak takut mati di jalanan. Mereka suka hidup di jalan, orang tua mereka sangat baik hati, apa yang salah dengan semuanya, apakah ini cuman gaya hidup, tapi gaya hidup yang tidak punya arti kalau tidak melawan siapa pun. Saya akan tanya ke mereka, kenapa mereka suka di jalan sampai mengamen, mereka punya banyak makanan di rumah, arghhh aku bingung.
Kami turun di lampu merah UPN ring road utara, lalu kami jalan melewati dua circle key, saya pengen beli bir tetapi mereka bilang tidak usah, lalu saya tanya ke mereka lagi, apakah mereka mau makan atau mau minum bir, dan mereka menjwab, makan saja. Baik, kali ini kami makan nasi kucing di daerah belakang kampus UPN pusat. Mereka hanya makan satu bungkus, aku menyuruh mereka untuk menambahkan tetapi mereka malu, hal ini beda, ketika di rumah surga meces, pas malam terakhir, mereka makan banyak sekali dan hampir menghambiskan sambal tomat sementara Dian dan Dama belum makan, sebenarnya Dama dan Dian tidak apa-apa tetapi saya yang menjadi malu karena saya yang membawa mereka. Tapi khirnya semuanya lancara kembali, Dian membagi rokok dengan kami, rokoknya tinggal dua batang tetapi yang satu buat kami berdua saja, sementara satu buat mereka berempat, mungkin dian juga bisa joyn satu batang dengan mereka tapi sepertinya alasan keakraban yang belum kental diantara mereka. Aku menjadi perantara yang bego dalam urusan mengatur, sebenrnya aku harus bilang mereka makan sedikit agar semua orang dapat bagian yang sama, tapi aku juga tidak bisa mengatakan apa-apa karena di Kepek, di kampung mereka orang tua mereka menerima saya dengan sangat baik dan mereka menediakan banyak makanan untu saya, hampir 24 jam kerjaan saya cuman makan saja. Tetapi seharusnya saya sadar juga kalau di kepek mereka memberikan banyak makanan karena mereka punya semuanya, sementara di surga meces, lagi apes, tidak ada sayuran selama dua malam nginap.
Kami tiba dokosku sekitar jam 8.30, salah satu teman kosku mememlihara anjing, anjingnya masih kecil tanpa nama, dia berak di depan pintuku, tetapi hampir depan semua pintu ada tahinya dan juga air seninnya, kos kini didominasi bau pesing anjing, Dicky dan Anjar menginjak tahi di pintu utama, aku menyuruh mereka untuk cuci kaki sebelum masuk kedalam kamarku, Dicky kemudian pergi mandi, dan anak-anak lain mulai mengejeknya lagi, saya punya rencana untuk memberikan peringatan yang agak keras dan panas ditelinga mereka, tapi saya belum bisa janji kapan saya bisa melakukannya. Mereka bertiga tidak mandi dan tetap berpegang teguh pada pendirian mereka, saya kira mereka akan menghabiskan waktu mereka di kamar mandi dirumahnya masing-masing karena air terasa sangat nikmat ditubuh, kulit mereka mungkin akan merasakan kenikmatan selama beberapa hari tidak tersentuh oleh air. Aku mengambil receh-receh didalam toples biskuit, kuberikan kepada mereka untuk membeli rokok di jalan menuju kepek, mereka mau ngamen di jalan dan aku menyuruh jangan mengamen, tapi saya tidak tahu, apakah mereka tetap mengamen di jalan. Kenapa mereka terlalu berani untuk minta duit di jalan terhadap orang-orang yang mereka tidak kenal, sementara orang tua mereka punya kendaraan motor, mereka tidak takut kalau sampai orang tua mereka lihat mereka di jalanan sambil mengamen. Saya yakin pasti orang mereka akan malu dan sangat marah karena mereka masih mampu untuk memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari. Alas kenapa mereka mengamen di jalan adalah, hanya untuk beli rokok, karena mereka tidak mungkin minta duit orang tuanya untuk beli rokok, mereka tida k tega melakukan hal itu, dengan demikian mereka bersusah payah untuk mendapat duit sendiri dan membelanjakanya. Aku ingat, dulu aku sering minta duit ibuku untuk beli rokok, dan aku juga anggap hal itu biasa saja, tetapi lain sekali dengan anak-anak ini, mereka terlalu menghormati orang tuanya hingga takut dan tidak bisa minta apa yang ada di luar aturan, merokok kerja sendiri baru dapat rokok, mereka mau kerja dimana sementara mereka sudah ketagihan dengan puntung-puntung rokok di jalanan, maka mereka berusaha keras untuk mendapatkan rokok yang utuh dan menikmatinya, rasanya akan sangat luar biasa, aku pernah melihat anak-anak di jalanan sebelum saya ke jalanan bersama teman-teman dari kepek kali ini, aku melihat anak-anak jalanan di sekitar KFC dekat bundaran UGM depan Mirota kampus; anak-anak itu join’ satu batang rokok, dan mereka manriknya sedam-dalamnya dan perlahan sekali untuk mengeluarkan asapnya, ini sama halnya ganja yang sangat mahala di kalangan anak-anak yang berekonomi menengah ke atas bukan uper-uper; mereka menghisap rokok murahan itu dengan bergatian, dari satu mulut ke mulut lain dan sapanya lamabat sekali hinga berkali-kali ditiupkan keudara yang tampak kososng tapi disini dengan kotoran kendaraan kota. Merokok di kampung dan merokok di kota sangatlah berbeda rasanya, dan merokokd di pingir jalan yang banyak kendaraan tua yang mengeluarkan banyak asap kayak mengusir nyamuk rasanya kepengen muntah dan menjadi orang tolol ditengah keramaian kalo disana tidak ada yang merokok dan semua mata terheran-heran melihat kearamu, kamu merokok dan asap kendaraan itu lebih dahsyat dari asap rokokmu, mending hirup saja udara yang sudah tercemar dari pada buang-buang duit untuk membeli rokok dan menghisapnya di jalanan yang tidak ada rasa kenikmatanya sama sekali, maksud saya jalanan yang penuh dengan asap dari mobil tua.
AKHIRNYA
Aku berhasil meloloskan diri dari cengkeraman moral yang tak terduga dan sesekali menyakitkan hati; teman-teman calon anak jalanan ini telah menyelamatkan aku dari sebuah acara yang saya tidak mau ikut tetapi membuat saya menjadi dilema, karena. Orang yang berpengaruh besar dalam keluarga kami terutama di dunia pendidikan, kini dia hadir di acara wisudnya keponakanku, dia adalah om kami, tapi saya selalu tidak merasa nyaman dengan dia, entah samapai kapan pun, saya tidak tahu. Dia orang yang sangat baik hati tapi sekaligus mematikan karakter orang, akan lebih baiknya aku sebut saja pembunuhan karakter. Saya sudah sering terlalu jujur didepannya, bahwa saya tidak bisa di ilmu hitung-hitungan yang dipakai dalam dunia sosial yakni Statistik, saya ambil jurusan Sosiologi, saya tidak bisa lulus kalau satu mata kuliah itu masih jelek. Akhirnya saya akan menjadi bisu dalam kemarahan terhadap diri sendir, ”kenapa saya tidak pinter di bidang menghitung?, arghh.. kenapa hidup ini harus ada hitungan?. Oops teman-teman saya ini menamakan diri the Oi, salah satu aliran punk yang suka main di jalan, pantasan teman saya, si Gary mantab sekali memberhentikan truck-truck gede di tengah jalan maupun di sekitar lampu merah, tapi saya belum tau apakah mereka sudah pernah berbuat onar, dan satu lagi tindakan mereka yang kelihatan masih terpenjara dengan kultur, ternyata tidak, karena ada juga scum punk yakni satu aliran punk yang mengutamakan moral, apakah moral bisa dilihat sebagai cara pembodohan manusia, ataukah perlu etika untuk mengkritiknya, coba lihat temanku masih mencium tangan temanku yang dia tidak kenal sama sekali. Mungkin Dicky bisa disebut sebagai scum punk karena dia tidak mengkonsumsi zat-zat yang dapat merusak tubuh, dia juga jaga jebersihan tubuh, sering mandi, dll. kecuali rokok dan aku apa yah, arggghhh sepertinya, cocok di queer core, tapi apakah di indonesia ada aliran punk queer core, humm queer core terbentuk satu tahun kemudian saya lahir, berati usianya baru 26 tahun, masih sangat muda!.
Saya menjadi penasaran karena hampir sama PUNK dan Anarchy, semuanya hanya di dominasi oleh para kaum hetero yang kadang fascism dan para homoseks semuanya terjun kedalam LGBTIquestioning yang semuanya tunduk pada negara dan meminta-minta hak kayak pengemis di jalanan terhadap pemerintahan, karena menurut saya dan menurut para kaum anarchy queer, sex tidak perlu diarur oleh negara.